Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA kembali menghadapi bencana besar setelah banjir melanda sejumlah wilayah di Tanah Air dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa di Sumatra lebih dari 600 orang. Angka ini memicu keprihatinan masyarakat, yang menilai pemerintah kurang tanggap dalam memberikan respons awal.
Sorotan semakin tajam ketika Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menyampaikan permohonan maaf saat meninjau lokasi banjir di Tapanuli Selatan, Minggu (30/11/2025).
“Nah Tapsel ini saya surprise begitu ya, saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati," ujarnya dikutip dari beberapa sumber.
Di tengah sorotan publik tersebut, masyarakat ramai membandingkan respons pemerintah saat ini dengan pengalaman menghadapi pandemi covid-19 beberapa tahun lalu. Satu nama kembali muncul, Alm. Achmad Yurianto, sosok yang pernah menjadi wajah pemerintah di masa-masa korona pertama kali masuk Indonesia.
Kolonel CKM (Purn.) dr. Achmad Yurianto, M.A.R.S. lahir pada 11 Maret 1962. Ia menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Airlangga pada 1988, lalu melanjutkan studi magister Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia pada 1999.
Selain pendidikan kedokteran, Yurianto juga menempuh jalur militer, mulai dari Sekolah Perwira Wajib Militer (1989), Pendidikan Dasar Kecabangan Kesehatan (1991). Ditambah pendidikan lanjutan seperti Suslapa Kes dan Suspajemen Madya Rumah Sakit.
Ketertarikannya pada dunia semi-militer bahkan muncul sejak bangku kuliah. Ketika ia dipercaya sebagai Komandan Resimen Mahasiswa Universitas Airlangga pada 1986-988.
Pada 2015, ia mulai masuk ke lingkaran strategis Kementerian Kesehatan sebagai Kepala Pusat Krisis Kesehatan. Pada 2019 ia diangkat menjadi Sekretaris Ditjen P2P, kemudian awal 2020 menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Posisi ini menjadi sangat penting ketika Covid-19 mulai masuk ke Indonesia.
Pada 3 Maret 2020, Presiden Joko Widodo menunjuk Achmad Yurianto sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19. Dalam situasi panik dan penuh ketidakpastian, ia menjadi sumber informasi utama masyarakat. Gaya komunikasinya yang lugas membuatnya menjadi figur sentral pada masa awal pandemi.
Ia menjabat hingga Juli 2021, ketika Gugus Tugas Covid-19 dibubarkan dan digantikan Satgas Covid-19. Meski tak lagi tampil di televisi setiap hari, jejak perannya dalam penanganan krisis tetap dikenang. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Kesehatan dan kemudian Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan berdasarkan Keppres Nomor 37 Tahun 2021.
Achmad Yurianto meninggal pada 21 Mei 2022 di RSUD Syaiful Anwar, Malang setelah menjalani perawatan dan kemoterapi akibat kanker usus. Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang mengingatnya sebagai sosok yang semasa pandemi. (Wikipedia/Kemenko PMK/Z-2)
BNPB mengungkap bahwa banjir yang melanda Surakarta dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dipicu oleh intensitas hujan tinggi sebagai dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 92S.
Agus mengingatkan pengalaman 2023 ketika banyak tempat pembuangan akhir sampah ikut terbakar dan menimbulkan masalah serius.
Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi langkah konkret untuk memastikan perempuan sebagai penerima manfaat sekaligus pelaku utama dalam pembangunan.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah warga yang terdampak banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terus meningkat.
Rusak ringan dan sedang akan diperbaiki, sedangkan yang rusak berat, diganti dengan pembangunan baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved