Arsenal, dari Quadruple Jadi Tidak

Suryopratomo
17/4/2026 05:00
Arsenal, dari Quadruple Jadi Tidak
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola(MI/Seno)

SAMPAI 22 Maret lalu, Arsenal sepertinya begitu digdaya sehingga dijagokan membuat sejarah baru merebut empat gelar alias quadruple pada musim ini. Namun, kegagalan merebut Piala Carabao setelah dikalahkan Manchester City 0-2 membuat harapan itu meredup.

Hanya seminggu setelah itu, tim asuhan Mikel Arteta tersingkir dari ajang Piala FA. Di luar dugaan mereka dipaksa menyerah 1-2 oleh Southampton.

Keunggulan di Liga Primer pun secara perlahan berkurang. Kekalahan 1-2 di Stadion Emirates dari Bournemouth membuat 'the Gunners' dikejar lagi saingan terberat mereka, Manchester City, yang sebenarnya sempat limbung.

Kalau Minggu malam nanti Arsenal tidak sanggup menahan gempuran dari 'the Citizens', malapetaka besar akan dihadapi Arteta. Dari quadruple bisa-bisa 'the Gunners' tidak bisa mengangkat satu pun piala.

Tiga musim sebelumnya, Arsenal menghadapi kondisi yang hampir sama. Tampil meyakinkan di awal kompetisi, tetapi kehabisan bensin menjelang akhir kompetisi. Sungguh ironis apabila untuk keempat kalinya Arsenal hanya bisa menjadi runner-up. Seakan- akan takdir Arteta hanya bisa menjadi 'orang kedua'.

Di ajang Liga Champions yang masih bisa diharapkan Arsenal, sepertinya sulit bagi mereka untuk menjadi yang terbaik. 'The Gunners' tidak cukup meyakinkan untuk menyingkirkan Sporting Lisbon di perempat final. Sementara itu, lawan yang harus mereka hadapi di semifinal ialah Atletico Madrid yang secara gemilang menyingkirkan raksasa Barcelona.

 

APA YANG SALAH

Menjadi pertanyaan, apa yang salah dengan Arsenal. Dari sisi materi pemain, Arteta memiliki segalanya. Ia mempunyai pemain yang sama kualitasnya sehingga tinggal memilih pemain yang paling siap untuk diturunkan.

Sekali lagi sepak bola memberikan pelajaran bahwa tim yang baik bukan hanya kumpulan pemain bintang. Tim yang baik itu ialah tim yang bisa menjadi satu jiwa. Sebelas pemain harus menjadi satu kesatuan yang saling mengisi.

Prinsip 'never change the winning team' tidak dipegang teguh oleh Arteta. Pelatih asal Spanyol itu meremehkan Bournemouth dan merasa bisa mudah untuk mengalahkan mereka.

Itu terlihat dari materi pemain yang ia turunkan. Dua pemain yang selama ini duduk di bangku cadangan ia mainkan sebagai starter, yaitu second striker Kai Havertz dan bek kanan Ben White. Dari sisi teknik permainan memang keduanya tidak diragukan kemampuannya, tetapi setelah lama absen dalam kompetisi butuh waktu bagi mereka untuk menyesuaikan diri.

Akibatnya, White menjadi titik kelemahan. Kecanggungannya untuk mengambil posisi dan menjaga daerahnya membuat penyerang tim tamu bisa bebas beraksi dari sayap kiri dan melepas umpan terukur ke mulut gawang yang diselesaikan dengan sempurna oleh Eli Junior Kroupi.

Kehadiran Havertz tidak membuat daya dobrak Arsenal menjadi lebih hebat. Penyerang asal Jerman itu membutuhkan adaptasi untuk tampil kembali dalam kompetisi yang ketat seperti Liga Primer.

Kalau saja keduanya dimasukkan sebagai pemain pengganti, tentu ceritanya akan berbeda. Setidaknya 'the Gunners' bisa mengembangkan permainan mereka dan mencetak gol lebih dulu.

Nasi kini sudah menjadi bubur. Arsenal tidak punya lagi ruang untuk menjaga jarak dari para pesaing mereka. Bahkan tidak boleh lagi ada ruang untuk berbuat salah karena satu kekalahan bisa membuyarkan mimpi mereka mengangkat trofi Liga Primer yang tidak pernah bisa mereka lakukan sejak 2003/2004.

Apalagi laga Minggu malam nanti akan menentukan siapa yang akan memenangi Liga Primer musim ini. Pertemuan di Stadion Etihad, kandang 'the Citizens', merupakan pertandingan final dan siapa yang menang sulit untuk bisa ditahan menjadi juara.

 

LAGI-LAGI MANCHESTER CITY

Beban yang harus dihadapi Arteta dan para pemain Arsenal berlipat ganda karena Manchester City merupakan momok bagi mereka. Tim asuhan Josep Guardiola itulah yang selalu membuyarkan mimpi 'the Gunners' untuk menjadi juara.

Berbeda dengan Arteta, Pep Guardiola justru sudah menemukan kembali tim yang ia inginkan. Kehadiran <i>center-back<p> terbaik Inggris, Marc Guehi, membuat pertahanan 'the Citizens' lebih solid. Apalagi mantan pemain Crystal Palace itu mempunyai naluri yang tajam untuk mencetak gol.

Sementara itu, di barisan depan kehadiran mantan penyerang sayap asal Bournemouth Antoine Semenyo membuat serangan lebih hidup. Manchester City bisa menggoyang pertahanan lawan dari kanan dan kiri karena ada Jeremy Doku yang lincah di sayap kiri.

Semenyo menjadi kartu as bagi Manchester City karena ia tidak kalah tajam jika dibandingkan dengan ujung tombak Erling Haaland. Kalau penyerang asal Norwegia itu sedang mandul, Semenyo hadir sebagai penggantinya.

Belum lagi <i>second striker<P> Rayan Cherki yang bisa menjadi faktor pengejut lawan. Penyerang asal Prancis itu sangat tajam dan dari lini kedua bisa menjadi penggedor gawang lawan.

Dalam tiga pertandingan terakhir, Manchester City bisa sembilan kali menjebol gawang lawan, tanpa sekali pun kebobolan. Padahal, lawan yang dihadapi 'kelas berat' semua, yakni Arsenal, Liverpool, dan Chelsea.

Itulah yang pantas membuat Arteta khawatir. Ia harus mampu menyusun tim terbaik untuk bertandang ke Stadion Etihad. Semua pemain harus sadar bahwa pertandingan Minggu malam nanti merupakan pertandingan hidup dan mati.

Pilihan terbaik bagi Arteta memercayakan Eberechi Eze atau Martin Odegaard untuk menjadi pengatur permainan. Declan Rice dan Martin Zubimendi fokus untuk menjadi <i>double-six<p> membantu <i>center-back<p> Gabriel dan William Saliba menahan gempuran serangan Bernardo Silva dan kawan-kawan.

Apabila barisan pertahanan bisa dirapatkan, trio penyerang Bukayo Saka, Viktor Gyokeres, dan Gabriel Martinelli bisa mencuri gol kemenangan. Sukses untuk lebih dulu bisa menjebol gawang Manchester City akan menjadi penentu kemenangan. Kalau tidak, tim asuhan Pep Guardiola akan kembali membuyarkan mimpi juara Arsenal.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya