Selat Hormuz Jadi Sorotan, IEA Ingatkan Risiko Besar bagi Ekonomi Dunia

Ferdian Ananda Majni
21/4/2026 16:03
Selat Hormuz Jadi Sorotan, IEA Ingatkan Risiko Besar bagi Ekonomi Dunia
Selat Hormuz.(Google Maps.)

KEPALA International Energy Agency (IEA), Fatih Birol memperingatkan bahwa sistem energi global saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Dalam wawancara dengan France Inter di kantor pusat IEA di Paris, Birol menyoroti bahwa ketergantungan ekonomi global pada sejumlah kecil aktor utama menjadi sumber risiko yang signifikan.

"Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh. Ekonomi global, saat ini bergantung pada sejumlah aktor yang sangat terbatas," katanya dilansir Anadolu, Selasa (21/4).

Ia menekankan bahwa ketidakstabilan di Selat Hormuz menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pasar energi dunia. Menurutnya, gangguan di jalur pelayaran tersebut dapat memicu dampak luas terhadap ekonomi global. Ia bahkan menggambarkan situasi tersebut sebagai absurd, tetapi nyata.

Birol juga menggunakan analogi untuk menjelaskan kondisi saat ini.

"Vasnya pecah. Dan ketika vas pecah, Anda tidak dapat memperbaikinya sepenuhnya," lanjutnya menandakan bahwa dampak krisis energi kemungkinan akan berlangsung dalam jangka panjang.

Ia menambahkan bahwa pasar energi sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, termasuk pernyataan dari tokoh politik seperti Presiden AS Donald Trump, yang dinilai turut memengaruhi ketidakpastian pasar.

Selain itu, konflik di Ukraina juga disebut sebagai faktor utama yang mengganggu pasokan minyak dan gas global serta mengubah rantai distribusi energi, khususnya di Eropa.

Meski menghadapi sanksi, Rusia tetap menjadi pemain penting dalam pasar energi dunia, yang berkontribusi pada volatilitas harga dan distribusi. Birol membandingkan kondisi saat ini dengan krisis minyak pada 1970-an, namun menilai situasi sekarang lebih kompleks karena berdampak tidak hanya pada minyak, tetapi juga gas, pupuk, dan petrokimia.

Ia memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memperparah inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, dengan dampak yang lebih berat bagi negara-negara berkembang di Afrika dan Asia Selatan.

Untuk kawasan Eropa, Birol menyebut beberapa negara seperti Prancis relatif lebih siap menghadapi krisis, meski tetap akan mengalami tekanan berupa kenaikan harga dan penurunan daya beli masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa pemulihan stabilitas energi global tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Menurutnya, diperlukan waktu setidaknya dua tahun untuk menstabilkan kondisi, mengingat kerusakan infrastruktur energi dan tingginya volatilitas pasar.

Di sisi lain, krisis ini dinilai dapat mempercepat transisi energi global. Birol menyebut energi terbarukan, tenaga nuklir, dan kendaraan listrik berpotensi menjadi sektor yang diuntungkan, meskipun beberapa negara mungkin akan kembali meningkatkan penggunaan batu bara dalam jangka pendek. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya