Mengapa Indonesia Bergantung pada Sapi Australia? Ini Penjelasan Pakar IPB University

Basuki Eka Purnama
28/4/2026 16:43
Mengapa Indonesia Bergantung pada Sapi Australia? Ini Penjelasan Pakar IPB University
Petugas memindahkan sapi impor dari Australia ke dalam truk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (23/2/2026).(ANTARA/Dhemas Reviyanto)

KAPAL ekspor ternak hidup terbesar di dunia, MV Al Kuwait, dilaporkan telah bertolak dari Pelabuhan Darwin, Australia, menuju Indonesia. Kapal raksasa tersebut mengangkut lebih dari 17.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di tanah air.

Pelayaran ini menjadi sorotan media internasional lantaran adanya perubahan rute mendadak. Awalnya, MV Al Kuwait dijadwalkan mengirim domba ke Timur Tengah. Namun, eskalasi konflik di Iran memaksa penghentian perdagangan domba hidup ke wilayah tersebut, sehingga muatan dialihkan untuk memenuhi permintaan pasar Indonesia yang tetap stabil.

Ketergantungan pada Sapi Australia

Indonesia, hingga kini, masih menjadi mitra strategis sekaligus pasar terbesar bagi industri peternakan Australia. Berdasarkan data 2025, volume impor sapi dari Negeri Kanguru mencapai angka yang fantastis dengan nilai transaksi triliunan dalam Mata Uang Rupiah.

Indikator Ekonomi Data Estimasi (2025)
Total Volume Impor 583.418 ekor sapi
Harga Bobot Hidup US$4,00 per kilogram
Estimasi Nilai Impor (Total) US$700 Juta
Nilai dalam Mata Uang Rupiah Sekitar Rp11 Triliun

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa ketergantungan ini berakar pada keterbatasan produksi domestik.

"Populasi sapi potong di dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, khususnya di kota-kota besar. Produktivitas sapi lokal relatif lebih rendah dibandingkan sapi Brahman Cross dari Australia," ungkapnya.

Ia menambahkan, sapi lokal seperti sapi Bali memiliki laju pertumbuhan yang lebih lambat. Selain itu, kendala lahan, keterbatasan pakan, serta sistem peternakan rakyat yang masih tradisional membuat efisiensi sulit tercapai. Masalah distribusi juga menjadi tantangan, ketika sentra produksi berada di NTT atau Sulawesi, sementara permintaan tertinggi berada di Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Manfaat dan Risiko Geopolitik

Di satu sisi, impor memberikan kepastian pasokan bagi industri perhotelan, restoran, dan katering (Horeka), serta menjaga stabilitas harga saat momen keagamaan seperti Idul Adha. Infrastruktur Australia yang terintegrasi, mulai dari pelabuhan di Darwin hingga kapal canggih seperti MV Al Kuwait, memungkinkan pengiriman massal dengan harga kompetitif.

Namun, Prof Ronny memperingatkan adanya risiko besar di balik ketergantungan ini. "Indonesia menjadi rentan terhadap gangguan geopolitik, fluktuasi harga global, serta risiko kesehatan hewan. Nilai impor yang mencapai Rp11 triliun menunjukkan betapa besarnya devisa yang keluar," jelasnya.

Strategi Pengurangan Ketergantungan:
  • Penguatan pembibitan sapi lokal (Sapi Bali dan Peranakan Ongole).
  • Dukungan riset genetik untuk meningkatkan produktivitas ternak.
  • Pengembangan feedlot berbasis pakan lokal (jagung, singkong, limbah tani).
  • Diversifikasi negara asal impor (Brasil, India, dan Asia Tenggara).
  • Peningkatan konsumsi protein alternatif (ayam, kambing, dan ikan).

Sebagai langkah jangka panjang, Prof Ronny menekankan pentingnya kebijakan subsidi bagi peternak lokal dan pengaturan kuota impor yang ketat agar tidak mematikan harga sapi domestik.

Menurutnya, swasembada protein hewani hanya bisa dicapai melalui perencanaan yang matang dan berkelanjutan, bukan sekadar tindakan instan saat terjadi krisis pasokan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya