Bedah Buku Boni Hargens: Menelaah Transformasi Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Tantangan Era Digital

Rahmatul Fajri
12/4/2026 21:31
Bedah Buku Boni Hargens: Menelaah Transformasi Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Tantangan Era Digital
Ilustrasi(Dok Istimewa)

GURU Besar Ilmu Politik, Lili Romli, merekomendasikan buku terbaru karya analis politik senior Boni Hargens yang berjudul ‘Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital’ sebagai referensi utama bagi kalangan akademisi maupun praktisi. Buku tersebut dinilai mampu membedah dinamika politik secara komprehensif, mulai dari akar teori hingga relevansinya di era teknologi saat ini.

Hal itu disampaikan Lili Romli dalam acara peluncuran dan bedah buku yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (11/4/2026). Selain Lili, hadir pula sebagai pembicara Peneliti BRIN Syafuan Rozi dan Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo.

"Saya membaca buku ini serasa sudah melampaui beberapa mata kuliah karena diulas secara komprehensif soal ilmu politik, baik dari sejarahnya, pendekatan, sistem politik, hingga pengaruh teknologi," ujar Lili melalui keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Dalam ulasannya, Lili menyebut Boni Hargens berhasil membantah persepsi negatif publik yang sering menganggap politik sebagai hal yang kotor dan penuh tipu muslihat. Dengan merujuk pada pemikiran filsuf besar seperti Sokrates, Plato, hingga Aristoteles, buku ini menekankan bahwa politik pada hakikatnya adalah sebuah kebajikan.

Satu hal yang menarik perhatian Lili adalah keberanian Boni mengaitkan ilmu politik dengan ilmu intelijen dalam konteks era digital.

"Bagi saya, itu sesuatu yang kekinian, bagaimana politik di era digital dan bagaimana ilmu politik 'kawin' dengan ilmu intelijen untuk mengamankan kepentingan nasional," jelasnya.

Paket Lengkap dan Strategis

Apresiasi serupa datang dari pengamat publik Karyono Wibowo. Ia menyebut buku setebal 582 halaman ini sebagai paket lengkap yang memuat mazhab politik kenegaraan. Karyono menyoroti bab khusus yang membahas titik temu antara intelijen dan demokrasi.

"Satu hal yang menarik bagi saya, Boni membahas bagaimana intelijen dan demokrasi bisa berjalan beriringan dengan titik temu keamanan negara atau kepentingan nasional. Meski ada pertanyaan terbuka, apakah intelijen bisa sepenuhnya demokratis?" kata Karyono.

Sementara itu, Peneliti BRIN Syafuan Rozi mengajak para aktor politik untuk membaca karya ini agar perdebatan serta pengambilan kebijakan di Indonesia memiliki landasan filosofis yang kuat demi kepentingan bersama. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya