Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Center of Reform on Economics (CoRE) Eliza Mardian mengingatkan bahwa fenomena super El Nino menjadi risiko serius bagi sistem pangan nasional. Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar siklus iklim biasa, melainkan dapat memicu dampak berlapis terhadap produksi dan stabilitas harga pangan.
Eliza menjelaskan, kombinasi El Nino dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif hampir selalu berujung pada kemarau panjang, penurunan curah hujan secara signifikan, serta tekanan besar terhadap ketersediaan air, terutama di sentra produksi seperti Pulau Jawa. Dalam kondisi tersebut, sektor pertanian berpotensi mengalami perlambatan, bahkan kontraksi di sejumlah wilayah jika luas gagal tanam meningkat.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dampak El Nino tidak selalu berujung pada penurunan produksi secara drastis. Hal itu sangat bergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan.
“Kalau penurunan luas tanam bisa dikompensasi oleh peningkatan produktivitas, maka produksi tidak akan turun signifikan,” ucap Eliza saat dihubungi, Senin (20/4).
Eliza mencontohkan pengalaman Tiongkok saat El Nino 2023, di mana luas panen menurun namun produksi tetap meningkat berkat dukungan sistem irigasi yang kuat, teknologi pertanian maju, serta manajemen produksi yang efisien. Namun, ia menilai kapasitas tersebut belum sepenuhnya dimiliki Indonesia.
“Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan. Banyak lahan sawah tadah hujan, sementara sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar,” jelasnya.
Selain itu, adopsi varietas tahan kekeringan dan teknologi budidaya juga dinilai belum merata. Mayoritas petani masih menggunakan benih lama, ditambah dengan skala usaha tani yang kecil—rata-rata di bawah 0,5 hektare—yang menyulitkan percepatan intensifikasi.
Dalam skenario El Nino ekstrem, Eliza memperkirakan potensi penurunan produksi tetap ada akibat berkurangnya luas tanam. Secara historis, El Nino menekan produksi padi nasional sekitar 1–3 persen, dan bisa mencapai 2–5 persen dalam kondisi lebih ekstrem. Namun, dampak di tingkat daerah bisa jauh lebih besar, terutama di wilayah yang rentan kekeringan.
Ia menambahkan, dampak terbesar El Nino tidak hanya pada volume produksi, tetapi juga pada terganggunya kalender tanam. Banyak petani menunda tanam, sehingga panen mundur dan menciptakan kekosongan pasokan sementara di pasar, seperti yang terjadi pada El Nino 2023 yang berdampak hingga 2024.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga beras. Dengan karakter permintaan yang inelastis, gangguan kecil pada pasokan dapat langsung memicu lonjakan harga, apalagi jika diperkuat oleh ekspektasi pasar dan perilaku penahanan stok oleh pelaku usaha.
“Kalau tidak diantisipasi, ini akan berdampak pada inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah,” katanya.
Eliza juga menyoroti potensi penurunan produksi pada periode Januari–Mei 2026 sekitar 2,22 persen secara tahunan, terutama akibat turunnya luas panen pada puncak musim panen Maret–Mei. Hal ini dipengaruhi pola cuaca yang tidak ideal, yakni curah hujan tinggi di awal musim yang mengganggu tanam, lalu diikuti penurunan curah hujan yang memicu risiko kekeringan di fase akhir tanaman.
Menurutnya, kenaikan produksi pada 2025 lebih didorong oleh ekspansi luas panen dan kondisi cuaca yang mendukung, bukan peningkatan produktivitas. Akibatnya, ketika luas panen turun, produksi langsung terkoreksi, menunjukkan tingginya sensitivitas produksi terhadap faktor lahan.
Terkait rencana ekspor beras, Eliza mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati. Dalam kondisi potensi penurunan produksi dan gangguan pasokan domestik, prioritas utama seharusnya menjaga stabilitas dalam negeri.
“Ekspor dalam situasi seperti ini berisiko memperketat pasokan domestik dan meningkatkan volatilitas harga,” ujarnya.
Ia menekankan perlunya langkah antisipatif yang sistemik, mulai dari optimalisasi manajemen air melalui waduk dan irigasi, penyesuaian kalender tanam berbasis data iklim, hingga distribusi benih tahan kekeringan dan teknologi hemat air.
Selain itu, penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dinilai krusial sebagai buffer untuk meredam gejolak harga dan memastikan distribusi berjalan lancar. Pelaku usaha juga didorong melakukan diversifikasi pasokan dan memperkuat manajemen stok guna menghindari gangguan rantai pasok. (Fal/I-1)
Selain cabai rawit merah, harga cabai merah besar berada di kisaran Rp48.750 per kilogram dan cabai merah keriting Rp46.750 per kilogram.
MENTERI Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai dampak fenomena super El Nino terhadap sektor di luar pertanian relatif terbatas.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pemerintah terus mengantisipasi dampak fluktuasi harga bahan baku plastik terhadap harga pangan pokok, khususnya beras dan gula.
Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah terus mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan.
Program stabilisasi harga beras tetap berjalan tanpa kenaikan harga, meskipun terjadi tekanan biaya akibat isu kelangkaan bahan baku plastik untuk kemasan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved