Intensitas El Nino di Jawa Timur Menurun, Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Terkendali

Faishol Taselan
08/4/2026 16:14
Intensitas El Nino di Jawa Timur Menurun, Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Terkendali
Ilustrasi(Antara)

Fenomena El Nino yang memicu kemarau kering di Jawa Timur menunjukkan tren penurunan sejak puncaknya pada 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kekuatan El Nino pada 2026 masih tergolong lemah berdasarkan parameter ENSO.

“Tahun ini terus melandai dari 2023, 2024, 2025, lalu 2026 ini nilainya masih 0, belum 1, sehingga El Ninonya lemah dari parameter ENSO,” kata Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, di Surabaya, Rabu (8/4).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan tingkat kekeringan dihitung melalui parameter El Nino–Southern Oscillation (ENSO), yakni pengukuran suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Pada 2026, nilai ENSO tercatat masih di angka 0 dan belum mencapai level 1.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, fenomena El Nino memiliki beberapa tingkatan, mulai dari lemah, moderat, hingga kuat. Di Jawa Timur, intensitas kekeringan akibat fenomena ini disebut mulai mengalami penurunan secara bertahap.

Fenomena El Nino dengan tingkat kekeringan kuat sebelumnya melanda Jawa Timur pada 2023 dan memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah serta menyebabkan kesulitan air bersih bagi masyarakat.

“Yang paling kering untuk wilayah Jawa Timur seperti yang sudah saya sampaikan terjadi pada 2023. Saat itu kita bekerja bersama-sama di Kaliandra untuk melakukan pemadaman melalui helikopter,” ujarnya.

Taufiq mengatakan setelah periode El Nino kuat pada 2023, parameter BMKG menunjukkan kondisi kekeringan tidak lagi berada pada level tinggi dan cenderung lebih hijau pada peta pemantauan, yang dikenal sebagai kemarau basah.

“Pada 2024 sudah mulai bervariasi dan tidak semerah 2023. Tahun 2025 juga lebih landai lagi, petanya semakin hijau,” tuturnya.

Ia menambahkan, nilai ENSO pada 2026 yang masih berada di bawah angka 1 diharapkan tidak berkembang menjadi El Nino moderat.

“Harapannya tidak sampai moderat. El Nino tetap berada pada kategori lemah saja,” katanya.

Meski demikian, Taufiq menegaskan langkah mitigasi musim kemarau oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetap perlu dilakukan guna menjaga ketahanan pangan serta mencegah kebakaran hutan dan lahan.

“Antisipasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah dilakukan secara masif untuk mengantisipasi hal tersebut,” jelasnya.

BMKG memprediksi fenomena ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kondisi netral hingga pertengahan 2026. Namun, El Nino diperkirakan berpotensi menguat menjadi kategori lemah hingga moderat menjelang akhir tahun dengan peluang sekitar 50–60 persen.

Karena itu, BMKG menilai potensi kekeringan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur sepanjang tahun ini.

“Kondisi ini menyebabkan musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur berpotensi lebih kering,” ujarnya. (FL/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya