Petugas ICE Didakwa Todongkan Senjata, Mary Moriarty: Langkah Penting Akuntabilitas Federal

Thalatie K Yani
17/4/2026 09:49
Petugas ICE Didakwa Todongkan Senjata, Mary Moriarty: Langkah Penting Akuntabilitas Federal
Demonstrasi tolak ICE(AFP)

SEORANG petugas Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) resmi didakwa atas tuduhan penyerangan setelah diduga menodongkan senjata api ke sebuah kendaraan saat bertugas. Jaksa wilayah Minneapolis menyatakan, Kamis (16/4) bahwa ini merupakan kasus kriminal pertama yang menjerat agen federal dalam rangkaian operasi imigrasi besar-besaran di Minnesota.

Tersangka yang diidentifikasi sebagai Gregory Donnell Morgan Jr, 35, menghadapi dua dakwaan penyerangan tingkat dua. Saat ini, surat perintah penangkapan berskala nasional telah diterbitkan untuk pria tersebut.

Kronologi Kejadian di Jalan Raya

Insiden ini terjadi pada 5 Februari lalu di tengah pelaksanaan "Operation Metro Surge", sebuah tindakan keras imigrasi selama 10 minggu di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Menurut Jaksa Wilayah Hennepin, Mary Moriarty, Morgan saat itu mengemudikan SUV sewaan tanpa tanda pengenal federal di bahu jalan raya untuk menghindari kemacetan.

Ketika sebuah kendaraan lain mencoba menghalangi jalannya di bahu jalan, Morgan diduga menyejajarkan kendaraannya, membuka jendela, dan mengarahkan senjata dinasnya langsung ke arah pengemudi dan penumpang kendaraan tersebut. Korban yang merasa terancam kemudian segera menghubungi layanan darurat 911.

Dalam penyelidikan awal, Morgan mengaku mengeluarkan senjata api karena merasa terancam setelah kendaraan korban memotong jalurnya. Ia berdalih tindakannya dilakukan demi "keselamatan diri dan orang lain". Namun, jaksa menekankan kendaraan yang digunakan Morgan tidak memberikan indikasi apa pun sebagai kendaraan dinas ICE.

Komitmen terhadap Akuntabilitas

Dakwaan ini menjadi sorotan tajam di tengah ketegangan akibat operasi imigrasi yang memicu protes nasional. Sebelumnya, operasi ini sempat memicu kemarahan publik setelah penembakan fatal terhadap dua warga sipil, Renee Good dan Alex Pretti, serta melukai seorang migran asal Venezuela, Julio Sosa-Celis.

"Dakwaan terhadap petugas ini mencerminkan tonggak penting dalam upaya kami mencari akuntabilitas atas kerugian yang ditimpakan kepada masyarakat," tegas Mary Moriarty dalam konferensi pers.

Moriarty menambahkan pihaknya tidak akan berhenti hingga mendapatkan jawaban atas perilaku agen-agen federal di wilayahnya. "Kami tidak akan beristirahat sampai akuntabilitas ditegakkan di tempat yang seharusnya," tambahnya.

Latar Belakang Operasi Metro Surge

Operation Metro Surge diluncurkan setelah Presiden Trump mengutus Tom Homan ke Minneapolis untuk memimpin penguatan penegakan hukum imigrasi. Homan mengklaim operasi ini berhasil menahan banyak imigran gelap yang terlibat kejahatan kekerasan untuk dideportasi.

Namun, serangkaian insiden kekerasan oleh agen federal selama operasi ini telah memicu penyelidikan lebih luas oleh Proyek Transparansi dan Akuntabilitas setempat. Pihak ICE sendiri belum memberikan komentar resmi terkait dakwaan yang menjerat personelnya tersebut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya