Ketika the Citizens Mengudeta Puncak Klasemen

Suryopratomo
24/4/2026 05:00
Ketika the Citizens  Mengudeta  Puncak Klasemen
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola(MI/Seno)

KOMPETISI sepak bola ibarat lari maraton. Yang dibutuhkan bukanlah kecepatan, melainkan konsistensi. Kemampuan untuk menjaga ritme, juga perbaikan berkelanjutan sepanjang kompetisi, akan menjadi penentu keberhasilan.

Josep Guardiola harus diakui ahli dalam hal ini. Ketenangan, kecermatan, ketelitian, kesabaran membawa Manchester City mencapai puncak kematangan. Tidak usah heran dalam enam pertandingan sebelum kompetisi berakhir, ia mampu membawa tim asuhannya kembali ke puncak klasemen Liga Primer.

Kemenangan 1-0 atas tuan rumah Burnley pada Rabu malam cukup untuk membawa the Citizens mengudeta Arsenal. Dengan grafik permainan seperti ini, Manchester City sepertinya tidak akan tertahankan untuk kembali memenangi Liga Primer.

Mikel Arteta harus menerima kenyataan pahit itu. Mantan asisten Pep Guardiola tersebut harus mengakui bahwa ia memang 'orang kedua'. Tidak mengherankan jika tim asuhannya pun empat kali harus menempati peringkat kedua.

Kekalahan 1-2 dari Manchester City pekan lalu membuyarkan semua mimpi indah untuk bisa mengangkat piala yang sudah lebih dari dua dekade tidak pernah dirasakan the Gunners. Lagi-lagi Arteta gagal untuk menjaga konsistensi permainan tim asuhannya.

Di Stadion Etihad pekan lalu, terlihat paniknya Arteta. Ia menurunkan secara bersamaan Eberechi Eze dan Martin Odegaard. Eze sampai ditempatkan di sayap kiri, padahal ia memiliki karakter yang sama dengan Odegaard untuk beroperasi dari lini kedua.

Odegaard sendiri terpaksa dipercaya lagi karena Arteta merasa tidak yakin dengan materi pemain lain yang dimiliki. Padahal, selama ini Odegaard lebih banyak dibangkucadangkan sampai pemain asal Norwegia itu berpikiran untuk hengkang di akhir musim ini.

 

JURUS MABUK 

Dengan jurus mabuk seperti itu, jangan heran kalau permainan Arsenal menjadi tidak berkembang. Apalagi para pemain the Gunners terlalu mudah kehilangan bola—bahkan di daerah permainan mereka sendiri—sehingga lebih banyak tertekan.

Eze, yang biasanya sempurna mengontrol bola, bisa dicuri dengan mudah bolanya oleh center-back Abdulkodir Khusanov. Bahkan di depan kotak penalti, Gabriel Martinelli yang menjadi pemain pengganti bisa terjatuh ditabrak badan pemain City dan kehilangan bola. Beruntung tendangan Erling Haaland masih membentur mistar gawang.

Dengan materi pemain yang tidak biasa dan tidak rutin bermain bersama, banyak salah pengertian. Pada menit ke-59 misalnya, sebuah peluang emas di depan gawang gagal menjadi gol karena Odegaard dan Martinelli bertabrakan sendiri dalam menyambut bola muntah.

Akibat serangan bertubi-tubi Manchester City, barisan pertahanan Arsenal pun ikut goyah. Bayangkan, lima pemain Arsenal di dalam kotak penalti tidak bisa menahan solo run second striker City, Rayhan Cherki. Pemain Prancis itu bisa meliuk-liuk di antara kaki para pemain Arsenal kemudian bebas untuk menjebol gawang David Raya.

Hal yang sama terjadi dengan gol kedua yang dicetak Haaland. Pemain Norwegia itu bisa menerima umpan diagonal sepanjang kotak penalti Arsenal tanpa ada satu pun pemain belakang yang bisa mengintersepnya.

Dengan dua kekalahan berturut-turut, wajar apabila Arsenal kehilangan keunggulan poin yang sudah dikantongi. Terutama kekalahan sebelumnya dari Bournemouth merupakan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan dan wajar apabila mereka kehilangan piala yang ibaratnya sudah ada di genggaman mereka.

Hanya keledai yang terantuk di batu yang sama dua kali. Arteta bukan hanya dua kali, kegagalan kali ini merupakan yang keempat kalinya ia alami. Sebuah pelajaran berharga yang sangat pahit harus ditelan.

Wajar apabila para pendukung klub itu mempertanyakan masih pantaskah Arteta dipercaya menangani Arsenal. Pada saat semua kebutuhan pemain dipenuhi, ternyata prestasi terbaik tidak pernah kunjung datang.

Apabila Manchester United kehilangan Sir Alex Ferguson, Arsenal benar-benar kehilangan Prof Arsene Wenger. Guru sepak bola asal Prancis itulah yang terakhir bisa membesarkan Arsenal.

 

ADA KESEMPATAN

Masih ada satu bulan waktu tersisa sebelum kompetisi berakhir. Tentunya walaupun kecil, masih ada peluang yang dimiliki Arteta untuk mengubah nasib hidupnya sebagai seorang pelatih.

Kuncinya di enam pertandingan tersisa mereka tidak hanya tidak boleh kehilangan poin, tetapi juga harus lebih produktif mencetak gol. Bisa jadi penentuan juara musim ini bergantung pada jumlah selisih gol atau jumlah mencetak gol.

Harus diakui, Manchester City jauh lebih produktif. Manchester City memiliki banyak pemain yang mampu mencetak gol. Selain Haaland dan Cherki, masih ada Antoine Semenyo dan Bernando Silva. Bahkan dua pemain belakang mereka, Marc Guehi dan Nico O’Reilly, bisa menjadi mesin gol.

Arsenal harus membuktikan bahwa mereka juga tim yang produktif. Pertandingan Sabtu malam ini melawan Newcastle United merupakan ujian, apakah tim asuhan Arteta mampu bangkit lagi dari keterpurukan.

Meski Newcastle pun sedang menghadapi masalah dengan konsistensi permainan mereka, Sabtu malam nanti beban akan lebih banyak berada di pundak para pemain Arsenal. Mereka tidak boleh sampai kehilangan poin. Kalau itu sampai terjadi, moral tim akan semakin terpuruk dan Manchester City akan melenggang ke tangga juara.

Kuncinya Arteta harus tenang. Ia harus kembali kepada jati diri Arsenal yang sesungguhnya. Main dengan mengoptimalkan serangan dari sayap untuk menggoyahkan pertahanan lawan kemudian tinggal memilih menggunakan wallpass untuk menembus kotak penalti lawan atau melalui bola atas.

Arteta harus memilih apakah memercayakan Odegaard, Eze, atau Kai Havertz sebagai pengatur serangan dan second striker. Viktor Gyokeres lebih baik dikembalikan sebagai ujung tombak karena terbukti ia menjadi penentu Swedia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Arteta perlu pemain yang oportunis seperti Gyokeres.

Bukayo Saka bisa kembali diandalkan untuk beraksi dari sayap kanan, sementara Martinelli mengobrak-abrik dari sayap kiri. Dua gelandang Declan Rice dan Martin Zubimendi bisa diandalkan untuk menjaga keseimbangan tim. Yang terpenting semua pemain harus percaya diri akan kualitas yang mereka miliki dan berani fight untuk memenangi permainan.

Newcastle memang sedang limbung setelah tiga kekalahan beruntun yang mereka alami dan membuat pelatih Eddy Howe terancam. Namun, 'the Magpies' punya kemampuan untuk membuat kejutan dan kalau itu terjadi, kiamatlah Arsenal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya