Hadapi El Nino 2026, BNPB Siagakan 28 Armada dan Operasi Modifikasi Cuaca

Atalaya Puspa
15/4/2026 16:02
Hadapi El Nino 2026, BNPB Siagakan 28 Armada dan Operasi Modifikasi Cuaca
ilustrasi modifikasi cuaca.(Antara)

DIREKTUR Penanganan Darurat Wilayah I BNPB Agus Riyanto menyatakan pihaknya telah menyiapkan tiga lapis strategi dalam menghadapi ancaman El Nino tahun ini.

Lapis pertama adalah operasi modifikasi cuaca untuk memaksimalkan ketersediaan air di wilayah yang masih memiliki bibit awan hujan. Namun Agus mengingatkan operasi ini tidak bisa dilakukan sembarangan rekomendasi BMKG soal kondisi atmosfer wilayah setempat menjadi syarat mutlak sebelum intervensi dilakukan.

"Lapis kedua adalah operasi udara dengan water bombing, terutama untuk mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang diprediksi meningkat drastis selama kemarau panjang," kata Agus dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (15/4).

Agus mengingatkan pengalaman 2023 ketika banyak tempat pembuangan akhir sampah ikut terbakar dan menimbulkan masalah serius karena kandungan gas metana yang tinggi.

Lapis ketiga, lanjut dia, menyasar kebutuhan air bersih masyarakat di tingkat tapak. BNPB menyiapkan program pompanisasi untuk mengalirkan air dari sumber mata air yang belum terkelola, sekaligus membangun sumur bor komunal sedalam lebih dari 100 meter di daerah-daerah yang secara historis rawan kekeringan.

"Pendekatan komunal ini dinilai tidak hanya menyelesaikan masalah air, tetapi juga memperkuat modal sosial masyarakat," imbuhnya.

Adapun, saat ini BNPB memprioritaskan enam wilayah provinsi yang membutuhkan perhatian khusus dengan menyiagakan sekitar 28 armada yang siap digeser sesuai kebutuhan. Pemetaan risiko kekeringan juga tengah dilakukan berdasarkan data historis untuk mengetahui posisi tiap daerah terhadap ancaman yang akan datang.

"Kita kenali ancamannya, kemudian kita tetapkan strategi, dan hasilnya tentu akan mengurangi dampak," ujar Agus.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menegaskan, musim kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda yang tidak boleh disamakan, meski keduanya bersamaan hadir tahun ini.

"Musim kemarau pasti ada setiap tahun di Indonesia karena Indonesia hanya mengenal dua musim. Sementara El Nino adalah fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang turut mempengaruhi intensitas musim kemarau," jelas Fachri.

Berdasarkan pemutakhiran data BMKG per 1 April 2026, indeks El Nino saat ini berada di angka 0,28 atau masih dalam kategori netral. Namun indeks itu diprediksi terus meningkat hingga mencapai 0,81 pada periode Juli-Agustus-September 2026, masuk kategori El Nino lemah hingga moderat.

Secara internasional, El Nino dikategorikan lemah pada indeks 0,5 hingga 1, moderat pada 1 hingga 1,5, kuat pada 1,5 hingga 2, dan sangat kuat di atas angka 2.

Fachri menegaskan, meski intensitasnya masih dalam kategori lemah hingga moderat, kehadiran El Nino yang bersamaan dengan musim kemarau tetap harus diantisipasi secara serius.

Konsistensi indeks yang diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap ketersediaan air dan risiko kebakaran hutan akan berlangsung dalam waktu yang panjang. (Ata/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya