Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA Anda ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh, hindarilah kalimat seperti: "Bukan itu maksud saya", "Maaf kalau kamu salah paham", atau kata "jelas". Menurut Marjorie Ingall dan Susan McCarthy, penulis buku Sorry, Sorry, Sorry: The Case for Good Apologies dan pengelola blog SorryWatch, ungkapan seperti itu justru memperburuk keadaan.
Mereka menyebutnya sebagai permainan “bad apology bingo”—daftar kalimat pembelaan diri yang membuat permintaan maaf terdengar kosong. Setelah lebih dari satu dekade mengamati dan membedah permintaan maaf publik, keduanya menegaskan: “Batas antara penjelasan dan alasan itu sangat tipis.”
Menurut Karina Schumann, profesor psikologi dari University of Pittsburgh, salah satu alasan utama kita enggan minta maaf adalah karena hal itu mengguncang citra diri kita sebagai orang baik atau kompeten.
“Kita ingin merasa baik tentang diri sendiri, dan ingin dilihat secara positif oleh orang lain,” ujar Schumann.
Menerima tanggung jawab berarti mengakui kita telah menyakiti orang lain—dan itu tidak mudah, apalagi jika kita merasa situasi atau orang lain juga punya andil dalam konflik. Namun, penjelasan semacam ini tetap bisa diberikan asal dilakukan dengan hati-hati dan tanpa menghindari tanggung jawab.
Schumann mengembangkan kerangka delapan unsur permintaan maaf yang baik. Namun ia menekankan, ini bukanlah daftar ceklis kaku, melainkan elemen yang bisa disesuaikan dengan situasi:
“Jika kalimat ‘saya minta maaf’ hilang, maka semua elemen lain bisa jadi tak dianggap sebagai permintaan maaf,” tegas Schumann.
Kata-kata seperti “tetapi” sebaiknya dihindari karena terkesan defensif. Menunda menyampaikan alasan atau penjelasan mungkin adalah pilihan bijak, hingga hubungan sudah cukup pulih untuk menerimanya.
Sebuah studi menunjukkan permintaan maaf dengan kata-kata yang sedikit lebih panjang dan bernuansa dianggap lebih tulus, karena mencerminkan usaha dan ketulusan si pengucap. Memberi bunga, memperbaiki kerusakan, atau menunjukkan sikap baru yang konsisten juga dapat memperkuat pesan maaf.
Contohnya, Ingall menceritakan setelah bertengkar, suaminya mungkin tak terlalu pandai merangkai kata, tetapi akan menunjukkan rasa penyesalan melalui tindakan: memasak lebih banyak atau membereskan rumah.
Permintaan maaf yang tulus adalah tentang mereka yang tersakiti, bukan tentang Anda. Penting untuk menunjukkan Anda benar-benar memahami kenapa tindakan Anda menyakitkan dan bersedia mendengarkan perasaan mereka tanpa menyela atau membela diri.
“Yang paling diinginkan orang saat mereka tersakiti adalah didengarkan dan dimengerti,” ujar Ingall.
Meski perempuan mengaku lebih sering minta maaf dibanding pria, Schumann menjelaskan ini lebih karena perbedaan persepsi. Pria cenderung memiliki ambang lebih tinggi tentang apa yang layak untuk dimintai maaf. Namun ketika ambang itu terlampaui, mereka juga sama bersedianya meminta maaf.
Ingall dan McCarthy mengawali SorryWatch untuk mengejek permintaan maaf para tokoh publik yang lebih mirip manuver PR. Namun pasca era Trump, proyek ini bergeser ke ranah edukatif: menunjukkan bahwa permintaan maaf sejati justru adalah tindakan berani.
“Permintaan maaf adalah pengakuan bahwa kita gagal memenuhi standar kita sendiri dan orang lain,” kata Ingall. “Tapi juga alat untuk memperbaiki dan memperkuat hubungan.”
Menurut Ingall, terkadang iya—jika Anda lebih menghargai hubungan daripada keinginan untuk merasa “benar”.
Karena pada akhirnya, permintaan maaf bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tapi tentang keberanian untuk menjembatani jarak yang tercipta akibat kesalahan, dan tekad untuk memperbaiki sesuatu yang rusak. (The Guardian/Z-2)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved