Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EKSPOR April 2021 menunjukan angka yang menggembirakan, naik tinggi 60,56% (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir, khususnya sejak pandemi covid-19 yang mewabah setahun yang lalu.
Program vaksinasi covid-19 yang telah dilakukan di banyak negara termasuk di Indonesia memiliki andil dalam pemulihan ekspor Jakarta yang sempat turun karena pandemi. Kenaikan nilai ekspor terjadi pada semua negara tujuan utama ekspor.
Baca juga: 7 Bulan Terakhir, Indeks Manufaktur RI Berada di Level Ekspansi
"Kenaikan ekspor tertinggi adalah India, dengan nilai US$ 19,64 juta, naik lebih dari tiga kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi komoditas, kenaikan ekspor terutama ditunjang oleh naiknya ekspor berbagai produk kimia dan kendaraan dan bagiannya," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta Buyung Airlangga, Rabu (2/6).
Ekspor berbagai produk kimia naik hingga 235,68%, karena merupakan produk yang dibutuhkan dalam penanggulangan covid-19. Ekspor Kendaraan dan bagiannya naik 228,56% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan diberlakukannya kebijakan Insentif Relaksasi PPnBM untuk Kendaraan Bermotor.
Kinerja ekspor Jakarta April jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya meningkat sebesar 60,56%. Ditinjau dari komoditasnya, delapan dari sepuluh komoditas unggulan ekspor meningkat lebih dari 100% dan dua di antaranya naik hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu komoditas berbagai produk kimia dan kendaraan dan bagiannya.
Sepuluh komoditas unggulan ekspor tersebut menyumbang 75,85% dari total ekspor bulan ini. Komoditas berbagai produk bahan kimia pada periode ini secara year on year naik hingga 235,68% dari US$ 40,52 juta menjadi US$ 49,20 juta.
Kenaikan ini terutama disebabkan karena tingginya permintaan ke tiga negara utama tujuan ekspor yaitu China, Singapura dan India yang menyumbang 54,69% dari produk bahan kimia yang diekspor Jakarta. Ekspor Kendaraan dan bagiannya naik tajam 228,56% dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya, dimana industri otomotif ini memberi sumbangan terbesar ekspor Jakarta hingga 27,40%.
"Kenaikan ekspor Kendaraan dan bagiannya selama satu tahun terakhir didorong oleh semakin membaiknya kondisi perekonomian di beberapa negara tujuan ekspor. Kenaikan pada komoditas ini memberikan kontribusi yang signifikan bagi ekspor Jakarta," jelas Buyung.
Komoditas unggulan lainnya yang juga tetap naik secara berurutan yaitu mesin/ peralatan mekanik, lemak dan minyak nabati/ hewani, tembaga, mesin/peralatan listrik, sabun dan preparat pembersih, dan ikan dan udang. Jika dilihat dari negara tujuan utama ekspor, ekspor Jakarta ke sepuluh negara tujuan utama ekspor naik semua. India secara mengejutkan masuk dalam sepuluh negara utama tujuan ekspor pada bulan ini. Sejak pertengahan tahun 2019 India tidak pernah masuk ke dalam sepuluh negara utama tujuan ekspor.
Meningkatnya permintaan India terhadap berbagai produk kimia mengakibatkan ekspor ke India naik tinggi. Ekspor berbagai produk kimia ke India pada periode ini mencapai US$ 5,67 juta atau 28,85% dari total ekspor Jakarta ke India. Ekspor komoditas ini meningkat 223,81% dibandingkan ekspor bulan sebelumnya.
"Peningkatan ini juga tidak terlepas dari kondisi di India yang sedang menghadapi lonjakan kasus covid-19. Hal ini mengakibatkan kebutuhan berbagai produk kimia yang dibutuhkan dalam mengatasi covid-19 juga meningkat," tandasnya. (OL-6)
Kapasitas produksi pipa stainless steel maksimal bisa mencapai hingga 1.100 ton per tahun.
Airlangga Hartarto menegaskan Amerika Serikat penyumbang surplus perdagangan tertinggi, sekaligus salah satu destinasi ekspor terbesar Indonesia.
Pogram Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor besutan Kementerian Perdagangan menunjukkan hasil menggembirakan
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan forum investasi Indonesia-Tiongkok di Beijing menjadi momentum strategis untuk mendorong pelaku usaha nasional.
Tiongkok menjadi negara utama ekspor beberapa komoditas unggulan industri pengolahan seperti hasil olahan minyak kelapa sawit, hasil olahan nikel dan lainnya.
Indonesia bidik pasar Jepang untuk ekspor pelet EFB dan cangkang sawit. Dengan potensi setara 38.760 MW, biomassa sawit jadi andalan baru devisa negara di 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved