Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITISI PDIP Budiman Sudjatmiko tidak sepakat dengan pandangan yang menyebut negara seperti Vietnam dan Kuba, yang dianggap sukses mengatasi pandemi covid -19, lantaran kedua negara tersebut menganut paham komunis.
Budiman memastikan keberhasilan mengatasi pandemi sebuah negara tidak tergantung pada apakah negara tersebut menganut komunisme atau tidak.
“Bukan soal komunis atau tidak tetapi ada 3 syarat setidaknya yang harus ada untuk mengatasi pandemi,” kata Budiman melalui akun Twitter @budimandjatmiko, Selasa (21/7).
Baca juga: Buenos Aires Mulai Perlonggar Lockdown
Tiga syarat tersebut, kata dia, yaitu pertama, kepercayaan pada sistem, kedua kepercayaan pada sains dan teknologi, dan ketiga solidaritas masyarakat yang tinggi.
Kata Budiman, negara seperti Vietnam setidaknya punya ketiga hal itu sehingga sukses mengatasi pandemi covid-19 dengan baik.
“Vietnam punya syarat pertama dan ketiga (kepercayaan pada sistem dan solidaritas masyarakat yang tinggi) dan Kuba punya ketiganya (percaya pada system, percaya pada sains dan teknologi, serta solidaritas masyarakat yang tinggi,” tukas Budiman.
Vietnam adalah salah satu negara di dunia yang berhasil mengatasi covid-19, selain Kuba.
Sejak kasus perdana terdeteksi pada 23 Januari 2020, pemerintah dengan sigap bereaksi. Dikutip dari BBC, Vietnam langsung melakukan pembatasan perjalanan, memantau dengan cermat, dan akhirnya menutup perbatasan dengan Tiongkok.
Pemerintah Vietnam juga meningkatkan pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan tempat-tempat rentan lainnya. Tidak hanya itu, negara penghasil beras itu juga melakukan pelacakan kontak secara luas, tes massif corona, hingga kewajiban tidak bisa ditawar untuk karantina 14 hari bagi terduga pasien covid-19. Semua ditanggung oleh pemerintah.
“Ini adalah negara yang pernah menangani banyak wabah di masa lalu,” kata Direktur Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford (OUCRU), Prof Guy Thwaites. (OL-1)
Presiden AS Donald Trump sebut Kuba negara gagal dan beri sinyal agresi militer usai Iran. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel tegaskan rakyatnya siap melawan.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Washington meyakini kesepakatan dengan Kuba masih dapat dicapai, namun juga menyebut negara itu sebagai "negara yang gagal".
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jumat (27/3), mengatakan bahwa Kuba bisa menjadi target aksi AS di masa depan setelah Iran.
Presiden AS Donald Trump beri sinyal kuat bahwa Kuba akan jadi target berikutnya setelah Venezuela dan Iran. Simak pernyataan kontroversial Trump di Miami dan kondisi terkini Kuba.
Krisis energi hebat melanda Kuba. 10 juta orang tanpa listrik, demonstrasi pecah di Havana hingga pembakaran markas partai di tengah tekanan blokade AS.
Ketegangan AS-Kuba memuncak. Presiden Díaz-Canel tuduh AS manfaatkan krisis listrik untuk invasi, sementara Trump beri sinyal tindakan segera.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved