DKI Perluas Operasi Penangkapan Sapu-sapu, Libatkan Pemda Sekitar Jakarta

Mohamad Farhan Zhuhri
22/4/2026 16:45
DKI Perluas Operasi Penangkapan Sapu-sapu, Libatkan Pemda Sekitar Jakarta
Ikan sapu-sapu(Alodokter)

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta mulai mewacanakan untuk menjangkau wilayah hulu dengan melibatkan pemerintah daerah penyangga dalam pembasmian ikan invasi Sapu-sapu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi Jakarta Hasudungan A. Sidabalok menegaskan, langkah itu diambil agar pengendalian ikan invasif tersebut tidak bersifat parsial.

"Iya, kami mewacanakan melibatkan pemda sekitar untuk operasi penangkapan ikan sapu-sapu,” ujar Hasudungan, Rabu (22/4).

Menurutnya, saat ini koordinasi tengah dilakukan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), khususnya terkait revisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 tentang pengendalian ikan invasif.

Revisi itu dinilai penting agar kebijakan di tingkat pusat lebih aplikatif dan bisa diimplementasikan hingga ke daerah hulu sungai yang menjadi sumber sebaran.

“Kalau pemerintah pusat, cakupannya lebih luas, bisa menjangkau seluruh Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, Pemprov Jakarta masih menggunakan metode sederhana dalam menangani hasil tangkapan. Ikan sapu-sapu yang berhasil diangkat dari perairan untuk sementara dimatikan dan dikubur. “Sementara dikubur,” ucap Hasudungan singkat.

Sebelumnya, operasi penangkapan masif yang digelar serentak di lima wilayah kota pada 17 April 2026 mencatat hasil signifikan. Sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu atau setara 6,98 ton berhasil diangkat dari perairan Jakarta.

Namun, pendekatan di hilir saja dinilai belum cukup. Pakar ikan dari IPB University, Charles PH Simanjuntak, mengingatkan bahwa dominasi ikan sapu-sapu telah terjadi sejak hulu Sungai Ciliwung di wilayah Bogor.

Karena itu, ia mendorong langkah pengendalian dilakukan secara menyeluruh di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). “Physical extermination ini harus holistik di sepanjang DAS Ciliwung. Kalau musim hujan, ikan dari hulu akan turun lagi ke hilir,” ujarnya.

Charles juga menggarisbawahi aspek teknis yang kerap luput, yakni memastikan ikan telah mati sebelum dikubur. Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu memiliki daya tahan tinggi dan mampu hidup hingga 30 jam di luar air, bahkan dapat menggali tanah untuk kembali ke perairan.

“Jangan dikubur hidup-hidup. Mereka bisa menggali lubang dan bertahan karena mampu bernapas langsung dari udara,” katanya. (Far/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya