Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
OLAHRAGA lari kian digemari masyarakat urban, namun risiko cedera tetap mengintai jika tidak dilakukan dengan perhitungan yang tepat. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, mengungkapkan bahwa cedera pada pelari umumnya terjadi pada kaki akibat beban kerja yang berlebihan.
Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam jurnal Sports Medicine (2014), jenis cedera yang paling mendominasi adalah overuse injury atau cedera berlebihan. Berbeda dengan trauma (seperti keseleo) yang terjadi seketika, overuse injury muncul dari akumulasi mikrotrauma akibat gerakan repetitif dan ketegangan tulang yang terus-menerus.
Berikut adalah lima jenis cedera yang paling sering ditemui menurut penjelasan dr. Andi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO):
Cedera ini ditandai dengan rasa sakit di bagian depan atau sekitar tempurung lutut. Penyebab utamanya adalah jarak tempuh mingguan (mileage) yang terlalu tinggi, otot paha depan yang kaku, otot bokong (glutes) yang lemah, serta sering berlari di permukaan yang keras.
Kondisi ini menyebabkan nyeri tajam pada tulang tumit, baik di bagian bawah maupun belakang. Faktor pemicunya meliputi berat badan berlebih (overweight), otot betis yang kaku, telapak kaki datar (flat foot), hingga kelemahan pada otot hamstring.
Nyeri pada tulang kering bagian depan ini sering dialami oleh pelari yang mendarat dengan tumit (heel strike). Selain itu, shin splint dipicu oleh kelemahan sendi pergelangan kaki, otot tibialis anterior yang lemah, serta sering melakukan lari di medan menurun (downhill).
ITBS menimbulkan nyeri di sisi luar lutut. Hal ini biasanya terjadi karena intensitas lari yang ditingkatkan terlalu cepat, kurang pemanasan, otot bokong lemah, atau adanya perbedaan panjang tungkai antara kaki kanan dan kiri.
Cedera ini menyerang tendon besar di belakang tumit atau otot betis bagian bawah. Penyebab utamanya adalah kekakuan pada otot betis dan peningkatan jarak lari mingguan yang drastis tanpa adaptasi yang cukup.
Untuk menghindari risiko cedera, dr. Andi menyarankan penerapan "Hukum 10 Persen". Artinya, peningkatan total jarak tempuh (weekly mileage) tidak boleh melebihi 10 persen dari minggu sebelumnya. Jika minggu ini Anda menempuh total 25 km, maka minggu depan maksimal jarak yang disarankan adalah 27,5 km.
Dengan memahami batasan tubuh dan memperhatikan teknik serta kekuatan otot pendukung, risiko cedera dapat diminimalisasi sehingga aktivitas lari tetap memberikan manfaat kesehatan yang optimal. (Ant/H-3)
Seiring menguatnya tren tersebut, sejumlah perusahaan mulai mengintegrasikan strategi pemasaran dengan aktivitas olahraga berbasis komunitas.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Zeth Boroh mengungkap faktor pemicu cedera pada pelari, mulai dari salah pilih sepatu hingga anatomi kaki.
Ajang Lari The Ultimate 10K Series Siap Digelar di Empat Kota
Perkembangan tren lari di Indonesia ditopang oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hidup sehat, maraknya event lari, serta tumbuhnya komunitas pelari di berbagai kota.
ANTUSIASME masyarakat Indonesia terhadap olahraga lari tampaknya setiap tahun terus meningkat. Setiap gelaran fun run hingga maraton selalu ramai peminat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved