Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA remaja yang seolah tidak ingin ketinggalan zaman atau selalu ingin mengikuti tren terbaru bukan sekadar persoalan gaya hidup. Di balik perilaku tersebut, terdapat mekanisme kerja otak dan proses pencarian identitas yang kompleks.
Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menjelaskan bahwa faktor biologis memegang peranan kunci mengapa remaja sangat reaktif terhadap apa yang sedang populer di lingkungan mereka.
Secara neurologis, perkembangan otak remaja memang belum sepenuhnya seimbang. Terdapat dua bagian utama yang saling tarik-menarik dalam proses pengambilan keputusan: sistem limbik dan prefrontal cortex.
“Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan,” kata Shabrin, dikutip Sabtu (7/2).
Sistem limbik bertanggung jawab atas reward system atau pusat kesenangan. Sementara itu, prefrontal cortex berfungsi sebagai pengendali yang menganalisis risiko dan mengambil keputusan logis.
Masalahnya, pada masa remaja, sistem limbik berkembang jauh lebih cepat. Hal inilah yang memicu mereka lebih memilih perilaku yang memberikan kepuasan instan, memicu adrenalin, atau rasa puas, meski risiko jangka panjangnya belum dipikirkan secara matang.
Selain faktor saraf, dorongan sosial juga menjadi pengaruh kuat. Masa remaja adalah fase transisi saat kebutuhan akan pengakuan sosial berada di titik tertinggi. Lingkungan dengan norma tertentu memaksa remaja untuk menyesuaikan diri agar bisa dianggap sebagai bagian dari kelompok.
Kondisi ini diperkuat dengan tingkat kesadaran diri yang tinggi. Remaja cenderung merasa bahwa orang lain selalu memperhatikan penampilan, kesalahan, atau perilaku mereka. Alhasil, mengikuti tren menjadi jalan pintas agar mereka merasa setara dengan teman sebaya.
“Saat remaja ada dalam lingkungan dengan norma tertentu, besar kemungkinan ia akan mencoba fit in dengan lingkungan tersebut,” ujar psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut.
Tren dan popularitas juga sering kali menjadi bentuk mekanisme pertahanan diri.
Menurut Shabrin, kemampuan coping emosional atau cara mengelola stres pada remaja biasanya belum matang. Hal ini membuat mereka tertarik pada hal-hal populer yang dianggap bisa mengalihkan tekanan emosional yang sedang dialami.
Dalam kondisi seperti ini, pertimbangan risiko sering kali terabaikan demi mendapatkan rasa aman melalui pengakuan kelompok.
Dengan menyesuaikan diri pada kelompok sosial tertentu, remaja merasa telah berhasil menegaskan identitas diri mereka di tengah lingkungan yang dinamis. (Ant/Z-1)
Meski sederhana, ponsel fitur kini telah dibekali berbagai kemampuan seperti konektivitas 4G, GPS, hingga fitur pembayaran digital.
Komunikasi yang aman dan terbuka diyakini mampu membentengi remaja dari risiko negatif fenomena yang tengah viral.
Dalam hal serat, asupan yang terlalu tinggi dapat mengganggu keseimbangan nutrisi secara keseluruhan.
Di kota-kota besar, tren warna cenderung mengalami penurunan saturasi agar terlihat lebih kalem.
Menyambut tren rambut pria 2026, berikut rekomendasi gaya rambut terbaik berdasarkan bentuk wajah.
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved