Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyoroti fenomena penyempitan ruang demokrasi di mana kritik masyarakat kini cenderung dibalas dengan pelaporan polisi dan intimidasi oleh aktor non-negara. Usman menilai, narasi "antek asing" yang kerap dilontarkan Presiden Prabowo Subianto telah menciptakan persepsi bahwa aktivis, akademisi, dan pengamat adalah musuh negara.
Menurut Usman, pernyataan kepala negara tidak dapat dipisahkan dari munculnya berbagai pelaporan hukum terhadap suara-suara kritis. Ia mensinyalir adanya upaya manipulasi untuk membungkam pengkritik melalui proksi atau aktor non-negara.
"Pernyataan Prabowo sebagai kepala negara nggak bisa dipisahkan dari pelaporan atas nama apapun dan oleh siapapun gitu ya. Kan laporan bisa dibuat-buat. Itu bisa dikerahkan, bisa dimanipulasi gitu. Jadi ada aktor-aktor non-negara yang menjadi proksi dari kepentingan tersembunyi dari negara," ujar Usman dalam keterangannya, Selasa (21/4).
Usman mengkhawatirkan dampak dari pelabelan aktivis sebagai pembawa kepentingan asing terhadap persepsi aparat keamanan di lapangan. Ia menilai doktrin tersebut dapat memicu manifestasi serangan fisik maupun teror digital bagi mereka yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah.
"Ada pernyataan dari presiden yang meletakkan aktivis, meletakkan akademisi, pengamat sebagai musuh. Kalau sudah dianggap membawa kepentingan asing, prajurit tentara yang berpikir secara kacamata kuda, dia akan berpikir 'Oh berarti itu musuh kami'. Nah itu bisa dimanifestasikan dalam berbagai cara. Menyerang secara fisik, meneror secara digital," tegasnya.
Usman mencatat bahwa kritik terhadap program strategis, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau kondisi ekonomi, tidak lagi dipandang sebagai bahan masukan untuk didiskusikan secara sehat. Sebaliknya, masyarakat seolah dipaksa untuk "berbaris" mendukung pemerintah atas nama persatuan nasional.
Usman menilai gaya kepemimpinan yang mempersonalisasi rakyat ke dalam diri pemimpin merupakan ciri dari otoritarianisme.
"Kritik-kritik itu tidak diletakkan sebagai bahan masukan yang dipertimbangkan. Malah diajak berbaris di bawah persatuan nasional untuk menopang pemerintahan Prabowo. Ini ciri dari pemimpin otoriter. Ciri dari pemimpin diktator yang hanya mendikte. Seolah-olah semuanya 'Saya, saya, saya'," ungkap Usman.
"Harusnya kan, 'Saya telah berkonsultasi dengan DPR, saya telah mendengarkan pertimbangan masyarakat'. Itu kan tidak ada. Itu seperti raja. Raja saja di dalam banyak praktik kesultanan berkonsultasi dengan dewan penasehat. Tidak semua monarki itu pasti absolut," pungkasnya. (Faj/P-3)
Masyarakat perlu mampu melihat capaian sekaligus memberikan masukan terhadap kekurangan yang ada
Didi Mahardika Sukarno menilai Indonesia membutuhkan narasi kebangsaan yang menyejukkan di tengah tantangan demokrasi.
Kuasa hukum pemohon, M. Fauzan Alaydrus, menjelaskan bahwa pihaknya telah memperbaiki permohonan dengan memperjelas dasar pengujian dan dalil yang diajukan.
Unggahan BEM UGM yang menampilkan simbolisasi Presiden Republik Indonesia menuai kritik tajam.
DI antara isu yang mengguncang dunia Islam dari Maroko di barat hingga Indonesia di timur adalah sekularisme, baik sekularisme politik maupun kultural.
Rikwanto memberikan analogi mengenai fungsi CCTV di lingkungan masyarakat. Menurutnya, di era digital saat ini, rekaman kejadian adalah bukti yang tidak terbantahkan.
Polisi telah menerima laporan tersebut. Saat ini, status terlapor masih dalam tahap penyelidikan.
KETUA Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulul Abshar Abdalla menyoroti pentingnya humor dalam kehidupan bermasyarakat. Ia turut menyayangkan soal laporan terhadap Komika Pandji Pragiwaksono
KETUA Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla menegaskan yang melaporkan ke polisi soal Mens Rea Pandji Pragiwaksono di Polda Metro Jaya, bukan perwakilan PBNU
Polda Metro Jaya mencatat jumlah laporan polisi tertinggi secara nasional sepanjang 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved