Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKADEMISI Universitas Bengkulu, Abdul Rahman mengingatkan pemerintah daerah segera mengatasi pemicu banjir di Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu.
"Harus ada evaluasi aktivitas pertambangan di hulu sungai. Selama itu tidak diperbaiki, maka banjir lebih parah akan melanda Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu," kata Abdul Rahman, Senin (6/7).
Dosen yang saat ini meneliti daerah aliran sungai (DAS) untuk empat sungai di wilayah Bengkulu itu, mengatakan pembukaan lahan di hulu sungai untuk penambangan dapat dipastikan menjadi salah satu biang keladi banjir parah yang melanda daerah itu.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan di atas rata-rata, yaitu 182 dan 289 mm terjadi pada 24 dan 26 April lalu.Berdasarkan luas area tangkapan DAS Air Bengkulu di hulu, jika curah hujan 200 mm per hari, seluruhnya mengalir ke muara. Dalam kondisi normal seharusnya kenaikan permukaan air atau genangan hanya setinggi 20 cm. Namun yang terjadi ketinggian air di atas satu meter.
"Tanah di daerah hulu sudah jenuh, tidak menyerap air sama sekali. Sehingga seluruh air dialirkan ke muara dengan tipikal sungai di Bengkulu adalah pendek-pendek," kata dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu.
baca juga: Jumlah Korban Jiwa Banjir Bengkulu Menjadi 24 Orang
Prediksi Abdul Rahman bahwa ketinggian air seharusnya hanya 20 cm, bukan dua meter seperti yang terjadi saat banjir lalu, disebabkan hujan bercampur erosi.
"Erosi itulah yang kemungkinan besar menyebabkan banjir parah di Kota
Bengkulu," ujarnya menyimpulkan. (OL-3)
BENCANA banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat (Sumbar) menelan korban jiwa. Dua orang warga dilaporkan hanyut terseret arus deras.
Sekretaris BNPP RI, Komjen Pol. Makhruzi Rahman melakukan peninjauan ke wilayah terdampak banjir bandang di Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang
Kendaraan roda dua dan roda empat terjebak kemacetan akibat banjir yang disebabkan meluapnya drainase di Jalan Brigjen M. Yoenoes, Kendari.
Bencana yang terjadi dengan demikian bukan sarana memecah belah umat, apalagi provokasi gerakan-gerakan antikeindonesiaan.
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
GERAKAN Pemuda (GP) Ansor kembali mendistribusikan bantuan terhadap korban terdampak bencana banjir di Kabupaten Pekalongan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved