Petani Kopi di Tangse Aceh Butuh Pelatihan Teknologi Terkini, Fakultas Pertanian USK Siap Gelar Pengabdian

Amiruddin Abdullah Reubee
14/4/2026 21:15
Petani Kopi di Tangse Aceh Butuh Pelatihan Teknologi Terkini, Fakultas Pertanian USK Siap Gelar Pengabdian
TEKS PHOTO: Muhammad Habibi, sedang memperhatikan jemuran biji kopi di halaman rumah warga Gampong Ulee Gunong, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

PETANI kopi di Kecamatan Tangse, Kecamatan Mane dan Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, butuh pelatihan budidaya kopi. Di era teknologi pertanian yang begitu maju sekarang ini mereka ingin peningkatan produksi, perbaikan kwalitas dan penambahan pendapatan dari hasil panen. 

Sesuai catatan yang diperoleh Media Indonesia, luas kebun kopi di Kecamatan Tangse sekitar 6.526 hektare (ha). Itu tersebar di 28 Gampong (desa) dan kawasan lereng pengunungan dataran tinggi itu. 

"Hendaknya hadir penyuluhan dan pelatihan petani untuk budidaya kopi sesuai teknologi pertanian terkini. Baik sistem budidaya intensif atau teknologi mutakhir lainnya," demikian antara lain dikatakatan tokoh masyarakat petani kopi Kecamatan Tangse, Zainuddin, kepada Media Indonesia, pada Selasa (14/4). 

Dikatakan Zainuddin, sekitar 5 sampai 10 tahun terakhir, petani kopi di Kecamatan Tangse, Kecamatan Mane dan Geumpang, kurang tersentuh pelatihan oleh pemerintah atau lembaga lainnya. Padahal teknologi budidaya kopi dunia sudah cukup maju dalam satu dekade terakhir. 

Sayangnya mereka terus tertinggal oleh perkembangan ilmu pengetahuan tentang pembibitan. Lalu pasif terhadap teknologi budidaya, pemeliharaan tanaman serta kalah dalam peningkatan hasil. 

"Berdasarkan pengalaman saja tidak memadai kalau tidak memiliki ilmu pengetahuan secara akademik" kata petani kopi yang juga aktivis lingkungan hidup itu. 

Disampaikan Zainuddin, tiga jenis tanaman kopi yang gemar ditanami petani setempat adalah Arabika, Robusta dan Liberika. Untuk Arabika dan Robusta rata-rata hasil produksinya sekitar 2,5 ton hingga 3 ton per hektare (ha), per tahun.

Sedangkan untuk Liberika kurang lagi yaitu tidak sampai 2,5 ton. 

"Kalau satu karung besar biji kopi Arabika atau Robusta baru baru panen, setelah bersih dapat 30 kilogram. Tapi berbeda dengan Liberika yang hanya dapat sekitar 20 hingga 25 kilogram saja" tutur Zainuddin yang juga Pawang Hutan Kabupaten Pidie. 

Adapun sesuai teknologi terkini tentang budidaya kopi dengan benar, sekarang hasil produksinya bisa meningkat lebih tinggi lagi. Misalnya untuk kopi Arabika bisa mencapai 4 ton per ha, Robusta 3,5 ton per ha dan Liberika bisa tembus 1,69 ton per ha per tahun. 

Menanggapi kondisi petani kopi di dataran tinggi Tangse, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Sugianto, melalui Media Indonesia mengatakan siap memberikan perhatian serius. 

Sebagai Dekan di Universitas Negeri terbesar dan tertua di Aceh itu akan meminta tim akademis atau dosen untuk membantu apa yang harus dilakukan untuk peningkatan pengetahuan petani kopi di kawasan lembah gunung dan  ngarai bukit nan dingin itu. 

Apalagi pihaknya pada tahun 1998 pernah melakukan pembinaan petani kopi di Kecamatan Geumpang. Kala itu khusus untuk jenis kopi Arabika. 

Sesuai hasil yang mereka peroleh kala itu, untuk jenis kopi Arabika paling cocok dan potensial di kawasan setempat. Tinggal saja pemetaan dan perkembangan terakhir, bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk peningkatan produksi hingga teknik pengolahan hasil. 

Adapun format pelatihan atau penyuluhan adalah menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Itu merupakan program resmi Universitas yang menghadirkan puluhan dosen atau akademisi dan mahasiswa. 

"Baik nanti saya coba komunikasikan dengan tim yang dulu. Rencana pengabdian terkait budidaya kopi hingga pengolahan. Nanti boleh minta info  desa mana yang cocok untuk kegiatan pengabdian. Semoga mendapat  hasil positif untuk petani," tutur Guru Besar yang Doktor Bidang Ilmu Tanah lulusan University of New South Wales,  Sidney, Australia itu. 

Penelusuran Media Indonesia, di Kecamatan Tangse, sejak awal April sedang memasuki musim panen kopi. Lokasi yang sudah memasuki musim panen kopi antara lain di Gampong (Desa) Ulee Gunong, Blang Dhot, Paya Guci, Keubon Nilam. Lalu disusul Gampong Ranto Panyang, Blang Pandak dan Blang Bungong dan Blang Malo. 

Karena itu setiap pagi, petani di kawasan pedalaman nan dingin itu sibuk pergi memetik biji kopi di kebun mereka. Kebun mereka sebagian besar di lereng gunung atau lembah ngarai. Bagi yang sudah mulai panen besar tentu mengongkosi para pekerja harian. 

Pemandangan indah juga menghiasi di halaman-halaman rumah sepanjang jalur Nasional Keumala-Tangse, yaitu warga menjemur biji kopi yang baru di panen itu dalam tikar terpal plastik. Ada juga yang di jemur di pelataran pinghiran jalan, halaman meunasah (musallah desa) dan lahan terbuka lainnya.  

Adapun harga gabah biji kering panen pada tingkat tengkulak di Kecamatan Tangse sekarang masing-masing adalah Kopi Robusta Rp65.000 per kilogram (kg). Lalu biji kopi Arabika Rp90.000 per kg dan biji gabah kopi Loberika Rp62.000 per kg. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya