Perbandingan Biaya Mobil Listrik vs Konvensional: Hemat Hingga 75 Persen

Basuki Eka Purnama
13/4/2026 10:27
Perbandingan Biaya Mobil Listrik vs Konvensional: Hemat Hingga 75 Persen
Petugas melakukan mengisi daya baterai mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) rest area KM 166 Tol Cipali, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/12/2025).(ANTARA/Dedhez Anggara.)

PERDEBATAN mengenai efisiensi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dibandingkan kendaraan konvensional berbasis bahan bakar minyak (BBM) kian menemui titik terang. Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi), Arwani Hidayat, mengungkapkan adanya perbedaan biaya operasional yang sangat signifikan di antara keduanya.

Berdasarkan pengalaman para pengguna, biaya yang dikeluarkan untuk mengonsumsi energi pada mobil listrik jauh lebih murah, terutama untuk penggunaan harian di dalam kota maupun perjalanan jarak jauh.

Efisiensi Biaya Operasional

Arwani menjelaskan bahwa untuk penggunaan dalam kota, rata-rata pengguna EV hanya menghabiskan biaya sekitar Rp250 per kilometer. Angka ini melonjak sedikit menjadi Rp350 per kilometer untuk perjalanan luar kota, terutama bagi kendaraan yang memiliki performa atau power besar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan mobil konvensional (Internal Combustion Engine/ICE). Biaya operasional mobil berbahan bakar fosil bisa mencapai empat kali lipat dari biaya operasional mobil listrik.

Kategori Perjalanan Mobil Listrik (EV) Mobil Konvensional (BBM)
Dalam Kota ± Rp250 / km ± Rp1.000 / km
Luar Kota ± Rp350 / km ± Rp1.200 / km

Infrastruktur Pendukung yang Masif

Selain faktor kehematan, pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia juga didukung oleh ketersediaan sarana pengisian daya yang terus meningkat. Berdasarkan data PT PLN (Persero), hingga tahun 2025, infrastruktur pengisian daya telah tersebar luas untuk memudahkan mobilitas pengguna.

Layanan Pendukung PLN Jumlah / Capaian (Data 2025)
Total Unit SPKLU 4.655 Unit
Lokasi Sebaran SPKLU 3.007 Lokasi
Pengguna Home Charging Services 70.250 Pelanggan

Dinamika Pasar dan Isu Global

Meski menawarkan efisiensi tinggi, Arwani mengakui bahwa pertumbuhan pengguna mobil listrik sempat mengalami perlambatan di awal tahun 2026. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran konsumen terkait isu pencabutan insentif pembelian kendaraan listrik oleh pemerintah.

Namun, situasi diprediksi akan berbalik pada kuartal kedua tahun ini. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran akan kenaikan harga BBM dunia. Kondisi ini justru dipandang sebagai momentum bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik guna menghindari beban biaya bahan bakar yang semakin tinggi. (Ant/Z-1)

Catatan Redaksi: Kenaikan harga BBM akibat konflik global seringkali menjadi katalisator utama percepatan adopsi teknologi ramah lingkungan di sektor transportasi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya