Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah bel berbunyi memecah kesunyian pemakaman ketika lima anggota persaudaraan amal dari Saint Eloi di Bethune melepaskan topi runcing mereka. Semua mengenakan jubah hitam, sarung tangan putih, dan juga masker.
Didirikan delapan abad yang lalu, badan amal ini melanjutkan misinya untuk memberikan penguburan yang layak bagi para tunawisma bahkan selama pandemi virus covid-19.
"Peran kami tetap sama. Terlepas dari status sosial orang yang meninggal. Kami melakukan hal yang persis sama," Robert Guenot, provost badan amal itu kepada AFP.
Ada 25 anggota sukarelawan Saint Eloi. Mereka mengubur hampir 300 orang mati setiap tahun. Namun wabah covid-19 mengubah beberapa hal. Contohnya, covid-19 telah menyebabkan pemerintah menetapkan karantina wilayah atau lockdown di Prancis. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Begitu pula dengan jumlah pelayat di pemakaman yang terbatas, kira-kira 20 orang. Ini semua memaksa organisasi tersebut untuk menyesuaikan tradisi dan ritualnya.
"Kami mengurangi kegiatan kami karena tidak ada lagi upacara keagamaan, tetapi kami juga mengurangi kehadiran kami. Sekarang hanya ada lima sukarelawan per layanan. Padahal biasanya 11 orang," kata Guenot yang berusia 72 tahun.
Baca juga: Prancis Laporkan 365 Kematian Akibat Covid-19 dalam 24 Jam
Mereka juga melakukan tindakan pencegahan agar tidak tertular covid-19. "Kami berusaha melindungi diri kami semaksimal mungkin. Siapa pun yang merasa sakit ditolak untuk ikut dalam layanan. Kami tidak mau ambil risiko," kata Patrick Tijeras, 55, yang menjadi anggota Saint Eloi sejak November lalu.
"Kami merasa bahwa kami memiliki nilai sosial," kata Tijeras. "Sama seperti orang yang sakit yang punya hak untuk dirawat, maka orang yang sudah mati memiliki hak untuk pelayanan yang bermartabat ini," tambahnya.
Pada suatu pagi baru-baru ini, suasana pemakaman sepi. Almarhum adalah seorang pria tunawisma berusia 34 tahun yang tidak memiliki keluarga atau teman yang dikenal. Di sekitar peti mati kayu berwarna terang, anggota badan amal itu berkumpul untuk mengheningkan cipta.
Begitu upacara berakhir, kelima pria itu berkumpul mengelilingi sebuah lingkaran yang digambar di tanah. "Saya berterima kasih kepada kalian karena menerima panggilan ini. Di masa-masa sulit ini, senang bisa melanjutkan apa yang telah kami lakukan selama 832 tahun," kata Guenot kepada anggota lainnya.
Di seluruh benua, keluarga-keluarga yang berduka harus mengatasi trauma tambahan akibat berbagai pelarangan atau pembatasa untuk menghentikan penyebaran pandemi, seperti aturan ketat yang membatasi perjalanan atau partisipasi dalam pemakaman.
Selama masa inilah, kata Guenot, peran asli persaudaraan dipulihkan. "Kami ingin terus memberikan sedikit dukungan dan kenyamanan kepada keluarga, yang tidak bisa lagi ditemukan satu dengan lainnya," kata Guenot.
Anggota lainnya, Pierre Decool, 66, mengatakan virus covid-19 membuat dia dan teman-temannya takut sekaligus sedih. "Tapi kami punya masker ini dan kami harus membantu orang lain," ujarnya.
Menurut Pierre, ini adalah situasi yang menyakitkan. "Nenek moyang kita juga mengalaminya, tapi kita akan melewatinya," pungkasnya. (AFP/OL-14)
Muncul istilah varian Cicada dalam perkembangan covid-19. Simak penjelasan mengenai status validasi dan karakteristik varian baru ini.
Tri Wibawa mengingatkan bahwa langkah pencegahan terhadap varian Cicada pada dasarnya tidak berbeda dengan upaya menghadapi Covid-19 secara umum.
Pakar UGM memastikan varian Covid-19 Cicada belum terdeteksi di Indonesia. Simak penjelasan mengenai gejala, asal-usul, dan efektivitas vaksinasi di sini.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved