Pendaki tak Sengaja Temukan Jejak Dunia 280 Juta Tahun di Alpen Italia

Muhammad Ghifari A
22/4/2026 16:19
Pendaki tak Sengaja Temukan Jejak Dunia 280 Juta Tahun di Alpen Italia
Ekosistem prasejarah yang berasal dari 280 juta tahun lalu telah ditemukan di pegunungan Lombardia.(Dok. Museo di Storia Naturale di Milano)

SEORANG pendaki di Italia tanpa sengaja membuka tabir kehidupan purba berusia ratusan juta tahun di Pegunungan Alpen. Temuan mengejutkan ini berasal dari kawasan Valtellina Orobie, Lombardia.

Para ilmuwan menyebutnya sebagai salah satu jejak ekosistem prasejarah paling lengkap, berasal dari sekitar 280 juta tahun lalu, jauh sebelum era dinosaurus. Semua bermula dari langkah sederhana.

Claudia Steffensen, warga Lovero, sedang mendaki bersama suaminya di lembah Ambria, dekat perbatasan Swiss. Saat menuruni jalur berbatu, ia menginjak batu abu-abu dengan pola aneh. Alih-alih mengabaikannya, ia justru memperhatikan lebih dekat.

“Saya melihat pola melingkar dengan garis bergelombang. Saat itu saya sadar, ini bukan batu biasa, ini jejak kaki,” ujarnya.

Foto temuan itu langsung dikirim ke kenalannya, fotografer alam Elio Della Ferrera, lalu diteruskan ke paleontolog Cristiano Dal Sasso di Museum Sejarah Alam Milan.

Hasil analisis awal mengonfirmasi, itu adalah jejak reptil purba. Penelitian lanjutan membuka fakta yang jauh lebih besar. Di lokasi dengan ketinggian 1.700 meter, tim peneliti menemukan ratusan jejak fosil lain, bahkan hingga hampir 3.000 meter di atas permukaan laut.

Jejak tersebut berasal dari berbagai makhluk, mulai dari reptil, amfibi, hingga serangga, beberapa di antaranya membentuk jalur pergerakan yang masih terlihat jelas.

Hewan terbesar yang meninggalkan jejak ini diperkirakan memiliki panjang hingga 2-3 meter. Yang membuat penemuan ini luar biasa bukan hanya jumlahnya, tetapi juga detailnya.

Menurut ahli iknologi Lorenzo Marchetti dari Berlin, bagian halus seperti jejak kuku bahkan bekas perut hewan masih terlihat jelas, sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam catatan fosil.

Tak hanya itu, peneliti juga menemukan fosil tumbuhan, biji-bijian, hingga jejak tetesan air hujan yang ikut terawetkan. Semua ini memberi gambaran utuh tentang ekosistem di masa lalu.

Periode Permian, tempat asal fosil ini, berakhir dengan kepunahan massal terbesar dalam sejarah Bumi, dipicu lonjakan suhu global ekstrem.
Menariknya, para ilmuwan menilai perubahan iklim saat ini justru berperan membuka kembali jejak-jejak kuno tersebut, akibat mencairnya es dan salju di pegunungan.

Presiden taman alam Valtellina Orobie, Doriano Codega, menyebut temuan ini sangat langka.

“Bukan hanya karena kelengkapannya, tapi juga karena lokasinya yang ekstrem,” ujarnya.

Sejumlah fosil kini telah dipindahkan ke Museum Sejarah Alam Milan, sementara penelitian di lokasi masih terus berlanjut. Bagi Steffensen, batu yang kini dijuluki “Batu Nol” itu menjadi momen tak terlupakan.

“Saya bangga bisa jadi bagian kecil dari penemuan ini,” katanya. (The Guardian/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya