InnoVocation Lab Bangun Innovation Mindset Siswa SMKN 25 Jakarta Melalui Workshop Design Thinking

Rahmatul Fajri
20/4/2026 15:13
InnoVocation Lab Bangun Innovation Mindset Siswa SMKN 25 Jakarta Melalui  Workshop Design Thinking
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Innovesia, perusahaan konsultan inovasi yang berpengalaman dalam pengembangan SDM dan Design Thinking, berkolaborasi dengan Insightika, sebuah laboratorium insight berbasis komunitas bagi generasi muda, sukses menggelar InnoVocation Lab perdana di SMK Negeri 25 Jakarta, pada Kamis (2/4/2026). Gelaran perdana InnoVoccation Lab menjadi langkah nyata membangun pola pikir inovatif di kalangan pelajar SMK melalui pendekatan Design Thinking. 

InnoVocation Lab merupakan program yang dirancang untuk mengakselerasi transformasi vokasi di Indonesia melalui workshop berbasis Design Thinking, guna membantu pelajar memahami masalah nyata, mengembangkan solusi berbasis empati, serta memperkuat kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Innovesia dan Insightika meyakini bahwa sekolah dapat menjadi ruang lahirnya ide-ide segar dan generasi muda yang mampu membawa perubahan.

Program ini menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya teoritis, tetapi juga mendorong siswa memahami persoalan nyata di lingkungan mereka, berkolaborasi lintas jurusan, serta merancang solusi yang relevan dan aplikatif. 

Dalam workshop intensif satu hari, siswa diajak memahami tahapan Design Thinking yang menekankan empati, eksplorasi, ideasi, hingga prototyping sebagai inti proses berinovasi. Founder Innovesia, Fiter Bagus Cahyono, mengatakan bahwa Design Thinking menjadi pendekatan yang relevan untuk membantu pelajar melihat masalah secara lebih dekat, lalu mengubahnya menjadi solusi yang dapat diuji secara nyata.

“Design Thinking bukan hanya soal menciptakan ide yang terlihat kreatif, tetapi tentang bagaimana siswa belajar memahami masalah secara utuh, berempati terhadap lingkungan sekitarnya, lalu merancang solusi yang benar-benar relevan dan bisa diterapkan. Di titik itulah innovation mindset mulai terbentuk,” ujar Fiter Bagus. 

Ia menambahkan, sekolah perlu menjadi ruang yang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membiasakan siswa untuk berpikir solutif, kolaboratif, dan berani bereksperimen terhadap tantangan yang mereka temui sehari-hari. 

“Kami ingin siswa SMK tidak hanya siap masuk dunia kerja, tetapi juga siap menjadi problem solver. Ketika mereka terbiasa melihat masalah sebagai peluang untuk menciptakan solusi, di situlah pendidikan mulai menghasilkan inovator,” lanjut Fiter Bagus.

Dalam pelaksanaannya, siswa dibimbing untuk mengidentifikasi masalah di lingkungan sekolah, memahami akar persoalan, hingga menyusun dan mempresentasikan solusi dalam bentuk prototype. Melalui pembekalan Design Thinking, siswa diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan ide, tetapi juga membangun keberanian untuk melihat masalah sebagai peluang inovasi serta membiasakan diri berpikir solutif terhadap tantangan di lingkungan sekitar. 

Hasilnya, hanya dari satu kali pelaksanaan workshop, peserta berhasil melahirkan 10 karya ide inovasi dari 10 kelompok siswa. Capaian ini menunjukkan bahwa InnoVocation Lab tidak hanya berjalan sebagai sesi diskusi atau pelatihan semata, tetapi mampu mendorong siswa untuk berpikir problem-solving dan menuangkan solusi atas persoalan yang benar-benar mereka hadapi di sekolah.

Prototype pertama adalah Future Money, berupa aplikasi yang dirancang untuk membantu kegiatan ekstrakurikuler memperoleh dukungan pendanaan agar lebih mandiri secara finansial dan mampu mendukung kebutuhan program maupun perlombaan. Prototype kedua, Wastaclean, berupa saringan penyaring sampah pada saluran wastafel untuk mencegah penyumbatan, menjaga kebersihan area wastafel, dan membuat pengelolaan sampah menjadi lebih efektif. Prototype ketiga adalah 25 Ebook, berupa aplikasi pembelajaran yang berisi materi, kisi-kisi, LKS, dan e-book bagi siswa maupun guru untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di sekolah. Prototype keempat, Robotong, sebuah tempat sampah dengan sensor otomatis yang dapat membuka tutup tanpa sentuhan guna meningkatkan kebersihan dan mendorong kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Prototype kelima yakni Bank Sampah (QR System), sebuah sistem yang memungkinkan siswa mengumpulkan sampah dan menukarkannya melalui mekanisme QR Code. Dengan begitu proses transaksi menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien. Prototype keenam adalah Kelas Sejuk, berupa inisiatif urun dana siswa untuk penambahan dan perbaikan kipas angin di ruang kelas guna mengatasi kondisi panas, sehingga dapat meningkatkan kenyamanan dan konsentrasi belajar.

Prototype ketujuh adalah Redesign Canteen, yakni penataan ulang area kantin dengan memanfaatkan lahan parkir motor yang jarang digunakan agar dapat mengurangi penumpukan siswa saat jam istirahat. Prototype kedelapan adalah DULIM (Dinamika Urutan Layanan Istirahat MBG), berupa pengaturan alur pengambilan MBG melalui penambahan jalur antre, pengaturan antrian bertahap per kloter, serta penyesuaian waktu istirahat agar proses distribusi menjadi lebih efisien.

Prototype kesembilan adalah SI GANCAR, berupa sistem pengelolaan air melalui pemasangan filter, pengecekan mesin secara rutin, serta edukasi hemat air guna mendukung kebutuhan air di lingkungan sekolah secara lebih berkelanjutan. 

Terakhir, prototype kesepuluh adalah Flow Istirahat & Galon Cuci Tangan Portable, yang mencakup pembagian kloter jam istirahat dan sholat per angkatan, serta penyediaan galon cuci tangan portable untuk mengurangi antrian akses air saat jam-jam istirahat. Wakil Kepala SMKN 25 Jakarta Bidang Humas, Sri Muji Rahayu, menyambut positif pelaksanaan program InnoVocation Lab karena dinilai memberi ruang baru bagi siswa untuk belajar dari persoalan nyata di lingkungan sekolah.

“Program seperti ini sangat baik karena siswa tidak hanya diajak berpikir kreatif, tetapi juga dilatih untuk peka terhadap persoalan di sekitar mereka. Mereka belajar bahwa ide inovasi bisa lahir dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari di sekolah,” ujar Sri Muji Rahayu. 

InnoVocation Lab akan dilaksanakan secara seasonal, di mana setiap season terdiri dari 10 sekolah yang berpartisipasi. Sebagai bagian dari pengembangan program, satu karya inovasi terbaik dari setiap sekolah akan dipilih dengan predikat Best School Innovator. 

Selanjutnya, seluruh pemenang akan dipertemukan dalam InnoVocation Lab Seasonal Award, yang menampilkan 10 karya inovasi terbaik dan akan dipilih tiga pemenang dalam kategori Best Product Innovation, Best Pitch Delivery, dan Sponsor’s Choice Award. Melalui format ini, InnoVocation Lab diharapkan menjadi ruang pembelajaran berkelanjutan yang mendorong lahirnya pelajar yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu berpikir solutif dan menciptakan inovasi. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya