Hari Kartini 2026 Momentum Menurunkan Kematian Ibu dan Anak

M Iqbal Al Machmudi
21/4/2026 20:38
Hari Kartini 2026 Momentum Menurunkan Kematian Ibu dan Anak
Petugas kesehatan mengoperasikan peralatan Ultrasonografi (USG) Fetomaternal di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), Banda Aceh, Aceh, Senin (19/5/2025).(ANTARA/AMPELSA)

HARI Kartini 2026 menjadi momentum untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, mengingat angka kematian ibu dan anak masih tinggi di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mencatat, Angka Kematian Ibu (AKI) masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. 

Di sisi lain, setiap tahun, lebih dari 36 ribu kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21 ribu kematian (setara satu perempuan meninggal setiap 25 menit). Kondisi ini semakin diperparah oleh berbagai

AKI dan beban penyakit yang mengancam perempuan Indonesia masih tinggi. Setiap hari, rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas (setara satu ibu setiap jam), sementara ribuan lainnya kehilangan nyawa akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan dideteksi lebih dini.

Ketua Umum PP POGI, Budi Wiweko, menjelaskan SPRIN mengusung 10 fokus utama antara lain skrining DNA HPV & Vaksinasi HPV Massal, edukasi kesehatan reproduksi remaja dan dewasa, suplemen MN bagi semua ibu hamil, program rencanakan dan kawal kehamilan Indonesia, skrining Hb dan zat besi ibu hamil.

Kemudian, cek kesehatan perempuan menopause, podcast Kesehatan reproduksi, SPRIN certified mutu layanan kesehatan reproduksi, pendidikan kader SPRIN, serta finansial sehat untuk reproduksi sehat.

"Fokus utama memberikan suplementasi multiple micronutrients bagi semua perempuan di Indonesia. Yang kedua adalah merencanakan kehamilan, mengawal kehamilan sampai dengan persalinan dengan selamat," kata Budi dalam konferensi pers SPRIN Kartini Day 2026 di Jakarta, Selasa (21/4).

"Dan yang ketiga adalah vaksinasi dan screening, vaksinasi HPV dan screening untuk cancer service," sambungnya.

Oleh karena itu POGI menggaungkan gerakan SPRIN untuk berkembang menjadi gerakan nasional.
 
Budi menjelaskan tanpa ada kolaborasi lintas sektoral, kolaborasi pentaheliks, melibatkan semua stakeholder termasuk swasta, kemudian industri, akademisi, pemerintah tentunya, maka gerakan SPRIN tidak akan sulit untuk menurunkan kematian ibu, kematian bayi, stunting, dan menurunkan kanker serviks.

"Kita sudah mulai engagement dengan semua stakeholder, mulai dari Kemenpppa, Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, bidan, perawat, industri, pharmaceutical company, industri alat, kemudian pemerintah daerah," ungkapnya.

Ia berharap gerakan SPRIN bisa diwakafkan kepada masyarakat dan peran pemerintah bisa menjadi pemimpin yang sangat kuat dalam gerakan SPRIN. POGI juga berkomitmen akan mengawal sampai ke titik yang paling rendah yaitu keluarga. (H-2)
 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya