Fatih Seniman Muda Bandung Raih Juara Pertama Grey Award 2026 dengan Karya "Dalam Sunyi, Rakyat Mengingat"

Naviandri
12/4/2026 13:41
Fatih Seniman Muda Bandung Raih Juara Pertama Grey Award 2026 dengan Karya
Ilustrasi(MI/NAVIANDRI)

GREY Awards 2026 menjadi panggung penting bagi seniman muda untuk keluar dari kerumunan dan menembus medan seni yang lebih luas. Bagi seniman muda, panggung seperti ini bisa menjadi “tiket keluar dari kerumunan” menuju dunia seni yang lebih luas dan diakui. Tahun ini Fatih Jagad Raya seniman muda meraih juara pertama Grey Award dengan karya berjudul, "Dalam Sunyi, Rakyat Mengingat 2025" dan berhak atas hadiah Rp 100 juta yang diselenggarakan Grey Art Gallery Bandung Jumat (10/4) malam.

Grey Award 2026 sendiri adalah sebuah pameran dan penghargaan seni rupa kontemporer yang memasuki penyelenggaraan ke-2 pada tahun ini. Dengan mengusung tema “Monochrome as Manifesto,” Grey Award 2026 yang menempatkan monokromatik hitam putih, sebagai kerangka kuratorial yang mendorong eksplorasi visual sekaligus ketegasan posisi artistik.

Antusiasme terhadap Grey Award 2026 tercermin dari partisipasi 710 seniman dengan total 931 karya yang masuk melalui proses open call dari berbagai wilayah di Indonesia. Seluruh karya diseleksi melalui proses kuratorial yang cermat oleh dewan juri yang terdiri dari Wiyu Wahono (kolektor seni), Heri Pemad (Founder ArtJog) dan Angga Aditya (CEO Grey Art Gallery).

Dari proses seleksi awal, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipresentasikan dalam pameran Grey Award 2026. Selanjutnya, melalui tahap wawancara kuratorial, terpilih 10 finalis terbaik yang dinilai berdasarkan kekuatan gagasan, konsistensi visual, serta potensi pengembangan praktik artistik. Dari tahapan tersebut, dewan juri menetapkan 3 seniman terbaik sebagai penerima penghargaan Grey Award 2026.

Juri Grey Awards 2026, Wiyu Wahono, yang menilai kompetisi seni bukan sekadar ajang seleksi karya, melainkan momentum krusial dalam membentuk perjalanan karier seorang seniman. Menurutnya, di tengah padatnya ekosistem seni, banyak talenta potensial yang tenggelam tanpa visibilitas. 

“Ajang seperti Grey Award penting sebagai pintu bagi seniman untuk keluar dari kerumunan dan mendapatkan visibilitas di medan seni yang lebih luas,” tuturnya.

Grey Awards 2026 sendiri hadir dengan tema “Monochrome as Manifesto”, sebuah pendekatan yang menempatkan monokrom bukan sekadar pilihan visual, tetapi sebagai sikap artistik. 
Dalam tema ini, para peserta dibatasi hanya menggunakan spektrum hitam, putih dan abu-abu.  Namun, batasan tersebut justru dimaknai sebagai ruang eksplorasi yang menuntut ketajaman gagasan dan keberanian berekspresi.

“Monokrom kami tempatkan sebagai medan uji, bagaimana visual hitam putih bisa menjadi sikap, pendirian, sekaligus statement dalam berkarya. Ajang ini sebagai “batu lompatan” bagi seniman, terutama mereka yang baru lulus dan belum memiliki nama di pasar seni. Bisa dibilang jarang ya award tentang seni. Buat saya, ini satu batu lompatan. Terutama untuk seniman muda yang baru lulus untuk mencapai publik seni dan para apresiasi,” terangnya.

Wiyu juga menyoroti besarnya komitmen penyelenggara dalam menghadirkan ajang ini, termasuk hadiah utama yang mencapai Rp100 juta. Penyelenggaraan art award bukan perkara mudah karena membutuhkan biaya besar dengan kemungkinan balik modal yang kecil.
Kalau galeri hanya berorientasi profit, mereka tidak akan mengadakan award seperti ini. Biayanya sangat besar dan sulit mendapatkan payback, apalagi pesertanya sebagian besar seniman yang belum dikenal.

"Kondisi tersebut, menjadi salah satu alasan mengapa ajang penghargaan seni masih jarang di Indonesia, bahkan termasuk dari pemerintah, hanya ada satu penghargaan seni rupa, yakni Basuki Abdullah Art Award. Sementara dari sektor swasta, kontribusi juga masih terbatas. Padahal,  momentum perkembangan seni rupa Indonesia saat ini sedang berada di titik strategis," jelasnya.

Adapun para pemenang Grey Award 2026 adalah; 

  • Grey Award,  Fatih Jagad Raya Judul Karya: Dalam Sunyi, Rakyat Mengingat 2025.
  • Black Award,  M. Aidi Yupri Judul Karya: Layar Berdayun 2025.
  • White Award White Award, Shelvira Alyya. Judul Karya, Yang Dilihat Nantinya ,2025.
  • Gallerist &  Collectors Choice Award,   Jimbo. Judul Karya: Bioluminesensi 2025.
  • Peop's Choice Award, Faisol Nurrohman Judul Karya: Resonansi Dua Realitas 2025.

Grey Award 2026 tidak hanya dimaknai sebagai ajang kompetisi, melainkan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendukung regenerasi seniman serta memperluas akses terhadap medan sosial seni rupa yang lebih luas. Melalui program ini, para finalis memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan praktik artistik mereka kepada publik, kolektor, kurator dan
institusi seni.

Sebagai bagian dari dukungan berkelanjutan bagi seniman, Grey Award 2026 bekerja sama dengan ArtMoments Jakarta sebagai Strategic Partner, yang memberikan peluang bagi beberapa karya finalis untuk dipresentasikan dalam konteks art fair, memperluas distribusi serta visibilitas karya di tingkat yang lebih luas. Grey Award 2026 diharapkan dapat menjadi ruang yang memperkuat dialog antara seniman, publik, dan berbagai pelaku seni rupa, sekaligus membuka jalur baru bagi perkembangan praktik artistik yang berkelanjutan di Indonesia.

Publik masih dapat mengunjungi pameran Grey Award 2026 di:
Grey Art Gallery
Jl. Braga No. 47, Bandung
Jam Kunjung
Weekday: 10.00–20.00 WIB
Weekend: 10.00–22.00 WIB. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya