Refleksi Hari Kartini: Perjuangan Emansipasi dan PR Kesetaraan Gender di Indonesia

Ficky Ramadhan
22/4/2026 20:31
Refleksi Hari Kartini: Perjuangan Emansipasi dan PR Kesetaraan Gender di Indonesia
Wardiman Djojonegoro(Tangkapan layar YouTube.)

PERINGATAN Hari Kartini kembali menjadi momentum refleksi terhadap perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Semangat yang dahulu diperjuangkan oleh R.A. Kartini kini berkembang seiring tuntutan kesetaraan gender di tingkat global.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1993–1998, Wardiman Djojonegoro menjelaskan bahwa makna emansipasi pada masa awal tidak dimaknai sebagai perlawanan terhadap adat, melainkan sebagai upaya meningkatkan harkat perempuan melalui pendidikan.

"Emansipasi pada waktu itu di mata Kartini adalah meningkatkan harkat perempuan Indonesia. Dengan apa? Tidak dengan melawan adat yang ketat, tetapi dengan membantu mendirikan sekolah perempuan," kata Wardiman dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (22/4).

Menurut Wardiman, perjuangan tersebut sempat menghadapi berbagai hambatan sosial, termasuk pembatasan interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam dunia pendidikan. Namun, langkah mendirikan sekolah perempuan menjadi tonggak penting dalam membuka akses pendidikan bagi kaum perempuan di masa itu.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa konsep emansipasi saat ini telah berkembang mengikuti standar internasional. Mengacu pada indikator yang digunakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) terdapat empat aspek utama dalam mengukur kesetaraan gender, yaitu partisipasi perempuan dalam ekonomi, keterlibatan dalam politik, kualitas pembangunan manusia (kesehatan dan pendidikan), serta partisipasi dalam dunia kerja.

"Kalau kita lihat sekarang kesetaraan gender di internasional yang dihitung oleh UNDP, maka ada empat kriteria, partisipasi perempuan dalam perekonomian, penentuan politik, human resource development, dan partisipasi di dunia kerja," ujarnya.

Wardiman menilai posisi Indonesia masih berada pada tingkat menengah dalam pencapaian kesetaraan gender. Ia menyebutkan bahwa capaian indeks masih di bawah angka ideal dan perlu dikejar melalui berbagai kebijakan dan peningkatan partisipasi perempuan.

"Indonesia masih banyak harus mengejar, karena kira-kira baru di tengah. Belum sampai 0,6," jelasnya.

Dalam praktiknya, kesenjangan masih terlihat jelas. Partisipasi perempuan dalam dunia kerja baru mencapai sekitar 70 persen dibandingkan laki-laki. Selain itu, rata-rata pendapatan perempuan juga masih berada di kisaran 70 persen dari pendapatan laki-laki.

Di sektor pendidikan, meskipun angka partisipasi perempuan telah menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan tetap ada. Wardiman menyoroti bahwa rata-rata tingkat pendidikan perempuan di Indonesia masih berada di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), serta adanya ketimpangan dalam pemilihan bidang studi tertentu.

"Meskipun angka pendidikan untuk perempuan di Indonesia sudah cukup bagus, 50 persen, tetapi masih perlu banyak yang harus dilakukan. Rata-rata pendidikan perempuan itu belum tinggi, masih SMP," ucapnya.

Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga sarana untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya pendidikan dan partisipasi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan.

"Bahan-bahan inilah yang nanti perlu untuk mengisi peringatan Hari Kartini di tahun-tahun yang akan datang," tuturnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya