Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EKSPOR minyak kelapa sawit pada Februari mengalami pelemahan dari bulan sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor komoditas utama itu pada bulan kedua di 2019 sebesar 1,19 juta ton, turun 15% dari Januari yang mencapai 1,41 juta ton.
"Penurunan terjadi karena berkurangnya permintaan dari India. Selain itu, negara-negara Eropa seperti Belanda, Spanyol, dan Italia juga mengurangi impor mereka," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Jumat (15/3).
Pelemahan ekspor sawit dikhawatirkan akan terus berlangsung ke depan. Pasalnya, Uni Eropa tiada henti melakukan upaya pelarangan penggunaan minyak nabati berbasis kelapa sawit di Benua Biru.
Yang teranyar, Rabu (13/3) lalu, Komisi Uni Eropa menentukan kriteria baru penggunaan minyak nabati untuk bahan baku produksi biodiesel.
Baca juga: Produk Tembakau Alternatif Perlu Dapat Perhatian
Dalam aturan baru itu, minyak sawit dikategorikan sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan lantaran dianggap mengakibatkan deforestasi berlebihan.
Dengan demikian, minyak sawit tidak diizinkan digunakan sebagai komponen bahan baku.
Kriteria tersebut disusun dalam rangka pembentukan undang-undang Renewable Energy Directive II (RED II) untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan menjadi 32 persen pada tahun 2030.
Pemerintah dan Parlemen Uni Eropa memiliki waktu dua bulan untuk memutuskan apakah akan menerima atau memveto keputusan Komisi.
Ketentuan baru itu jelas mengancam industri minyak sawit Tanah Air. Komoditas tersebut menyumbang 12,9% dari total ekspor nonmigas.
Bila ditinjau dari total ekspor secara keseluruhan, kontribusi minyak sawit terhadap ekspor dua bulan pertama 2019 mencapai 11,14%. (OL-2)
Dengan mengelola lebih dari 40 persen total luas perkebunan sawit nasional, petani tidak lagi cukup hanya berperan sebagai produsen bahan baku. Mereka perlu didorong untuk naik kelas.
Industri kelapa sawit turut memberikan multiplier effect positif terhadap perekonomian daerah serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani, pelaku UMKM, hingga masyarakat.
Implementasi program tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan pendidikan teknis serta dukungan terhadap penelitian dan pemberian beasiswa di bidang kelapa sawit.
Lebih dari empat dekade sejak introduksi serangga penyerbuk pertama pada 1982, industri kelapa sawit Indonesia kembali memasuki babak baru melalui penguatan inovasi berbasis sains.
Penyebab karamnya KM Berkah Utama II diduga akibat kelebihan muatan. Saat berlayar, KM Berkah Utama II dilaporkan memuat sekitar 40 ton tanda buah segar (TBS).
Presiden Prabowo Subianto umumkan investasi besar untuk pembangunan kilang pengolahan avtur dari kelapa sawit dan minyak jelantah demi swasembada energi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved