Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER anak dari Puskesmas Kramat Jati Jakarta Arifianto membenarkan isu penyakit dengue atau yang lebih dikenal dengan demam berdarah dengue (DBD) dapat menginfeksi tubuh seseorang berulang kali akibat virus yang ditularkan melalui hewan seperti nyamuk.
"Seingat saya, saya sendiri sudah dua kali kena dengue. (Waktu itu) saya bertanya-tanya kenapa bisa kena lagi," kata Arifianto, dikutip Jumat (19/4).
Arif menuturkan penyakit dengue yang virusnya ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti itu berbeda dengan penyakit seperti cacar air (varisela) yang bila pasien sudah pernah terinfeksi sekali, potensi untuk tertular berikutnya lebih kecil atau tidak ada sama sekali.
Baca juga : Waspada Gejala DBD, Agar Kondisi tidak Menjadi Berat
Pada penyakit yang saat ini kasusnya terus meningkat itu, setidaknya satu orang bisa terkena hingga sampai empat kali.
Menurutnya, hal tersebut dapat terjadi karena dengue terdiri dari beberapa jenis atau serotipe yakni DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4.
Ia mencontohkan ketika seseorang terkena tipe DEN 1, belum tentu antibodi dalam tubuhnya kuat menghadapi jenis dengue yang lain.
Baca juga : DBD Dipastikan Merupakan Penyakit Berbahaya
"Ketika kena tipe DEN 1, belum tentu dia kebal varian lainnya, sebaliknya, kalau dia enggak kena DEN 1 bisa jadi DEN 2, 3 atau 4," ujar Arif.
Walau demikian, ia menjelaskan tidak menutup kemungkinan bila seseorang memiliki kekebalan silang terhadap virus dengue. Dalam beberapa kasus seseorang yang kebal terhadap penularan DEN 1 bisa saja juga kebal menghadapi DEN 3.
Namun, Arif menekankan akan lebih baik bagi masyarakat untuk tetap mendapatkan vaksin dengue agar antibodi yang terbentuk di dalam tubuh bisa lebih kuat melindungi diri dari penularan virus.
Baca juga : DBD Bisa Sebabkan Anak Alami Gangguan Tumbuh Kembang
"Itulah pentingnya vaksin karena kalau dia sakit dan kena tipe misal DEN 2, terus kita enggak punya kekebalan lain, lalu terbentuk antibodi alami, sedangkan dari vaksin bisa dapat kekebalan buat tipe yang lainnya. Jadi sebenarnya kita bisa sakit lagi (kena dengue tapi) dengan tipe yang lain," ucap Arif.
Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi mengatakan kondisi imunologi seseorang yang sedang terganggu menjadi penyebab tubuh bereaksi lebih parah saat terkena virus dengue.
Sementara terkait dengan risiko kematian akibat dengue, Imran menjelaskan waktunya bergantung dari seberapa cepat pasien mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan terdekat karena dengue tidak memiliki obat yang spesifik layaknya penyakit lain.
"Jadi (obatnya) itu hanya terapi cairan. Cairan yang diberikan juga harus tepat, tidak boleh kurang atau kebanyakan. Karena kalau terlalu banyak nanti akan terjadi endoma paru atau kondisi dimana paru-paru seseorang terisi dengan cairan berlebih tadi," pungkas Imran. (Ant/Z-1)
Raditya Dika ajak pelaku usaha dan pekerja kreatif lakukan vaksinasi DBD sebagai investasi kesehatan untuk menjaga kelancaran produktivitas dan pekerjaan.
KADIN, Takeda, dan Bio Farma luncurkan SIAP Lawan Dengue untuk perkuat K3 dan produktivitas perusahaan dari risiko demam berdarah di Indonesia.
Kenali batas normal dan kritis trombosit pada pasien DBD serta tanda bahaya saat fase kritis untuk penanganan medis yang tepat.
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, pada Maret mengalami peningkatan dibandingkan Februari.
SEPANJANG periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 44 warga di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, positif terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan ketahanan masyarakat terhadap bahaya demam berdarah melalui aksi nyata berbasis komunitas.
Seorang WNI terinfeksi DBD di Taiwan. Otoritas Kaohsiung langsung lakukan langkah darurat dan pelacakan epidemiologis.
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved