Ramadan Suram di Masa Pandemi

MI
21/4/2020 02:50
Ramadan Suram di Masa Pandemi
(AFP)

MULAI buka puasa bersama yang ditiadakan hingga salat di masjid yang ditangguhkan, umat Islam di Timur Tengah bersiap puasa di bulan Ramadan yang suram di tengah ancaman pandemi virus korona baru (covid-19).

Jutaan orang di Timur Tengah kini menjalani pembatasan kegiatan, dari Arab Saudi dan Libanon, hingga zona pertempuran di Libia, Irak, dan Yaman.

Beberapa otoritas keagamaan negara, termasuk Mufti Besar Arab Saudi Abdulaziz al-Sheikh, memutuskan bahwa salat selama Ramadan dan Idul Fitri dilakukan di rumah.

“Hati kami menangis,” kata Ali Mulla, sang muazin di Masjidil Haram di Mekah. “Saya terbiasa melihat masjid suci yang penuh sesak dengan orang-orang di siang hari, malam hari, sepanjang waktu,” tambahnya.

Dalam beberapa minggu terakhir, kekosongan yang menakjubkan telah menyelimuti Ka’bah. Ibadah haji yang dilakukan pada akhir Juli kemungkinan juga akan dibatalkan untuk pertama kalinya dalam sejarah modern setelah Arab Saudi meminta umat Islam menunda sementara persiapan ibadah.

Mufti Besar Yerusalem dan wilayah Palestina, Muhammad Hussein, telah mengumumkan pembatasan ibadah serupa selama
Ramadan, juga menyarankan masyarakat agar  tidak melihat penampakan bulan baru atau sabit yang digunakan untuk memperkirakan awal Ramadan.

Pembatasan tersebut sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang meminta negara-negara menghentikan sejumlah besar orang berkumpul. Pembatasan tersebut juga sangat berdampak pada sejumlah usaha. “Saya telah menabung sejumlah uang untuk belanja Ramadan, tetapi kini saya belanjakan untuk membeli barangbarang yang dibutuhkan untuk karantina,” kata Younes, 51, yang bekerja di sebuah toko pakaian di ibu kota Suriah, Damaskus.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga telah meminta warga Iran beribadah di rumah selama bulan Ramadan. Di sisi lain, bagi banyak orang yang terjebak di rumah mereka di negara-negara yang dilanda perang seperti Libia, Ramadan masih menjadi waktu untuk berdoa, melakukan introspeksi, dan kebaikan. “Bagi saya, Ramadan telah datang lebih awal tahun ini. Selama jam malam ini, itu berarti lebih sedikit jam kerja, mirip dengan Ramadan,” kata Karima Munir, 54, warga Libia. (AFP/Nur Aivanni/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya