Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG klinis dewasa Nirmala Ika Kusumaningrum menekankan penting bagi masyarakat untuk memercayai cerita yang dialami korban pelecehan seksual terlebih dahulu sampai hasil investigasi membuktikan sebaliknya.
Sikap percaya pada apa yang dialami korban pelecehan seksual ini penting ditunjukkan agar korban merasa mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar. Dengan memercayai korban, diharapkan semakin banyak korban yang berani mengungkapkan kasus mereka.
"Kenapa penting banget untuk kita belajar untuk percaya pada korban dulu. Minimal percaya dulu, lalu baru kita melakukan investigasi atau penelusuran lebih lanjut. Karena untuk korban bisa cerita saja kan susah, baik korban laki-laki maupun perempuan dengan segala stigma yang harus mereka tanggung," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, dikutip Jumat (28/7).
Baca juga: Ini Penyebab Laki-Laki Korban Pelecehan Seksual Memilih Bungkam
Nirmala menjelaskan korban pelecehan seksual, baik perempuan maupun laki-laki, membutuhkan keberanian untuk membicarakan peristiwa yang dialaminya mengingat masih adanya stigma dari masyarakat yang akan mereka tanggung.
Bahkan, sebelum mendapat stigma saja, para korban juga sudah menanggung perasaan yang cukup mencabik diri sebab peristiwa pelecehan seksual dapat melukai harga diri dan konsep diri pada korban.
Ketika masyarakat tidak mempercayai korban pelecehan seksual, apalagi korban laki-laki, kata Nirmala, akan semakin sulit bagi mereka untuk berani membicarakan perkara tersebut bahkan sulit untuk mengusut kasus melalui jalur hukum.
Baca juga: Tok! Pelaku Revenge Porn di Pandeglang Divonis 6 Tahun Penjara, Denda Rp1 Miliar
"Dan ketika semakin korbannya tidak mengaku (mengalami pelecehan seksual), kejahatan pasti akan semakin meningkat karena mereka (pelaku) akan menjadi banyak pemakluman atau merasa bahwa aman-aman saja melakukan pelecehan karena merasa tidak ada hukumannya," kata Nirmala.
Nirmala mengatakan bentuk-bentuk pelecehan seksual cukup beragam mulai dari secara fisik, verbal, bahasa tubuh, hingga melalui pesan teks atau pesan bergambar.
Apapun bentuknya, pelecehan seksual tidak boleh disepelekan walaupun antara pelaku dan korban memiliki relasi yang dekat.
"Bedanya antara bercanda sama enggak itu di consent (persetujuan) orang yang menerima," kata Nirmala.
Bahkan, dalam sebuah rumah tangga, menurut Nirmala, kekerasan atau pelecehan seksual antara suami-istri tetap ada.
"Orang berpikir 'kan, sudah suami istri. Tidak. Ketika tidak ada consent (persetujuan) dari satu pihaknya, itu sudah termasuk (pelecehan)," tegas Nirmala.
Dalam sudut pandang psikologi, Nirmala mengatakan pemulihan pada korban pelecehan seksual pada dasarnya merupakan proses yang panjang seumur hidup. Oleh sebab itu, penting bagi para korban untuk memiliki sistem pendukung yang baik entah pihak keluarga, teman, ataupun kelompok sosial.
Sistem pendukung juga penting memosisikan diri untuk mempercayai cerita korban terlebih dahulu. Selanjutnya, beri waktu dan ruang apabila korban berada dalam siklus naik dan turun dalam memproses lukanya.
Dan terpenting, selalu ingatkan bahwa mereka tetap berharga terlepas dari apapun yang pernah terjadi di masa lalu.
"Selalu ingatkan bahwa dia tetap berharga apapun yang pernah terjadi pada dia. Bahwa dia tidak deserve (layak) untuk menerima itu, bagaimana pun juga itu salah pelakunya," kata Nirmala. (Ant/Z-1)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved