Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUTA Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) Mahendra Siregar melihat ada potensi besar bagi para pelaku usaha di Tanah Air untuk memanfaatkan peluang dari fenomena perang dagang yang tengah berlangsung.
Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam dinilai sebagai negara yang sangat mampu menarik keuntungan.
Namun, akhir-akhir ini, ia mengatakan 'Negeri Paman Sam' tengah menyoroti negara tersebut lantaran dianggap melakukan berbagai kecurangan dalam aktivitas perdagangan internasional.
"Salah satunya ialah memanipulasi surat keterangan asal. Ada beberapa produk yang sebenarnya bukan berasal dari Vietnam, kemudian diganti stempel sehingga dianggap dari Vietnam untuk dikirim ke AS," ujar Mahendra.
Ketika muncul citra buruk pada Vietnam, Indonesia justru dalam kondisi yang baik terkait relasi dengan AS.
Dalam waktu dekat, finalisasi GSP Review terhadap produk-produk Nusantara akan segera rampung yang tentunya diharapkan membawa keuntungan bagi kedua negara.
Baca juga: Ada Penyakit, Ekspor Karet Bisa Turun 540 Ribu Ton
Indonesia juga telah menetapkan sejumlah produksi yang akan menjadi prioritas utama untuk dikirim ke AS seperti pakaian jadi, produk karet, alas kaku, elektronik, furnitur, produk kayu, aneka kimia, bunga buatan, mainan anak, perhiasan dan paper board.
"Dari semua produk itu, ada estimasi tambahan ekspor mencapai US$10 miliar," tuturnya.
Di luar itu, ada pula lima produk yang juga berpeluang ditingkatkan perdagangannya yakni permesinan, alat optik, suku cadang kendaraan, produk plastik dan produk kimia organik yang juga memiliki potensi nilai US$10 miliar.
"Namun, untuk lima produk terakhir, kita masih membutuhkan investasi tambahan untuk produksi yang lebih besar," ucapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia ke AS selama Januari-Juni 2019 tercatat sebesar US$8,33 miliar. Turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang menyentuh US$8,5 miliar.
Adapun, pakar perdagangan internasional Shanti Ramchand Samdhasani mengungkapkan Indonesia tidak perlu iri kepada Vietnam yang sukses meraup untung besar dari perang dagang saat ini.
Pasalnya, ia menjelaskan, Vietnam telah membangun ekosistem industri manufaktur sejak puluhan tahun lalu.
"Jadi, hasil yang mereka raup saat ini adalah buah dari kerja keras yang dilakukan sejak lama," papar Shanti.
Di samping itu, Vietnam juga telah memiliki kesepakatan dagang dengan AS sejak 1980-an sehingga 'Negeri Paman Sam' memberikan perlakuan spesial kepada negara tersebut.
Terlebih, secara geografis, letak Vietnam sangat dekat bahkan berbatasan langsung dengan Tiongkok. Artinya, barang-barang dari 'Negeri Tirai Bambu' yang dijegal AS, bisa didapat dari Vietnam.
"Itu tidak menjadi persoalan bagi AS karena Vietnam memiliki kualitas barang yang sudah memenuhi standar," jelasnya.
Maka dari itu, ketimbang mengkhawatirkan keberhasilan Vietnam, Shanti meminta pemerintah Indonesia fokus membangun berbagai hal yang dapat menopang industri manufaktur. (OL-2)
Kapasitas produksi pipa stainless steel maksimal bisa mencapai hingga 1.100 ton per tahun.
Airlangga Hartarto menegaskan Amerika Serikat penyumbang surplus perdagangan tertinggi, sekaligus salah satu destinasi ekspor terbesar Indonesia.
Pogram Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor besutan Kementerian Perdagangan menunjukkan hasil menggembirakan
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan forum investasi Indonesia-Tiongkok di Beijing menjadi momentum strategis untuk mendorong pelaku usaha nasional.
Tiongkok menjadi negara utama ekspor beberapa komoditas unggulan industri pengolahan seperti hasil olahan minyak kelapa sawit, hasil olahan nikel dan lainnya.
Indonesia bidik pasar Jepang untuk ekspor pelet EFB dan cangkang sawit. Dengan potensi setara 38.760 MW, biomassa sawit jadi andalan baru devisa negara di 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved