Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KELANGKAAN APD (Alat Pelindung Diri) bagi para tenaga medis yang menangani pasien Covid-19, menjadi perhatian seorang Guru Besar Universitas Islam Indonesia. Tak ingin hanya sampai pada tingkat prihatin, Prof. Fathul Wahid, MSc. Ph.D, mencari peluang menciptakan alat pelindung diri yang dapat dibuat dan kemudian dimanfaatkan oleh tenaga medis baik di pusat layanan kesehatan, rumah sakit maupun tempat lainnya yang memerlukan.
"Mau membuat coverall, tidak ada mesin jahit. Jadi harus memilih jenis APD yang tidak memerlukan mesin jahit," kata Prof. Fathul Wahid, Minggu (29/3).
Akhirnya, tertuju pada pelindung wajah atau face shield. Jenis face shield medis yang dipilih ini relatif sederhana dan mudah pembuatannya. Face shield atau alat pelindung wajah ini, dibuat dari mika bening.
"Ada beberapa pilihan ketebalan. Namun, saya mendapat saran, yang kami pakai yang ketebalannya 0,3 milimeter, namun bisa juga menggunakan yang berukuran lebih tebal, 0,5 milimeter," terangnya.
Fathul Wahid menjelaskan, untuk mengefisienkan penggunaan mika, maka potongan dibuat berukuran 28 X 28 centimeter.Selain mika, bahan lainnya adalah busa ketebalan 2 centimeter, elastik lebar 3 centimeter, keling kancing. Bersama isteri, anak dan kemenakan, Fathul Wahid setiap hari mengisi waktu-waktu luangnya membuat alat pelindung wajah.
"Sehari, rata-rata kami bisa menghasilkan 100 alat pelindung wajah atau face shield," katanya.
Dikatakan, mika dan bahan lainnya sudah siap, peralatan sudah ada untuk merangkai face shield ini hanya membutuhkan waktu paling lama lima menit. Jika dihitung, imbuhnya, harga bahan untuk pembuatan satu face shield atau alat pelindung wajah ini ternyata hanya sekitar Rp5.000 per unit. Meski di luar alat pelindung wajah ini dijual dengan harga yang lebih tinggi lagi.
Alat pelindung wajah atau face shield ini, dimaksudkan untuk melindungi wajah khususnya masuknya percikan droplet lawan bicara dengan tenaga medis. Sebab selama ini diyakini penyebaran virus korona dari orang ke orang melalui percikan droplet. Fathul Wahid yang sehari-harinya adalah Rektor Universitas Islam Indonesia lebih lanjut memastikan, pembuatan alat pelindung wajah ini tidak sulit. Bahkan Fathul Wahid kemudian membagikan video tutorial cara membuat alat pelindung wajah melalui akun youtube.com https://youtu.be/sPTzuEOKGyo.
Alat pelindung wajah buatan Fathul Wahid bersama keluarga ini kemudian diberi label Tim57 ini, kini sudah banyak dipakai oleh tenaga medis di sejumlah puskesmas dan rumah sakit tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga di luar DIY.Berapa harga per unit? Fathul Wahid menegaskan, sama sekali tidak diperjual belikan.
baca juga: Blora Tambah Ruang Karantina dan Siapkan Anggaran Rp16 Miliar
"Kami donasikan kepada rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya yang memerlukan," terang Fachrul,
Ia juga berharap, dengan membagikan video tutorial ini, akan lebih banyak lagi masyarakat yang ikut peduli terhadap upaya pencegahan penyebaran virus korona. (OL-3)
Para ilmuan baru-baru ini telah menemukan virus corona baru pada kelelawar di Brasil yang memiliki kemiripan dengan virus MERS yang dikenal mematikan.
Hal itu meningkatkan kemungkinan bahwa virus tersebut suatu hari nanti dapat menyebar ke manusia, demikian yang dilaporkan para peneliti Tiongkok.
Pemberian berbagai bansos diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Saya beserta jajaran anggota DPRD DKI Jakarta turut berduka cita sedalam-dalamnya atas berpulang ke Rahmatullah sahabat, rekan kerja kami Hj. Umi Kulsum."
Para peneliti melengkapi setiap relawan dengan pelacak kontak untuk merekam rute mereka di arena dan melacak jalur aerosol, partikel kecil yang dapat membawa virus.
Mensos Juliari berharap bantuan ini berdampak signifikan terhadap perputaran perekonomian lokal.
Muncul istilah varian Cicada dalam perkembangan covid-19. Simak penjelasan mengenai status validasi dan karakteristik varian baru ini.
Tri Wibawa mengingatkan bahwa langkah pencegahan terhadap varian Cicada pada dasarnya tidak berbeda dengan upaya menghadapi Covid-19 secara umum.
Pakar UGM memastikan varian Covid-19 Cicada belum terdeteksi di Indonesia. Simak penjelasan mengenai gejala, asal-usul, dan efektivitas vaksinasi di sini.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved