Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SENJA turun perlahan di wilayah utara Bekasi. Lampu-lampu mulai menyala, kendaraan melaju tanpa jeda di antara deretan rumah toko (Ruko) yang kian ramai.
Tak ada yang terasa istimewa, semuanya seperti kota yang hidup pada umumnya. Tapi bagi sebagian warga, suasana ini adalah sesuatu yang dulu tak pernah mereka bayangkan.
Perubahan itu dirasakan betul oleh Ika Kurnia Utami, 37, warga Bulak Macan Permai, Bekasi. Ia melihat kotanya tumbuh dengan wajah yang berbeda dari tahun ke tahun. Menurut dia, suasana Bekasi hari ini jauh lebih hidup dibanding masa lalu, ketika pilihan ruang publik dan tempat berkumpul masih terbatas.
“Dulu kalau mau cari tempat yang nyaman buat jalan atau kumpul, pilihannya tidak banyak. Sekarang sudah jauh berbeda, lebih tertata dan lebih modern,” ujar Ika pada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.
Bagi Ika, perubahan itu bukan hanya tampak pada deretan bangunan baru, tetapi juga pada cara warga menikmati kotanya. Jika dulu banyak orang harus menuju Jakarta untuk mencari suasana, kini Bekasi mulai menghadirkan ruang-ruang yang membuat warganya betah tinggal lebih lama di kotanya sendiri.
“Sekarang Bekasi terasa jauh lebih hidup. Mau makan, jalan, atau sekadar duduk santai juga sudah banyak pilihannya,” katanya.
Kesan itulah yang perlahan membentuk wajah baru Bekasi. Kawasan yang dulu mungkin hanya dilalui, kini berubah menjadi tujuan, tempat orang datang untuk beraktivitas, bertemu, dan menikmati waktu.
Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Summarecon Bekasi, yang dalam 16 tahun terakhir tumbuh menjadi salah satu pusat aktivitas di Kota Bekasi. Namun, di balik wajah modern yang terlihat hari ini, kawasan tersebut menyimpan cerita lama.
Summarecon Bekasi adalah kawasan kota terpadu yang dikembangkan oleh PT Summarecon Agung Tbk di Kota Bekasi, Jawa Barat. Pengembangannya dimulai sekitar tahun 2010, saat Bekasi mulai tumbuh pesat sebagai kota penyangga Jakarta dengan kebutuhan hunian modern yang semakin tinggi.
Melihat potensi itu, Summarecon menghadirkan konsep township yang memadukan tempat tinggal, area komersial, pendidikan, dan hiburan dalam satu kawasan yang tertata rapi. Salah satu tonggak penting dalam sejarahnya adalah hadirnya Summarecon Mal Bekasi pada tahun 2013, yang langsung menjadi pusat aktivitas masyarakat dan mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.
Sejak itu, Summarecon Bekasi terus berkembang lewat pembangunan klaster perumahan, ruko, ruang usaha, hingga berbagai fasilitas pendukung. Kini, kawasan ini dikenal sebagai salah satu simbol perkembangan modern Kota Bekasi, sekaligus bukti perubahan Bekasi menjadi kota hunian dan bisnis yang semakin maju.
Sejarawan Bekasi dari Universitas 45 (Unisma), Ali Anwar, menyebut area ini dulunya merupakan lahan rawa yang dikenal sebagai Rawa Bugel.
“Saya masih ingat, dulu ini rawa. Bahkan ada kerbau yang diternak di situ, dan mereka berenang untuk mencari makan,” kata Ali.
Ingatan itu masih melekat kuat dalam benaknya. Menurut Ali, kawasan tersebut dahulu berupa rawa yang cukup dalam. Di sekelilingnya memang sudah ada sawah, tanaman padi, serta kampung-kampung yang menjadi bagian dari lanskap Bekasi Utara.
Namun di bagian tengah, hamparan rawa itu menjadi ciri utama kawasan tersebut. Bagi warga yang tumbuh di masa itu, Rawa Bugel bukan sekadar nama tempat, melainkan bagian dari keseharian dan penanda alam yang khas.
Ali mengisahkan, dari kecil ia terbiasa melihat kerbau-kerbau yang diternak di kawasan rawa itu. Pemandangan itu, menurut dia, menjadi salah satu keunikan yang sulit dilupakan.
Kerbau-kerbau tersebut tidak hanya digembalakan di darat, tetapi juga dibiarkan masuk ke rawa dan berenang untuk mencari makan.
Bagi Ali, kenangan semacam itu menunjukkan bahwa kawasan yang kini tumbuh sebagai pusat aktivitas modern pernah menyimpan ekosistem dan cara hidup yang sangat berbeda.
Perubahan dari lahan rawa menjadi kawasan perkotaan, menurut dia, bukan hanya perubahan bentuk ruang, tetapi juga perubahan cara manusia berhubungan dengan tempatnya.
Dalam pandangan pengamat tata kota Yayat Supriatna, sebuah kawasan tidak cukup hanya dibangun sebagai deretan hunian. Ia harus berkembang sebagai bagian dari sistem kota yang lebih luas.
“Developer itu jangan sekadar membangun rumah, tapi juga membangun suatu kota yang punya kegiatan ekonomi,” ujar Yayat.
Menurutnya, kawasan yang berkembang harus mampu menghadirkan fungsi baru, baik sebagai pusat jasa, perdagangan, maupun penyangga kota utama, sehingga tidak sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi juga mengurangi beban kota besar di sekitarnya.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi dalam pengembangan kawasan, terutama dari sisi infrastruktur dan transportasi.
Menurut Executive Director Summarecon Bekasi, Magdalena Juliati, transformasi di Summarecon Bekasi memang dilakukan secara bertahap untuk membentuk kawasan yang lebih terintegrasi.
“Tujuan besar kami adalah semakin memperkuat Summarecon Bekasi untuk menjadi sebuah kota metropolitan,” ujar Magdalena.
Ia menjelaskan, pengembangan tidak hanya berfokus pada hunian, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Karena itu, berbagai fasilitas terus ditambahkan, mulai dari area komersial hingga revitalisasi kawasan.
“Kita lebih mempercantik wajah kota,” katanya.
Upaya tersebut dilakukan melalui penataan boulevard, peremajaan jalan, hingga pembaruan infrastruktur penunjang agar kawasan terasa lebih nyaman dan tertata bagi penghuninya.
Kini, kata dia, kawasan tersebut tidak hanya berkembang sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang hidup yang terus bergerak. Aktivitas ekonomi tumbuh, mobilitas meningkat, dan kawasan menjadi semakin ramai oleh berbagai kegiatan masyarakat.
Pada akhirnya, perubahan yang terjadi di kawasan ini bukan semata soal bangunan yang bertambah atau jalan yang makin tertata. Dari rawa yang dulu sunyi, kawasan ini perlahan tumbuh menjadi bagian dari Bekasi yang hari ini lebih hidup, lebih terhubung, dan semakin percaya diri dengan wajah barunya. (Z-10)
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa ancaman menggunakan senjata tajam saat penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan reklame ilegal di Bekasi Utara
Tanah yang merupakan milik Perum Jasa Tirta (PJT) II itu dibersihkan dari bangunan permanen dan semipermanen guna mengakselerasi proyek pembangunan infrastruktur jalan dan drainase
Kegiatan ini diintegrasikan dengan program lokal bertajuk Sepekan Mengejar Imunisasi (Penari).
Kebakaran hebat melanda SPBE Cimuning Bekasi, Rabu (1/4) malam. Sebanyak 12 orang luka-luka, belasan kendaraan hangus, dan puluhan bangunan terdampak ledakan gas.
Ledakan keras mengguncang Cimuning, Bekasi. Diduga berasal dari SPBE, api masih berkobar dan terdengar ledakan susulan. Warga panik, ambulans berdatangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mencatat sedikitnya 18 titik banjir dan satu rumah roboh di sejumlah wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved