Polisi Periksa Majikan 2 PRT yang Loncat dari Lantai 4 Kos di Benhil

Rahmatul Fajri
23/4/2026 22:45
Polisi Periksa Majikan 2 PRT yang Loncat dari Lantai 4 Kos di Benhil
Ilustrasi(freepik)

Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap majikan dari dua pekerja rumah tangga (PRT) berinisial R dan D yang nekat meloncat dari lantai 4 bangunan kos di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

"Iya benar (majikan sudah diperiksa)," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Saputra saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026). 

Roby belum menjelaskan secara rinci hasil pemeriksaan majikan kedua PRT tersebut. Pasalnya, pemeriksaan dilakukan oleh penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya. 

"Diperiksa di Ditkrimum Polda Metro Jaya. Sekarang (penanganan perkara) masih di Polsek, nanti kemungkinan ditarik Polda," ujar Roby. 

Diketahui, dua perempuan Asisten Rumah Tangga (ART) nekat melompat dari lantai empat sebuah kamar kos di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Insiden tersebut mengakibatkan satu orang tewas dan satu lainnya mengalami luka serius.

Korban meninggal dunia diketahui berinisial R, sementara rekan korban berinisial D dilaporkan selamat namun mengalami patah tangan. Keduanya diduga nekat melakukan aksi berbahaya tersebut demi melarikan diri dari rumah majikan.

Roby mengatakan dugaan sementara, keduanya merasa tidak betah bekerja di tempat tersebut.

"Masih didalami, informasi sementara, orang itu katanya enggak betah," kata Roby.

Berdasarkan pemeriksaan awal, kedua korban diketahui melompat secara bersamaan dari ketinggian lantai empat. Aksi yang dilakukan untuk melarikan diri tersebut berakhir fatal bagi salah satu korban.

“Jadi berdua loncat dari lantai 4. Satu meninggal, satu patah tangan,” ujar Roby menjelaskan kondisi para korban.

Dugaan bahwa mereka mencoba melarikan diri muncul dari keterangan sementara yang dihimpun polisi dari korban selamat (D) serta keterangan dari ART lainnya yang berada di lokasi. “Iya, satu dari situ, satu lagi dari PRT yang lain," ucapnya.

Roby mengatakan pihaknya menelusuri kabar yang menyebutkan bahwa kedua PRT tersebut merasa tertekan karena perlakuan majikan yang dinilai kasar atau galak. Namun, Roby menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah ada tindakan kekerasan fisik secara spesifik sebelum hasil pemeriksaan rampung.

“Sadis itu enggak tahu ya gimana kata-katanya ya. Enggak ngomong suka disiksa, tapi galak. Iya, galak, galak. Begitulah, sadis lah, galak. Nah itu kan bisa saja dengan omongan, bisa saja dengan tindakan. Kita juga belum tahu karena belum selesai pemeriksaan," kata Roby. (Faj)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya