Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI bulan April, banyak masyarakat bertanya-tanya: kenapa masih sering hujan padahal seharusnya sudah mulai musim kemarau? Fenomena ini ternyata bukan hal yang aneh, melainkan bagian dari dinamika iklim di Indonesia.
Salah satu faktor utama mengapa hujan masih terjadi di bulan April adalah karena Indonesia sedang berada dalam masa masa peralihan musim (pancaroba).
BMKG menjelaskan bahwa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagian wilayah memang mulai memasuki musim kemarau, tetapi sebagian lainnya masih mengalami pola cuaca basah. Hal ini menyebabkan hujan masih sering turun, bahkan dengan intensitas cukup tinggi.
Menurut keterangan dari tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui rilis Direktorat Meteorologi Publik, kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.
Selain faktor musim, ada beberapa fenomena atmosfer yang membuat hujan tetap terjadi:
Gelombang seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan MRG (Mixed Rossby-Gravity) masih aktif di wilayah Indonesia.
Gelombang ini memicu pembentukan awan hujan secara signifikan.
Fenomena MJO yang melintas di wilayah Indonesia meningkatkan aktivitas konveksi, sehingga peluang hujan menjadi lebih tinggi.
Perubahan arah angin dari Monsun Asia ke Monsun Australia menciptakan zona pertemuan angin (konvergensi) yang mendukung pembentukan hujan.
Adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah perairan Indonesia turut memperkuat pembentukan awan hujan.
Suhu panas di siang hari mempercepat pembentukan awan konvektif yang berujung pada hujan sore atau malam.
Data BMKG menunjukkan bahwa pada awal April 2026, sejumlah wilayah masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat, bahkan mencapai lebih dari 100 mm per hari di beberapa daerah.
Ini menandakan bahwa meskipun kalender sudah memasuki musim kemarau, kondisi atmosfer masih sangat mendukung terjadinya hujan. (E-4)
BMKG memprediksi hujan masih melanda Indonesia hingga 27 April 2026, dari ringan hingga lebat disertai angin kencang. Waspadai potensi banjir dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
MASYARAKAT di Kabupaten Bekasi diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, meski wilayah itu diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026.
WARGA di wilayah Cirebon, yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka diimbau mewaspadai periode pancaroba dan kemarau.
BMKG peringatkan potensi cuaca ekstrem di 23 wilayah Jawa Tengah pada Jumat (3/4). Waspadai bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir saat pancaroba.
BMKG memprakirakan masa pancaroba di wilayah Cilacap, Jawa Tengah mulai berlangsung pada April hingga Mei 2026. Setelah itu Cilacap masuk musim kemarau
BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jakarta akan diguyur hujan pada Rabu sore. Waspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti genangan dan luapan air.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk Rabu, 29 April 2026.
BMKG mengingatkan potensi hujan lebat disertai petir pada siang-sore hingga awal Mei 2026, di tengah suhu panas yang bisa tembus 37°C di sejumlah wilayah.
BMKG memprakirakan Jakarta akan diguyur hujan ringan pada Selasa (28/4). Simak rincian cuaca, suhu, dan kecepatan angin selengkapnya di sini.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan pembaruan terkait prakiraan cuaca untuk Selasa, 28 April 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca terbaru untuk wilayah DKI Jakarta pada Senin, 27 April 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved