Nabung Rp30 Ribu per Hari, setelah 15 Tahun, Penjual Ikan Keliling Akhirnya Bisa Berangkat Haji

Lina Herlina
25/4/2026 16:15
Nabung Rp30 Ribu per Hari, setelah 15 Tahun, Penjual Ikan Keliling Akhirnya Bisa Berangkat Haji
Ilustrasi(MI/LINA HERLINA)

PENGHASILANNYA tidak sampai Rp100 ribu per hari. Namun Asis Deng Lipung, penjual ikan keliling asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, membuktikan bahwa berhaji bukan hanya milik orang kaya. Dengan disiplin menabung selama lima tahun, ia bersama istri dan mertuanya kini bersiap terbang ke Tanah Suci.

Asis Deng Lipung tidak pernah menyangka bahwa sepeda bawaannya yang biasa mengantarkan ikan dagangan kini mengantarkannya ke Asrama Haji Embarkasi Makassar

Sabtu (25/4) pagi pukul 08.00 Wita, ia tiba dengan koper kecil dan senyum lelah yang penuh syukur.

Penghasilannya sebagai penjual ikan keliling hanya sekitar Rp100 ribu per hari. Dari jumlah itu, ia harus memutar kebutuhan dapur dan biaya sekolah dua anaknya. Namun, setiap hari ia menyisihkan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu.

Lima tahun menabung. Hasilnya? Pada 2010, ia berhasil mendaftarkan dirinya, sang istri, dan mertua.

“Niat sudah lama. Ekonomi sering jadi tantangan, tapi saya coba terus,” ujar Asis singkat.

Perjalanannya tak mulus. Saat namanya keluar sebagai calon jemaah haji 2026, ia sempat kaget karena dana pelunasan belum cukup. Ada juga tunggakan administrasi saat pendaftaran.

Ia sudah tidak sanggup menceritakan dengan detail. "Saya selalu ingin menangis, tapi sekarang saya ingin tersenyum saja menghadap ke rumah Allah," serunya.

Tapi satu per satu hambatan itu ia selesaikan, tanpa banyak cerita dramatis.

Malam ini, pukul 20.20 Wita, Asis dijadwalkan terbang ke Arab Saudi. Ia tergabung dalam kloter 7 bersama 387 calon jemaah haji asal Gowa.

Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gowa, Alim Bahri, mengatakan rata-rata jemaah dari daerah mereka menunggu sekitar 15 tahun untuk bisa berangkat tahun ini.

“Ini tahun antrean panjang, tapi semangat mereka luar biasa,” ujarnya.

Kisah Asis bukan tentang air mata atau kemiskinan yang mengharukan. Ini tentang rutinitas kecil yang dilakukan bertahun-tahun,  memotong ongkos rokok, mengurangi jatah makan siang, dan tetap berjualan di terik atau hujan. 

Hasilnya, ia, istri, dan mertuanya kini berdiri di gerbang embarkasi, menunggu panggilan terbang.  (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya