Bocah 12 Tahun di Tasikmalaya Meninggal setelah 25 Hari Berjuang Lawan Bisa Ular Weling

Adi Krtistiadi
23/4/2026 18:54
Bocah 12 Tahun di Tasikmalaya Meninggal setelah 25 Hari Berjuang Lawan Bisa Ular Weling
Pasangan Andis Kuswara dan Siti Hindun tengah menunggu anaknya dalam perawatan di RSUD KHZ Musthafa setelah digigit ular weling.(Dok. MI)

NASIB malang menimpa DK, seorang bocah berusia 12 tahun asal Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. Setelah berjuang melawan racun ular weling selama 25 hari di rumah sakit, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (22/4) pagi.

Peristiwa tragis tersebut bermula pada Minggu (29/3) malam. Saat itu, DK sedang tidur terlelap di lantai rumahnya yang hanya beralaskan tikar bersama ibu kandungnya. Tanpa disadari, seekor ular weling berbisa mematuk tangan kanan bocah tersebut.

Kronologi Perawatan dan Kondisi Korban

Camat Padakembang, Dadan Ramdani, mengonfirmasi bahwa korban sempat mendapatkan perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan. Awalnya, DK dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KHZ Musthafa dan sempat dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).

“Korban telah menjalani perawatan intensif di Bandung selama 25 hari setelah dirujuk dari RSUD KHZ Musthafa. Namun, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Jenazah korban telah dibawa ke rumah duka dan dimakamkan pada Rabu malam,” ujar Dadan, Kamis (23/4).

Korban sempat menjalani perawatan selama 10 hari pertama di ICU RSUD KHZ Musthafa sebelum akhirnya dirujuk ke salah satu rumah sakit swasta di Bandung untuk penanganan lebih spesifik menggunakan alat bantu pernapasan (oksigen).

Sempat Menunjukkan Tanda Membaik

Ayah kandung korban, Andis Kuswara, menceritakan momen-momen terakhir sang anak. Menurutnya, kondisi DK sempat menunjukkan perkembangan positif pada Senin dan Selasa (20-21/4). Bahkan, DK sempat mengutarakan keinginannya untuk pulang ke rumah.

“Selama dirawat di Bandung, kondisinya sempat membaik dan dia minta pulang. Kami hanya bisa menenangkan dengan berkata nanti kalau sudah sembuh. Namun, pada Rabu pagi, kami mendapat kabar kondisinya menurun drastis hingga akhirnya meninggal dunia,” ungkap Andis dengan nada tegar.

Andis menambahkan bahwa pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian DK dan menganggap kejadian ini sebagai musibah yang tidak terduga.

Bahaya Gigitan Ular Weling

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada awal kejadian, DK dilaporkan tidak langsung mengeluh rasa sakit yang hebat. Hal ini sering terjadi pada kasus gigitan ular weling (Bungarus candidus) karena bisanya bersifat neurotoksin yang menyerang saraf tanpa menimbulkan bengkak berlebih di area luka.

Keluarga sempat membawa korban ke tabib kampung sebelum akhirnya disarankan untuk segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Keterlambatan penanganan medis pada gigitan ular berbisa tinggi seringkali berakibat fatal karena racun dapat melumpuhkan sistem pernapasan secara perlahan.

Kini, jenazah DK telah dikebumikan di tempat pemakaman umum setempat di Desa Cilampung Hilir, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya