Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ISU radikalisme dan terorisme menjadi topik yang hangat diperbincangkan di tengah publik, tetapi perlu kehatian-hatian dalam menjelaskannya. Meski harus berhati-hati, masalah ini harus dijelaskan kepada publik sehingga tidak ada lagi kesalahan mempersepsikannya.
Semua persoalan itu dikupas dalam sebuah seminar internasional bertema 'Peranan Ahli Hadits Klasik dan Kontemporer dalam Menanggulangi Radikalisme' yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah (STDI) Imam Syafi'i Jember, Jawa Timur, 20-21 September.
Ketua Panitia Penyelenggara, Ali Musri Semjan Putra, menjelaskan, seminar dibuat untuk mengupas tuntas pengertian hingga faktor penyebab radikalisme dan terorisme yang terjadi bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lain.
Namun, sebagian besar publik mempersepsikan hal yang terjadi itu Indonesia masih disandarkan pada dunia Islam saja.
"Ini yang ingin kami luruskan. Publik mempersepsikan teroris dan radikal itu ciri-cirinya berjenggot, celana cingkrang, dan perempuan bercadar. Ini keliru dan telah membuat definisi radikal menjadi bias," kata Ali dalam pembukaan seminar internasional itu di Hotel Dafam Jember, Jumat (20/9) malam.
Selama ini, tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada kelompok muslim yang masih mempertahankan tradisi Islam konservatif dalam setiap aksi teror sangat tidak berdasar.
"Sehingga ada kerancuan dalam masalah ini. Melalui seminar ini, kami ingin membuktikan melalui penjelasan yang sebenarnya. Sehingga memberikan pencerahan dan menghapuskan bias. Serta menawarkan solusinya," terangnya.
Sementara, Profesor Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Alfatih Suryadilaga, menjelaskan bahwa memahami dan menjelaskan radikalisme yang berkembang seperti saat ini butuh kehati-hatian.
Baca juga: Modifikasi Cuaca Berhasil, Hujan Guyur Palangkaraya
"Jangan memahami radikalisme secara serampangan lalu langsung merujuk pada kelompok tertentu. Misal yang berjenggot, mengenakan celana cingkrang," sebutnya.
Alfatih Suryadilaga yang juga Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (Asilha) ini melanjutkan, kelompok muslim yang masih mempertahankan tradisi murni tersebut masih menjadi bagian dari komunitas Islam.
"Nah, sesungguhnya mereka merupakan salah satu model dari ajaran Islam. Kita butuh saling memahami sehingga dapat mewujudkan Islam sebagai rahmatan lilalamin," bebernya.
Pimpinan STDI Imam Syafi'i, Muhammad Arifin Badri, ikut menambahkan bahwa pihaknya berupaya ikut serta dalam upaya menanggulangi radikalisme dan dampaknya.
"Kami berkomitmen berkontribusi dalam penanggulangan problem sosial termasuk masalah keagamaan. Salah satu yang jadi sumber masalah adalah radikalisme yang dikemas atas nama agama," tuturnya.
Banyak faktor yang jadi penyebab munculnya radikalisme yang menunggangi agama Islam. Misalnya saja penggunaan dalil-dalil palsu untuk mendoktrin seseorang menjadi radikal.
Selain itu, Arifin juga menambahkan bahwa radikalisme bukanlah hak yang baru dikenal. Bahkan, radikalisme sudah ada jauh sebelum turunnya agama Islam.
Seminar internasional yang berlangsung hingga Sabtu (21/9) menghadirkan pembicara utama dari kawasan Timur Tengah. Di antaranya Syaikh Prof Dr Abdullah bin Abdul Aziz Al Faleh (Dekan Fakultas Hadis dan Ilmu Hadis Universitas Islam Madinah), Syaikh Prof Dr Ali Ibrahim Saud (Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Alu Al Bayt, Amman Yordania), Syaikh Prof Dr Abdus Sami' Muhammad Anis (Guru Besar Ilmu Hadis, Universitas Sharjah, UEA), dan beberapa ulama-ulama hadis lainnya. (RO/OL-1)
Ia menjelaskan, upaya memperkuat kepercayaan publik dilakukan melalui peningkatan sistem pengawasan internal, penguatan kontrol terhadap hakim konstitusi.
Di tingkat nasional, Unika Atma Jaya menempati peringkat #4 PTS terbaik se-Indonesia dan peringkat #22 dari seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia.
President University mengukuhkan tiga Guru Besar baru: Prof. Anton Wachidin, Prof. Erwin Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar untuk perkuat riset nasional.
Kolaborasi antara lembaga peradilan dan perguruan tinggi dinilai semakin penting dalam memperkuat pemahaman konstitusi di Indonesia.
Bagi mahasiswa internasional, memilih kampus tidak hanya soal kualitas akademik, tetapi juga kenyamanan tempat tinggal dan jaminan keamanan.
Institut Teknologi Bandung (ITB) menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Prasetiya Mulya dalam penyelenggaraan Program Sarjana-Magister Terintegrasi (PSMT).
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah tampak antusias mengikuti tradisi riyayan bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak.
BNPB menyebur memasuki awal Maret, bencana hidrometeorologi masih mendominasi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Jawa Timur (Jatim).
Kantor Kemenag Jatim menggelar Rukyatul Hilal awal Ramadan 2026 menjelang sidang isbat awal puasa yang digelar Selasa (17/2), bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H di 21 titik lokasi di Jawa Timur
Pada 2025, Jawa Timur mencatatkan skor kinerja pelayanan publik terbaik nasional dengan angka 4,75 dari skala 5.
KPK juga terus meminta media untuk memberitakan kasus korupsi, agar pejabat takut apabila ingin memakan uang rakyat.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa angka ini merupakan hasil kesepakatan bersama yang mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi makro.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved