Survei Kadin: Dunia Usaha Tahan Ekspansi, Pilih Efisiensi dan Wait and See

Naufal Zuhdi
24/4/2026 17:54
Survei Kadin: Dunia Usaha Tahan Ekspansi, Pilih Efisiensi dan Wait and See
ilustrasi.(MI)

DUNIA usaha nasional pada kuartal I-2026 cenderung mengambil langkah defensif di tengah tekanan global yang kian tidak menentu. Pelaku usaha lebih memilih menjaga efisiensi internal dan menahan ekspansi sambil mencermati arah perkembangan ekonomi.

Temuan tersebut tercermin dalam survei Kamar Dagang dan Industri Indonesia Business Pulse Q1-2026 yang dirilis Kadin Indonesia Institute, Jumat (24/4). Survei dilakukan pada 17 Maret–5 April 2026 terhadap 210 responden di 27 provinsi.

Chief Kadin Indonesia Institute Mulya Amri mengatakan strategi utama pelaku usaha saat ini masih berfokus pada penguatan internal perusahaan.

“Efisiensi biaya operasional menjadi langkah utama yang dipilih 33,9% responden, menunjukkan bahwa perusahaan lebih fokus menjaga margin dan stabilitas arus kas di tengah tekanan global,” kata dia dikutip dari siaran pers yang diterima, Jumat (24/4).

Selain itu, sebanyak 29,3% pelaku usaha mengaku belum mengambil langkah khusus atau masih bersikap wait and see. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian tinggi, sekaligus menunjukkan adanya kerentanan jika tekanan global berlangsung lebih lama.

Langkah adaptif mulai terlihat, meski skalanya masih terbatas. Sekitar 9,9% responden mendiversifikasi mitra dagang, 9,5% meninjau ulang kontrak bisnis dan rantai pasok, serta 7,1% melakukan diversifikasi sumber bahan baku. Sementara itu, hanya 3,9% yang melakukan lindung nilai (hedging), menandakan manajemen risiko keuangan belum menjadi praktik luas.

Tekanan Bisnis Masih Tinggi

Survei juga menunjukkan persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis masih cenderung negatif. Sebanyak 40,5% responden menilai kondisi bisnis saat ini lebih buruk dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara yang menyatakan lebih baik hanya 25,2%.

Hal serupa terjadi di tingkat sektoral. Sebanyak 44,3% responden menilai kondisi industri yang digeluti belum membaik, menandakan perlambatan masih dirasakan secara luas.

Dampak tersebut turut memengaruhi rencana investasi. Sebanyak 39% responden menyatakan tidak berencana melakukan investasi dalam enam bulan ke depan, sedikit lebih tinggi dibandingkan 38,6% yang masih berniat berekspansi.

Dari sisi tantangan, faktor kebijakan dan program pemerintah menjadi sorotan utama dengan porsi 16,7%, diikuti birokrasi (14,3%), permintaan (11,4%), akses pembiayaan (9,5%), serta ketidakpastian hukum (9,3%).

Dampak Geopolitik dan Harapan Kebijakan

Dalam konteks global, lonjakan harga energi dan komoditas menjadi dampak paling dirasakan (20,9%), disusul penurunan permintaan (16,2%) serta depresiasi nilai tukar rupiah (16,2%).

Meski demikian, sekitar 36,7% pelaku usaha menyatakan siap menghadapi tekanan geopolitik, sementara 25,8% mengaku belum siap.

Di tengah tekanan tersebut, optimisme tetap muncul, terutama dari perkembangan pasar (24,1%) dan kemajuan teknologi (22%), yang mulai menjadi sumber efisiensi baru bagi dunia usaha.

Untuk kuartal II-2026, keyakinan perbaikan bisnis masih sangat bergantung pada kebijakan pemerintah pusat. Sebanyak 39,5% responden menyebut arah kebijakan nasional sebagai faktor utama pendorong optimisme, terutama terkait stabilitas harga energi dan stimulus fiskal.

Pelaku usaha juga menyoroti kebutuhan kebijakan mitigasi, antara lain insentif fiskal (19,8%), kemudahan akses pembiayaan (19,5%), serta stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter (16,7%). (Fal/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya