Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA petugas medis tengah berjuang merawat gelombang kedatangan para pasien yang terinfeksi Covid-19. Pada saat bersamaan, miliar orang diminta untuk menerapkan stay at home sebagai upaya menekan penyebaran pandemi virus korona tipe baru.
Dengan lebih dari 30 ribu jiwa terenggut oleh keganasan Covid-19, setiap orang di muka bumi tengah mendambakan satu hal yaitu vaksin yang bisa melawan Covid-19.
Sejak kemunculan awal pada Desember 2019 di Wuhai, Provinsi Hubei, Tiongkok, belum ditemukan obat yang bisa mengatasinya. Wabah Covid-19 yang menjadi pandemi dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Kini lebih dari setengah juta orang telah terinfeksi Covid-19 dan lebih dari 30 ribu orang meninggal.
Banyak pendekatan dilakukan secara dramatis dalam mengatasi Covid-19. Beberapa tim medis melihat efek positif dari obat-obatan yang ada dinilai cukup potensial diberikan kepada pasien Covid-19. Para tim medis bereksperimen dengan kembali menggunakan obat-obatan umum.
Baca juga : Wabah Virus Korona Serang Kru Kapal Induk AS Theodore Roosevelt
Di sisi lain, para peneliti bidang kesehatan dengan menggunakan teknologi mutakhir berusaha keras menghasilkan vaksin yang bisa menangkal Covid-19. Ternyata dalam waktu sekitar 60 hari, sekelompok peneliti menguraikan genetik dari virus korona tipe baru tersebut. Hasilnya, vaksin penangkal Covid-19 mulai diuji-cobakan ke manusia.
Ketua Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus telah memuji ‘sebuah pencapaian luar biasa’ atas hasil penelitian vaksin Covid-19. Para ahli telah memberi harapan besar bahwa vaksin akan siap digunakan dalam 18 bulan lagi.
Waktu 18 bulan memang bisa dinilai terlalu lama membuat mereka yang sedang dalam ancaman Covid-19 merasa putus asa.
Namun Seth Berkley, Ketua GAVI, Aliansi Vaksin, lembaga yang didirika Yayasan Bill & Melinda Gate, menegaskan bahwa untuk mendapatkan vaksin dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun hingga 15 tahun untuk bisa digunakan.
Mulai dari fase pengujian, perizinan, dan pembuatan vaksi dalam skala besar membutuhkan waktu lalu. Vaksin yang dihasilkan cukup cepat adalah vaksin Ebola yang membutuhkan waku lima tahun.
"Betapa beruntungnya kita mendapatkan respons imun yang baik? Pendekatan mana yang akan membuahkan hasil? Apakah akan terukur?" katanya dalam sebuah wawancara dengan organisasi TED minggu lalu.
Berkley mengatakan kepada AFP bahwa cara yang mungkin untuk mempercepat proses perizinan seperti dalam upaya menghasilkan vaksin Ebola. Jika telah menunjukkan mampu memulihkan pasien setelah uji klinis oleh para ahli medis, vaksin bisa langsung diproduksi.
"Bisa jadi ada wilayah diberikan vaksin yang masih eksperimen dengan persetujuan dan hal ini digunakan mengatasi pandemi sebelum vaksin menjadi produk yang berlisensi,” ujar Berkley.
"Kita perlu memastikan apa yang kita lakukan masuk akal, aman, dan memiliki kemanjuran. Saya tahu itu tampak seperti sebuah kemewahan yang kita tidak punya waktu lagi tetapi itu sangat penting," katanya. (AFP/OL-09)
Jangan panik jika jadwal vaksin anak terlewat. Dokter spesialis anak jelaskan prosedur catch-up immunization atau imunisasi kejar untuk lindungi buah hati.
WHO merekomendasikan transisi dari vaksin influenza quadrivalent ke trivalent karena hilangnya virus B/Yamagata. Simak penjelasan medis dan dampaknya.
Vaksin influenza trivalen kembali menjadi standar global setelah WHO merekomendasikan penghapusan komponen garis keturunan B/Yamagata.
AI dan teknologi genomik mempercepat diagnosis penyakit langka. Inovasi ini membuka akses pengobatan lebih cepat bagi jutaan pasien di dunia.
Taiwan melaporkan capaian Gold Tier WHO dalam eliminasi hepatitis C dengan diagnosis 90,2% dan pengobatan 92,6%, mendekati target global 2030.
Indonesia pimpin suara Global South dalam negosiasi WHO Pandemic Agreement 2026. Cek latar belakangĀ Uni Eropa dinilai hambat kesetaraan akses kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved