Empat Ribu Pengunjung Padati TKT ITB, Tampilkan Ekosistem Pengembangan Karier

Naviandri
12/4/2026 16:28
Empat Ribu Pengunjung Padati TKT ITB, Tampilkan Ekosistem Pengembangan Karier
Ilustrasi(Dok ITB)

LEBIH dari 4.000 pengunjung memadati agenda Titian Karier Terpadu (TKT) yang diadakan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat–Sabtu (10–11/4) di Aula Barat dan Aula Timur, ITB Kampus Ganesha Bandung. Kegiatan ini diselenggarakan melalui ITB Career Center yang merupakan kolaborasi antara Direktorat Kemahasiswaan serta Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier.

Agenda rutin ini menjadi bagian dari strategi ITB dalam memfasilitasi transisi mahasiswa dan alumni menuju dunia profesional secara lebih komprehensif, sekaligus memperkuat keterhubungan antara dunia akademik dan industri. TKT ITB April 2026 menghadirkan 27 perusahaan nasional dan multinasional dari berbagai sektor industri, mulai dari energi, teknologi, keuangan, manufaktur, konsultansi, hingga startup digital.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara kemarin menerangkan, TKT merupakan bagian dari ekosistem pengembangan talenta yang berkelanjutan yang merupakan agenda strategis ITB dan diselenggarakan secara rutin dua kali dalam setahun, sebagai bagian dari komitmen ITB dalam memfasilitasi transisi mahasiswa dan alumni menuju dunia profesional.

"Karier bukan sekadar tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi tentang perjalanan belajar dan kontribusi yang berkelanjutan di tengah perubahan dunia yang sangat cepat dan juga merupakan proses pembelajaran yang terus berkembang," jelasnya.

Menurut Tata, di tengah transformasi dunia kerja akibat perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan otomasi, kesiapan individu menjadi kunci utama. Pertanyaan penting bukan hanya pekerjaan apa yang tersedia, tetapi bagaimana mahasiswa mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang mungkin belum ada hari ini.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Pengembangan Profesi dan Kewirausahaan Mahasiswa ITB, Intan Taufik menyebut bahwa TKT April 2026 ini merupakan bagian dari upaya strategis ITB untuk mempererat hubungan antara dunia akademik dan industri. Selain mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, pihaknya juga menyediakan informasi bagi pengunjung yang tertarik melanjutkan studi atau upskilling di ITB. Tidak hanya fokus pada pekerjaan, tapi juga pengembangan diri.

"TKT tahun ini membawa pendekatan baru, yakni bertransisi dari sekadar bursa kerja menjadi ruang persiapan karier yang lebih menyeluruh. Kami menghadirkan praktisi industri dan psikolog untuk memberikan gambaran nyata tentang kebutuhan dunia kerja. Harapannya, saat bertemu perusahaan di TKT, para lulusan sudah lebih siap, baik dari sisi CV maupun cara berkomunikasi,” paparnya.

Selain itu kata Intan, TKT juga menghadirkan layanan konsultasi karier, mulai dari reviu CV, simulasi wawancara, hingga sesi rekrutmen langsung (on the spot) oleh beberapa perusahaan. Hal ini dirancang untuk menciptakan pengalaman yang lebih interaktif dan aplikatif bagi peserta. Untuk menjangkau mahasiswa sejak dini, rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan Festival Karier di Lapangan CC Timur ITB yang menghadirkan alumni dan berbagai aktivitas eksploratif.

“Kami ingin mahasiswa mulai terekspos dunia kerja sejak awal. Jadi mereka tidak hanya kuliah untuk mendapatkan gelar, tetapi juga mulai merancang masa depan dan memahami arah karier yang ingin dituju. Kami juga menekankan pentingnya perencanaan karier sejak awal masa perkuliahan.  Mahasiswa perlu memiliki orientasi masa depan yang jelas agar dapat memanfaatkan peluang selama kuliah. Karier seharusnya mulai dirancang sejak masuk kampus. Mahasiswa perlu menentukan ingin menjadi apa, sehingga bisa menyusun pengalaman dan kompetensi yang relevan sejak awal,” bebernya.

Di sisi lain, Kepala Bidang Penempatan, Perluasan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Hendra Kusuma Sumantri, menyoroti pentingnya kegiatan seperti TKT dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan.

“Di era teknologi tinggi, kita membutuhkan sumber daya manusia yang profesional dan adaptif. Kegiatan seperti ini membuka akses peluang kerja yang lebih luas,” tandasnya.

Hendra menambahkan bahwa persoalan ketenagakerjaan saat ini semakin kompleks, sehingga diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri dan pemerintah untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya