12–14 Orang Meninggal Tiap Jam, TBC Masih Jadi Ancaman Serius di Indonesia

Agus Utantoro
06/4/2026 12:56
12–14 Orang Meninggal Tiap Jam, TBC Masih Jadi Ancaman Serius di Indonesia
Dokter spesialis anak, Rina Triasih.(MI/Agus Utantoro)

INDONESIA masih menghadapi angka kematian tinggi akibat tuberkulosis (TBC). Setiap jam, tercatat 12 hingga 14 orang meninggal karena penyakit tersebut, sementara Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC.

Dokter spesialis anak, Rina Triasih, mengungkapkan kondisi ini dalam podcast TropmedTalk yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia. “Ini sama bahayanya dengan COVID,” ujar Rina dalam keterangan tertulis yang diterima di Yogyakarta, Senin (6/4).

Ia menjelaskan, rendahnya kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu tantangan, karena TBC berkembang perlahan sehingga kerap dianggap tidak berbahaya. Padahal, gejala penyakit ini baru muncul 4–12 minggu setelah seseorang terinfeksi, yang berisiko menyebabkan keterlambatan diagnosis dan meningkatkan penularan.

Rina menyebutkan, jumlah kasus TBC di Indonesia diperkirakan mencapai 1.090.000 kasus. “Kondisi ini menegaskan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030,” katanya.

Menurut dia, peningkatan jumlah kasus juga dipengaruhi oleh membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Di sisi lain, pengendalian TBC masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketimpangan akses layanan kesehatan akibat faktor geografis hingga stigma di masyarakat. Banyak pasien enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis TBC atau kehilangan pekerjaan. “Keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” ujarnya.

PENDEKATAN KOMPREHENSIF
Untuk mengatasi hal tersebut, Rina menekankan pentingnya pendekatan komprehensif melalui strategi search, treat, and prevent, yang mencakup penemuan kasus aktif, pengobatan tuntas, serta terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.

Ia juga mengapresiasi inovasi Kementerian Kesehatan, seperti penggunaan rontgen portabel untuk mendeteksi kasus TBC di berbagai daerah. “Ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” katanya.

Selain itu, pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang terintegrasi dengan program cek kesehatan gratis dinilai dapat mempercepat deteksi dan penanganan.

Rina mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala TBC, seperti batuk lebih dari dua minggu, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Ia juga menegaskan bahwa TBC dapat disembuhkan dan bukan penyakit keturunan, sehingga stigma harus dihilangkan guna mendukung upaya eliminasi TBC di Indonesia. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya