Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA ialah bangsa yang terus menjadi. Indonesia bukanlah warisan beku dari masa lalu yang kita terima begitu saja di dalam lemari sejarah. Sebaliknya, keindonesiaan ialah sebuah becoming process, sebuah proses terus ‘menjadi’ yang tidak pernah selesai. Indonesia ialah ruang negosiasi yang dinamis, jembatan yang terus-menerus dibangun di atas dua pilar raksasa, yang sering kali menapaki ketegangan yang dinamis, yakni antara identitas keagamaan (Islam) yang bersifat universal-transenden dan identitas primordial (etnisitas) yang bersifat lokal-partikular.
Dalam ruang negoisasi itu, muncul pertanyaan, bagaimana menjadi muslim sekaligus menjadi Jawa, menjadi Madura, menjadi Betawi, menjadi Minang, menjadi Aceh, menjadi Bugis, dan sekaligus pula menjadi manusia Indonesia?
Tarian peradaban dalam temali keragaman yang rumit sekaligus paling indah di muka bumi. Tenun keindonesiaan ialah keajaiban sosiologis, merujuk pada pemikiran Benedict Anderson dalam karya monumentalnya, Imagined Communities (1983), bangsa ialah sebuah 'komunitas terbayang'. Indonesia ialah contoh paling relevan dari teori itu. Bayangkan, bagaimana mungkin ribuan pulau yang dipisahkan laut yang dalam, dihuni ratusan etnik dengan bahasa yang saling tidak mengenal satu sama lain, dapat bersepakat untuk menyebut diri mereka sebagai satu bangsa, yakni bangsa Indonesia. Anderson menekankan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada imajinasi kolektifnya. Kita tidak saling mengenal secara fisik dari Sabang sampai Merauke, tetapi putra-putri Indonesia 'membayangkan' memiliki nasib dan tujuan yang sama. Keajaiban itu terjadi karena Indonesia dibangun bukan dengan menghapus jati diri asal budayanya.
Orang Madura tidak perlu berhenti menjadi orang Indonesia. Orang Aceh tidak perlu berhenti menjadi Aceh untuk menjadi Indonesia. Orang Minang, orang Jawa, orang Melayu tidak perlu membuang tradisi mereka untuk menjadi bagian dari Republik ini. Di sinilah letak laboratorium peradaban itu: Indonesia ialah satu-satunya tempat universalitas Islam dan keragaman etnisitas tidak saling meniadakan, tetapi saling memperkuat dalam sebuah konsensus luhur, ikatan kebangsaan.
Kita ialah bangsa yang disatukan bahasa persatuan, tetapi tetap merayakan keberagaman bahasa ibu. Kita ialah bangsa dengan populasi muslim terbesar di dunia, tetapi tetap menjaga budaya, identitas sekaligus unsur lokalitas di dalamnya. Inilah laboratorium tempat Bhinneka Tunggal Ika
bukan sekadar slogan di cengkeraman burung Garuda, melainkan juga napas hidup dalam setiap detak jantung kewarganegaraan kita.
JALAN DAMAI ISLAMISASI
Sejarah mencatat bahwa Islam masuk ke Nusantara bukan melalui derap langkah kaki kuda pasukan tempur atau kilatan pedang penaklukan, atau bukan juga karena adanya gelombang imigrasi berskala besar. Islam hadir melalui apa yang disebut sejarawan David Van Reybrouck karena ciri egaliter yang memikat. Beberapa pendapat sejarawan dapat diketengahkan di sini terkait dengan penyebaran Islam di tanah Nusantara, Indonesia sekarang, yang dapat dirangkum melalui tiga pendekatan, yakni perdagangan, perkawinan, dan tasawuf.
Pertama, pendekatan jalur perdagangan, tokoh utamanya seperti JC van Leur dan Anthony Reid. Menurut Van Leur, sejak abad pertengahan kawasan Asia Tenggara sudah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional. Para pedagang India, Tiongkok, Persia, terutama dari Timur Tengah saling membangun kontak dagang dengan beberapa pelabuhan di kawasan Malaka dan Sumatra. Melalui jaringan perdagangan itulah terbuka jalan bagi penyebaran Islam, terutama di Malaka, Sumatra Utara, dan kemudian berkembang sampai ke pesisir timur Laut Jawa. Para pedagang muslim tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga pembawa identitas budaya dan agama. Di daerah pesisir mereka membentuk permukiman sendiri di dekat pelabuhan, mendirikan masjid sebagai tempat ibadah, dan membangun hubungan sosial dengan masyarakat lokal. Dari interaksi itulah para pedagang muslim mulai mengenalkan Islam secara gradual, bertahap, dan damai.
Kedua, pendekatan jalur perkawinan. Hal itu menandai hubungan yang lebih emosional dan biologis dengan penduduk lokal. Islam masuk ke unit terkecil masyarakat, yakni keluarga, dan pada akhirnya secara otomatis mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam struktur kekerabatan etnik. Hubungan dalam perkawinan melahirkan generasi baru dengan potret identitas ganda yang harmonis, secara biologis membentuk ikatan putra daerah dan secara spiritual menjadi muslim. Jalur itu menegaskan Islam tidak datang menghapus akar budaya seseorang, tetapi lebih membentuk jiwa bagi raga yang lama. Dapat dikatakan, jalur perkawinan itu ialah bagian dari pribumisasi Islam yang terus mendorong adanya asimilasi budaya.
Sebagaimana yang disampaikan Slamet Mulyana, interaksi hubungan perdagangan itu berkembang ke dalam jalinan kekerabatan melalui perkawinan, sebagaimana adanya perkawinan pedagang Arab dengan Putri Marah Perlak dan dari hasil pernikahan itu lahir Sayid Abdul Aziz yang kemudian ketika dewasa mendirikan Kasultanan Perlak pada 1161. Pada masa-masa itu, pelabuhan Perlak menjadi bandar utama ekspor lada di pantai timur Sumatra bagian utara. Ekspor lada memberikan banyak keuntungan sehingga pedagang-pedagang asing, seperti Mesir, Gujarat, dan Persia, datang ke pelabuhan Perlak dan menetap di situ, berinteraksi dengan penduduk lokal.
Ketiga, pendekatan jalur tasawuf. Para sufi memahami bahwa masyarakat Nusantara memiliki kedalaman spiritualitas, menyenangi yang mistis. Para sufi tidak memaksakan perubahan radikal secara seketika, tetapi melakukan pendekatan batiniah yang mampu menyentuh sanubari lintas etnik, dari pesisir Jawa hingga pegunungan di pedalaman Sumatra yang kemudian terus menyebar ke wilayah-wilayah lainnya. MC Ricklefs menyebut jalur tasawuf itu sebagai mystic synthesis, yakni perpaduan antara mistisisme dalam Islam dengan mistisisme Jawa yang berbaur dalam ruang kosmologis kebatinan. Hal itu membentuk intimitas nilai yang mendalam. Jalur tasawuf menghadirkan wajah Islam yang luwes, welas asih, dan penuh cinta (mahabbah).
Ketiga jalur di atas menegaskan Islam agama penuh rahmah yang mampu menyerap kearifan lokal masyarakat tanpa kehilangan esensi ketauhidannya. Jalur perdagangan, perkawinan, dan tasawuf di atas menjelaskan sedari awal karakter atau watak Islam di Nusantara yang moderat, toleran, inklusif, dan dinamis.
FONDASI DAN PROYEKSI KEINDONESIAAN
Dengan modal keislaman inklusif yang masuk ke Nusantara tersebut di atas, sudahlah tepat bagaimana para pendiri bangsa kita meletakkan rumusan dasar keindonesiaan dan kebangsaan kita secara inklusif pula, yakni Pancasila sebagai dasar bernegara.
Perjalanan hebat bangsa ini telah mampu membangun konsensus kebangsaan, sebagaimana dinamika konstitusional, risalah penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Dinamika konstitusional itu menjelaskan perdebatan mengenai relasi agama, etnisitas, dan negara ke dalam rangkuman inklusif dan moderat. Melalui kearifan para pendiri bangsa dan para intelektual muslim kontemporer, Indonesia berhasil merumuskan sebuah jalan tengah yang unik: sebuah negara yang tidak memisahkan agama dari ruang publik, tetapi juga tidak memformalkan satu agama sebagai hukum tunggal negara. Menurut Cak Nur, formula itu disebut sebagai konsensus kalimatun sawa (titik temu). Pancasila mendapatkan inspirasi dari Piagam Madinah, saat Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat kosmopolitan di atas fondasi kemajemukan.
Sebagai studi perbandingan dengan negara-negara dengan mayoritas penduduknya muslim, seperti Malaysia dapat dikategorikan sebagai ethnocratic welfare regime, negara memberikan banyak keistimewaan kepada etnik tertentu, yakni etnik Melayu, begitu juga Brunei Darusalam. Sementara itu, Pakistan berpusat pada ideologi Islam, semua kelompok etnik dipaksa masuk ideologi negara. Indonesia, sebagaimana dikemukakan Robert Hefner, menganut kewarganegaraan inklusif. Semua etnisitas, ras, dan kelompok sosial keagamaan memiliki kesetaraan sebagai warga negara yang dijamin di dalam konstitusi.
Dengan formula institusi dan prinsip kenegaraan inklusif, berbagai anasir sektarian, prasangka etnik, dan diskriminasi etnik sudah semestinya tidak mendapatkan tempat di Indonesia. Indonesia tidak melihat asal usul etnik, agama, ras, dan identitas apa pun sebagai prioritas. Indonesia melihat dengan cara pandang yang inklusif atas warga untuk memperoleh akses yang setara dalam meraih keadilan dan kesejahteraan.
Kita membayangkan masa depan dengan identitas keislaman tidak lagi dipertentangkan dengan identitas etnik dan identitas kebangsaan. Sebaliknya, Islam menjadi kekuatan resiliensi yang menjaga etnisitas kita dari sapuan arus globalisasi yang menghancurkan jati diri sebagai komunitas bangsa. Seorang muslim Madura, muslim Bugis, muslim Minang, muslim Melayu, atau muslim Aceh dan kekuatan keberagamaan berbasis etnisitas lainnya sangatlah penting untuk saling membangun jembatan dialog, saling memahami satu sama lain untuk menumbuhkan budaya multikultur dan pergaulan inklusif di lingkungan masyarakat.
Sangat bersyukur, fondasi yang kuat itu terus ditanami pemikiran keislaman visioner sehingga keindonesiaan dalam relasinya dengan keberagamaan dan etnisitas dapat tumbuh dengan sehat, seperti pemikiran Gus Dur dengan pribumisasi Islam, yakni kemampuan agama Islam untuk melakukan adaptasi kreatif dengan budaya lokal tanpa harus mengorbankan esensi akidahnya. Pemikiran Nurcholish Madjid dengan Islam wasyatiyah-nya, pemikiran Moeslim Abdurrahman dengan transformasi keislaman yang memperkuat aspek kelompok new mustadafin, pemikiran Kuntowijoyo dengan profetisasi keislaman yang mendorong umat Islam menjadi masyarakat industrial tanpa melupakan spritualitas-transendetalnya. Para generasi penerus pemikiran keislaman pantas meneladani mereka.
Pakar IPB Prof Ahmad Budiaman tegaskan pentingnya menjaga ekosistem hutan berdasarkan prinsip Islam dan Al-Qur'an untuk cegah bencana alam.
Zakat adalah instrumen penting dalam Islam yang berfungsi membersihkan harta sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial.
Penguatan inisiatif publik dan rumah ibadah sangat krusial dalam mewujudkan kedaulatan energi bersih.
Cek jadwal imsakiyah Jawa Barat Rabu 18 Februari 2026: Imsak pukul 04.30 WIB, Subuh 04.40 WIB, Magrib 18.15 WIB. Persiapkan sahur dan buka puasa dengan tepat.
Berikut jadwal imsakiyah Jakarta Rabu, 18 Februari 2026 lengkap dengan waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Catat waktu imsak 04.33 WIB dan buka puasa 18.18 WIB.
INDONESIA lahir dari rahim kemajemukan. Beragam suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi lokal bertemu dan membentuk kehidupan bersama
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
AWAL Oktober kemarin, saya berkesempatan hadir menjadi salah satu pembicara pada ajang the 4th PCINU Belanda’s Biennial International Conference di University of Groningen, Belanda.
KEMENTERIAN Agama Republik Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin atas komitmennya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.
Gen Z hidup di dua ruang sekaligus, yaitu dunia nyata yang penuh tuntutan dan dunia digital yang sarat perbandingan yang membuat ruang batin mereka mudah terdistraksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved