Perbedaan Campak dan Rubella: Penjelasan PAPDI Mengenai Gejala dan Risiko

Basuki Eka Purnama
07/4/2026 11:34
Perbedaan Campak dan Rubella: Penjelasan PAPDI Mengenai Gejala dan Risiko
Ilustrasi--Seorang petugas Puskesmas menyuntikkan vaksin measles rubella (MR) pada seorang balita dalam kegiatan posyandu di Bunurejo, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (6/4/2026).(ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan edukasi penting bagi masyarakat untuk meluruskan kesalahpahaman mengenai penyakit campak. Meski sering dianggap serupa dengan rubella atau bahkan dikaitkan dengan penyakit infeksi baru, campak sejatinya adalah penyakit infeksi lama yang memiliki karakteristik medis yang sangat spesifik.

Dokter spesialis penyakit dalam yang tergabung dalam PAPDI, Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, FINASIM, menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit baru seperti covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Campak telah dikenal sejak lama dan terus menjadi perhatian pemantauan kesehatan di seluruh dunia.

"Campak ini bukan penyakit baru. Sudah ada sejak lama dan terus dipantau di seluruh dunia," ujar Adityo dalam acara PAPDI Forum bertajuk "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" di Jakarta, dikutip Selasa (7/4).

Mengenal Perbedaan Rubeola dan Rubella

Salah satu kerancuan yang sering terjadi di masyarakat adalah menyamakan campak dengan rubella (campak Jerman). Adityo menjelaskan bahwa campak disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus atau yang secara medis dikenal sebagai rubeola. Meskipun keduanya sama-sama menimbulkan ruam pada kulit, penyebab dan karakteristik klinisnya sangat berbeda.

Untuk memudahkan masyarakat dalam membedakan kedua penyakit tersebut, berikut adalah tabel perbandingan berdasarkan penjelasan PAPDI:

Karakteristik Campak (Rubeola) Rubella (Campak Jerman)
Penyebab Virus Morbillivirus Virus Rubella
Gejala Khas Bercak Koplik (putih kebiruan di dalam pipi) Ruam kulit cenderung lebih ringan
Gejala Utama (3C) Batuk (Cough), Pilek (Coryza), Mata Merah (Conjunctivitis) Tidak memiliki pola gejala 3C yang spesifik
Risiko Utama Komplikasi berat pada daya tahan tubuh lemah Sangat berbahaya bagi janin (Teratogenik)

Tanda Bahaya dan Dampak Kesehatan

Adityo memaparkan bahwa campak memiliki tanda klinis yang sangat kuat, yaitu munculnya tiga C: Cough (batuk), Coryza (pilek), dan Conjunctivitis (mata merah). Selain itu, keberadaan bercak koplik di area mulut menjadi pembeda utama yang tidak ditemukan pada kasus rubella.

Dari sisi dampak, rubella memang cenderung lebih ringan bagi penderita umum, namun bersifat teratogenik atau sangat berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin. Sebaliknya, campak tidak bersifat teratogenik, namun tetap tidak boleh diremehkan karena dapat memicu komplikasi serius, terutama pada individu dengan sistem imun yang rendah.

PAPDI mengimbau masyarakat untuk lebih jeli mengenali gejala-gejala ini agar langkah penanganan medis dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

"Kalau kita bisa membedakan dengan benar, maka deteksi dan penanganannya juga bisa lebih tepat," pungkas Adityo. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya