Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang menganggap tidur hanya sebatas istirahat, mimpi, atau sekadar menunda alarm. Padahal, begitu kepala menempel di bantal, tubuh justru bekerja keras. Salah satu tugas terbesarnya adalah melepaskan hormon pertumbuhan, zat penting bagi otot, tulang, metabolisme, bahkan kejernihan berpikir esok hari.
Sebuah studi terbaru mengungkap bagaimana mekanisme kompleks ini bekerja di dalam otak. Temuan ini menjelaskan mengapa kurang tidur bisa mengganggu keseimbangan hormon, serta membuka jalan baru untuk terapi masalah tidur.
Hormon pertumbuhan bukan hanya membantu anak-anak bertambah tinggi. Hormon ini juga berperan membangun otot, memperkuat tulang, membakar lemak, serta mendukung perbaikan jaringan tubuh. Selain itu, hormon pertumbuhan mengatur cara tubuh mengelola gula dan lemak, sehingga berkaitan erat dengan diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.
Tidur non-rapid eye movement (NREM) adalah saat pelepasan hormon pertumbuhan mencapai puncaknya. Inilah alasan atlet dan remaja sangat bergantung pada tidur berkualitas untuk performa dan perkembangan optimal.
Sekelompok peneliti di UC Berkeley menggunakan elektroda untuk merekam langsung aktivitas otak tikus saat tidur. Mereka menemukan pengaturan hormon ini terjadi di hipotalamus, bagian otak kuno yang sudah ada sejak mamalia awal.
Dua hormon mengendalikan sistem ini, growth hormone releasing hormone (GHRH) yang memicu produksi hormon pertumbuhan, serta somatostatin yang menekannya. Selama tidur REM, keduanya meningkat bersamaan. Namun pada tidur NREM, somatostatin melemah sementara GHRH meningkat, mendorong pelepasan hormon pertumbuhan.
Hormon pertumbuhan tidak berhenti bekerja setelah dilepaskan. Ia kembali ke otak dan memengaruhi locus coeruleus, pusat di batang otak yang mengatur kewaspadaan, fokus, dan respons otak terhadap hal baru.
Menariknya, hormon ini secara perlahan merangsang locus coeruleus agar otak siap terjaga. Jika stimulasi berlebihan, justru bisa menimbulkan rasa kantuk. Artinya, tidur dan hormon pertumbuhan membentuk sistem seimbang. Terlalu sedikit tidur menurunkan produksi hormon, sementara terlalu banyak hormon bisa memicu otak tetap terjaga.
Studi ini juga menemukan kaitan hormon pertumbuhan dengan fungsi kognitif. Selain membangun otot dan tulang, hormon ini diduga meningkatkan ketajaman mental serta tingkat kewaspadaan setelah bangun tidur. Inilah sebabnya kurang tidur bukan hanya membuat lelah, tetapi juga menurunkan fokus karena keseimbangan kimia otak terganggu.
Pemahaman tentang sirkuit otak ini dapat membuka peluang pengobatan baru, terutama untuk penderita gangguan tidur yang terkait dengan diabetes, Parkinson, atau Alzheimer. Menargetkan jalur hormon pertumbuhan bisa membantu mengembalikan keseimbangan tidur.
Temuan ini menegaskan bahwa tidur bukan sebuah proses pasif. Tidur adalah sistem biologis yang diatur dengan ketat, berperan dalam pertumbuhan, metabolisme, hingga kesehatan mental. Jadi, nasihat klasik untuk tidur cukup sebelum hari penting ternyata benar adanya: otak sedang menyiapkan fondasi bagi tubuh dan pikiran untuk esok hari.
(Earth/Z-2)
Jeni memang tercatat sebagai pemegang gelar Puteri Indonesia Riau 2024. Namun, posisi tersebut dinilai membawa tanggung jawab besar.
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Kenali perbedaan bakteri, virus, jamur, dan protozoa serta cara efektif memutus rantai penyebaran kuman demi menjaga kesehatan tubuh.
Menjelang Hari Buruh, laporan Indonesia Health Insights Q2 2026 mengungkap telekonsultasi mampu tangani 95 persen kasus medis dan tekan biaya kesehatan hingga 15 persen.
Sering memangku laptop? Hati-hati, kebiasaan ini bisa memicu gangguan kulit, masalah kesuburan, hingga nyeri punggung. Simak penjelasan medis dan tips aman.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan kembali menorehkan prestasi membanggakan ditingkat nasional dengan meraih penghargaan sebagai Kota Unggul dalam Inovasi ibu dan anak.
Banyak yang mengira masa remaja adalah fase pertumbuhan tercepat manusia. Ternyata, bayi tumbuh jauh lebih pesat.
Peneliti menemukan bahwa dua hormon peptida kecil yang mengontrol pelepasan hormon pertumbuhan di otak yakni GHRH yang mendorong pelepasan dan somatostatin yang menghambat
Hormon pertumbuhan mulai keluar pada awal fase tidur non-Rapid Eye Movement atau non-REM ketika fase tidur dalam, kurang lebih 1,5 sampai 3,5 jam setelah mulai tidur dalam pada malam hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved