Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Halal Bihalal Tradisi Kreatif Khas Indonesia

Syarief Oebaidillah
10/4/2026 22:07
Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Halal Bihalal Tradisi Kreatif Khas Indonesia
Ilustrasi(Dok Istimewa)

MOMENTUM perayaan lebaran Idul Fitri di tanah air yang  diwarnai gelaran halal bihalal telah menjadi tradisi khas yang hanya ada di Indonesia, tidak di negara lain. Halal bihalal tidak berkaitan dengan syariat suatu agama, tetapi tradisi yang berangkat dari pengamalan ajaran agama  yang nilai dasarnya tidak hanya berkaitan dengan bagaimana agama itu dipahami tetapi agama diamalkan secara kreatif, sehingga nilai universal agama bisa diterima  semua kalangan. 

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam acara Halal bihalal Nasional bertajuk Semangat Syawal Meningkatkan Mutu Pendidikan, diikuti jajaran pimpinan dan karyawan di Jakarta secara hybrid  luring juga melalui online se Indonesia, pekan lalu.

Diutarakannya, selain halal bihalal yang khas asli Indonesia adalah mudik. Mudik telah menjadi tradisi yang tidak  hanya dilakukan umat Islam.  Abdul Mu’ti mengaku termasuk mudiker militan. Sejak  masuk Jakarta tahun 2002, selama 24 kali mudik tidak pernah mengalami pengalaman yang sama.

 “Saya termasuk mudiker militan, selalu mudik dan sudah harus berada di kampung halaman sebelum adzan magrib berkumandang”, ungkapnya.

Mudik istilah yang unik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  arti harafiahnya kembali ke udik. Makna secara spiritual tidak sekadar kembali ke udik, tapi kembali kepada keaslian fitrah manusia. 

Pada kesempatan itu,Abdul Mu’ti mengupas makna halal bihalal dan mudik menggunakan rumus 3-R, 3-O, dan 3-S. Rumus 3R yakniRefreshing, Reunion, Recreation antara lain R pertama, refreshing. Mudik menurut Mu’ti mengandung dua pengertian spiritual refreshing dan social refreshing. 

Spiritual  refreshing penyegaran spiritual setelah selesai berpuasa selama Ramadan kembali kepada fitrahnya yaitu makan dan minum seperti biasa. Makna idul fitri kembali kepada manusia yang lahir ke dunia dalam keadaan bersih dari segala dosa setelah selama Ramadan membersihkan jiwanya dengan beribadah dan menjalankan berbagai amalan agar bersih dari segala dosa.

Namun kebersihan spiritual belum sempurna, harus diikuti social refreshing, menyegarkan relasi sosial dengan saling bermaafan antara satu dengan yang lainnya, saling mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.
R kedua, reunion adalah bersatu kembali setelah saling memaafkan. Reuni menjadikan kuat karena bersatu saling memaafkan, “klir semuanya  mulai dari yang baru," tandasnya. 

R ketiga, recreation,  mudik adalah rekreasi, walaupun macet tetap dinikmati. Ketika pikiran dan hati segar, gagasan dan semangat baru muncul. Rekreasi bukan piknik tapi suasana saat mendapatkan pencerahan dari banyak bertemu orang selama dalam perjalanan. 

Dipaparkannya setelah menjalankan 3R akan  muncul sikap  3O yang meliputi Open Mind, orang yang terbuka pikirannya mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dengan sikap terbuka bisa melihat berbagai macam persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan halal bihalal pikiran menjadi terbuka mau belajar, mendengar dan menerima masukan dari siapa pun dia.

Mengutip nasihat sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib, "Unzhur maa qaala walaa tanzhur man qaala," artinya "perhatikan apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan".

“Saya kalau turun ke lapangan, banyak ide bagus saya peroleh dari mereka. mereka yang tidak pernah kita kenal sebelumnya,”tutur Mu’ti. 

Open Hearth, hati yang lapang menjadi kunci untuk bisa memaafkan orang lain. “Dalam Bahasa Jawa jembar manahe”, kata Mu’ti. Kalau hatinya sempit tidak salah pun disalahkan, padahal ada ungkapan Bahasa Arab, al-insanu mahalul khoto’ wan nisyan. "Manusia adalah tempatnya salah dan lupa," lanjut Mu’ti. 

Open House, semua membuka rumahnya dengan berbagai hidangan khas lebaran. Open menjadi  tempat menjalin dan membangun relasi lebih baik.  

Sejahtera, Sehat, Smart (3S)

Mengutip buku  psikolog Susan Pinker berjudul The Village Effect: How Face-to-Face Contact Can Make Us Healthier, Happier, and Smarter (2014), menceritakan tentang sebuah desa di Italia yang masyarakatnya memiliki harapan hidup di atas 90 tahun. Mengapa harapan hidupnya panjang kata kuncinya karena mereka menjadi masyarakat yang terbuka. 

Masyarakat desa umumnya ramah, berjiwa gotong-royong, peduli kepada orang lain,  terbuka segala sesuatu diceritakan kepada orang lain. 

Temu muka dengan sahabat secara rutin membuat tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak punya sahabat. 

"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim." (HR. Bukhari no. 5986 & Muslim no. 2557), Abdul Mu’ti mengutip hadist.

Serangkaian kegiatan halal bihalal bisa membuat hidup lebih sehat (Healthier) , lebih bahagia (Happier), lebih cerdas (smart), karena banyak silaturahim temu muka seperti digambarkan dalam buku Susan Pinker.  

“Insyaallah dengan mengamalkan 3R kemudian 3O itu kita mencapai 3S. Inilah yang perlu kita bangun di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah rumah kita bersama”, imbau Mu’ti. 

“Mari kita bangun  relasi dimana kita ini memperkuat budaya ramah,  memperkuat budaya dan tata kelola yang santun. Karena dengan itu insyaallah kita bisa mencapai keberhasilan dan kesuksesan bersama-sama,” pungkas Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah Jakarta ini. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya