Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMUWAN di Australia berhasil mengungkap pemicu biologis di balik produksi minyak pada gandum oat, temuan yang berpotensi merevolusi cara pengolahan dan pemasaran oat di masa depan. Dengan teknik pencitraan canggih dan analisis molekuler, para peneliti mengidentifikasi enzim-enzim kunci yang mengendalikan sintesis minyak dalam biji oat.
Temuan ini membuka jalan bagi pengembangan varietas oat rendah minyak yang lebih mudah digiling, meningkatkan efisiensi pengolahan, dan memenuhi permintaan pasar yang tinggi, seperti produk nabati dan tepung oat.
Australia adalah eksportir oat terbesar kedua di dunia. Namun, kandungan minyak yang tinggi dalam biji oat kerap menjadi tantangan saat penggilingan. Hal ini menurunkan efisiensi produksi dan membatasi inovasi, khususnya pada sektor tepung oat dan protein nabati.
Penelitian ini dilakukan Universitas Australia Selatan (UniSA) bersama South Australian Research and Development Institute (SARDI) dan Universitas Adelaide. Mereka mempelajari dua varietas oat modern menggunakan teknik pencitraan untuk memantau akumulasi minyak selama perkembangan biji. Analisis lipidomics dan proteomics kemudian digunakan untuk memahami mekanisme pembentukan minyak secara detail.
PhD candidate UniSA, Darren Lau, menjelaskan metode penghilangan minyak saat ini tidak efisien dan mahal. Breeding atau pengembangan varietas rendah minyak dianggap lebih hemat biaya, tetapi membutuhkan pemahaman mendalam tentang proses biologis pembentukan minyak.
“Kami berhasil mengidentifikasi beberapa enzim utama yang terlibat dalam sintesis minyak, yang nantinya bisa dimanipulasi secara genetik untuk menurunkan kandungan minyak pada biji oat,” kata Lau.
Dengan mengurangi kandungan minyak, industri bisa membuka peluang baru di pasar tepung oat dan protein alternatif, sektor yang tengah naik daun seiring meningkatnya tren makanan berbasis nabati.
Pada 2022, produksi global oat mencapai 26 juta ton, menempatkannya di urutan ketujuh dalam produksi serealia dunia. Dengan menurunkan kadar minyak, oat berpotensi menjadi sefleksibel gandum, barley, jagung, dan beras, mendorong pertumbuhan industri lebih jauh.
Temuan ini kini dimanfaatkan oleh Grains Research and Development Corporation (GRDC) untuk meningkatkan kualitas oat agar lebih cocok untuk penggilingan dan pengembangan bahan pangan serta minuman. Penelitian lanjutan juga tengah dilakukan untuk mengeksplorasi manipulasi enzim tertentu agar dapat menekan kadar minyak tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman.
“Penelitian ini memberi wawasan penting tentang jalur biologis yang memengaruhi produksi minyak pada oat. Varietas rendah minyak akan meningkatkan efisiensi proses penggilingan dan membuka peluang pemanfaatan baru untuk oat. Dengan naiknya permintaan makanan nabati, riset ini menempatkan Australia di garis depan inovasi oat, mendukung petani, produsen, hingga eksportir,” ujar SARDI Project Lead, Dr. Janine Croser. (Science Daily/Z-2)
Oats dipilih karena berperan sebagai skin whisperer yang kaya akan beta-glucan karena dapat menenangkan dan melembapkan kulit.
Kapal ternak terbesar dunia MV Al Kuwait kirim 17.000 sapi ke Indonesia. Pakar IPB ungkap alasan ketergantungan impor dan risiko ekonomi Rp11 triliun.
Meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke Australia mendorong hadirnya pameran wisata yang menawarkan beragam kemudahan, promo menarik, dan inspirasi perjalanan.
Ilmuwan menemukan fosil Megalibgwilia owenii di museum setelah 120 tahun. Penemuan ini mengungkap keberadaan landak semut raksasa di Australia saat Zaman Es.
Informasi ini disampaikan melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet Republik Indonesia @sekretariat.kabinet.
Presiden Prabowo Subianto menerima sambungan telepon dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada Selasa (21/4) sore.
Hobi olahraga ini diakui Acha bukan sekadar untuk menjaga penampilan, melainkan demi kesehatan jangka panjang dan menjaga stamina sebagai seorang ibu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved