Terminal LNG Serangan Pangkas Impor BBM

Media Indonesia
10/4/2026 17:36
Terminal LNG Serangan Pangkas Impor BBM
Ilustrasi.(Freepik)

RENCANA pembangunan terminal khusus (storage) Liquefied Natural Gas (LNG) berkapasitas 145.000 m3 di kawasan Pantai Serangan, Denpasar, Bali, dinilai sebagai langkah strategis nasional. Proyek ini diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) impor sekaligus memperkuat visi pariwisata berkelanjutan di Pulau Dewata.

Program transisi energi dari solar menuju LNG ini menjadi solusi atas tingginya beban konsumsi BBM di Bali. Berdasarkan data lapangan, konsumsi solar di Bali saat ini mencapai 500.000 metrik ton (MT) per tahun, menjadikannya salah satu konsumen solar terbesar di Indonesia. Dengan harga keekonomian saat ini, biaya yang dikeluarkan untuk pasokan solar tersebut mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp8,3 triliun.

Mendukung Asta Cita dan Ketahanan Energi

Peralihan ke LNG bukan sekadar efisiensi anggaran, melainkan selaras dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Targetnya adalah mengurangi impor BBM secara nasional hingga 20 persen.

Praktisi Bisnis Energi alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), Dicky Ahmad Gustyana, menjelaskan bahwa keberadaan storage LNG di Serangan dapat memberikan penghematan devisa yang signifikan bagi negara.

"Bayangkan, dengan storage LNG di Serangan, negara bisa menghemat hingga US$500 juta per tahun. Yang paling penting, LNG ini bukan komoditas impor yang rentan gejolak geopolitik. Ini murni dihasilkan dari bumi Indonesia, dari ladang Tangguh di Papua," ujar Dicky dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Analisis Ekonomi: Ketergantungan pada BBM impor sering menjadi bumerang bagi neraca perdagangan. Penggunaan LNG domestik melindungi ekonomi lokal dari guncangan harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah akibat krisis global.

Napas Segar bagi Pariwisata Bali

Dari aspek lingkungan, transisi ini menjadi napas segar bagi citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. LNG dikenal jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan solar yang memiliki tingkat polusi tinggi.

Udara yang lebih bersih diyakini menjadi modal utama untuk menjaga kenyamanan wisatawan mancanegara maupun domestik. Pengurangan penggunaan genset diesel di kawasan wisata akan berdampak langsung pada kualitas lingkungan.

"Bali ini etalase pariwisata Indonesia. Kalau udaranya kotor karena genset diesel di mana-mana, wisatawan bisa kabur. Transisi ke LNG bukan hanya urusan energi, tetapi juga urusan menjaga citra dan masa depan ekonomi Bali," tegas Dicky.

Manfaat Strategis Terminal LNG Serangan:

  • Kemandirian Energi: Menggunakan pasokan gas domestik dari Ladang Tangguh, Papua.
  • Efisiensi Anggaran: Mengurangi beban subsidi dan biaya keekonomian solar senilai Rp8,3 triliun.
  • Lingkungan: Menurunkan emisi karbon di kawasan wisata Denpasar dan sekitarnya.
  • Stabilitas Ekonomi: Mengurangi tekanan terhadap Mata Uang Rupiah akibat impor energi.

Dengan kapasitas penyimpanan mencapai 145.000 m3, terminal ini diharapkan menjadi jangkar energi bersih yang menjamin pasokan listrik dan kebutuhan industri pariwisata Bali di masa depan secara mandiri dan berkelanjutan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya