Waspada! Ini Faktor Penyebab Cedera pada Pelari Menurut Pakar Kesehatan

Putri Rosmalia Octaviyani
18/4/2026 17:35
Waspada! Ini Faktor Penyebab Cedera pada Pelari Menurut Pakar Kesehatan
Ilustrasi pelari.(Dok. Freepik)

OLAHRAGA lari kian digemari masyarakat urban, namun risiko cedera tetap mengintai jika tidak dilakukan dengan benar. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, mengungkapkan sejumlah faktor krusial yang dapat memicu cedera pada pelari, mulai dari pemilihan perlengkapan hingga kondisi fisik internal.

1. Pemilihan Sepatu yang Tidak Sesuai

Salah satu pemicu utama cedera pada pelari adalah penggunaan sepatu yang tidak tepat. dr. Zeth menekankan bahwa harga mahal atau tren (hype) bukan jaminan keamanan bagi pelari. Sepatu harus disesuaikan dengan ukuran dan bentuk kaki masing-masing individu.

"Pemilihan sepatu tidak bisa hanya karena mahal atau lagi hype. Sesuaikan dengan kondisi kaki. Kalau kita pakai nyaman, itu pas sepatunya untuk kaki," ujar dr. Zeth dalam sebuah temu media di Jakarta.

Selain model, usia pakai sepatu juga berpengaruh. Sepatu yang sudah terlalu sering digunakan akan kehilangan fungsi redamannya, sehingga meningkatkan risiko cedera saat menghantam permukaan jalan.

2. Anatomi dan Bentuk Kaki

Struktur anatomi kaki memegang peranan penting dalam mendistribusikan beban saat berlari. dr. Zeth menjelaskan bahwa bentuk telapak kaki memengaruhi gesekan dengan permukaan tanah.

  • Flat Foot & High Arch: Pemilik telapak kaki datar atau lengkungan terlalu tinggi berisiko mengalami plantar fasciitis, yaitu peradangan pada jaringan lunak dari tumit hingga jari kaki.
  • Kaki X dan O: Bentuk kaki X atau O menyebabkan pembebanan yang tidak seimbang antara kaki kanan dan kiri, yang dalam jangka panjang memicu cedera pada sendi.

3. Berat Badan Berlebih (Overweight)

Faktor berat badan juga menjadi perhatian serius. Orang dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan memiliki beban tekanan yang lebih tinggi pada lutut dan pergelangan kaki (engkel).

"Apalagi ada high impact-nya saat lari, risiko cedera menjadi lebih tinggi bagi mereka yang overweight namun langsung memaksakan lari intensitas tinggi," tambahnya.

4. Pola Lari dan Kurangnya Pemulihan (Overtraining)

Penerapan pola lari yang tidak efisien tidak hanya membuang energi, tetapi juga membahayakan tubuh. Namun, yang paling sering diabaikan adalah waktu pemulihan (recovery).

dr. Zeth menceritakan kasus pasien yang mengalami cedera akibat mengikuti perlombaan (race) setiap minggu tanpa jeda istirahat yang cukup. Kondisi overtraining ini membuat tubuh tidak memiliki waktu untuk memperbaiki jaringan yang rusak setelah beraktivitas berat. (Ant/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya