Teknik Cuci Darah Jadi Harapan Baru Tangani Preeklamsia

Thalatie K Yani
30/4/2026 14:01
Teknik Cuci Darah Jadi Harapan Baru Tangani Preeklamsia
Ilustrasi(Magnific)

SEBUAH teknik penyaringan darah baru memberikan harapan bagi penanganan preeklamsia, gangguan tekanan darah tinggi pada kehamilan yang sering kali berakibat fatal. Selama ini, satu-satunya cara untuk menghentikan preeklamsia adalah dengan melahirkan bayi, meski usia kandungan belum cukup bulan.

Berdasarkan studi percontohan yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine pada Senin (27/4), terapi baru ini dinyatakan aman bagi ibu hamil maupun janin. Meskipun masih dalam tahap awal, data menunjukkan bahwa pengobatan ini mampu menurunkan kadar protein plasenta tertentu yang menjadi pemicu penyakit tersebut.

"Kami akhirnya berada di ambang pengembangan pengobatan yang ditargetkan untuk kondisi ini," ujar rekan penulis studi, Dr. Ravi Thadhani, seorang nefrolog dan kepala medis di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles.

Mencegah Kelahiran Prematur

Preeklamsia merupakan kondisi yang sangat berisiko. Jika tidak segera ditangani, ibu hamil bisa mengalami kerusakan organ hati, ginjal, hingga jantung. Kondisi ini juga dapat berkembang menjadi eklamsia yang memicu kejang, koma, hingga kematian.

Idealnya, persalinan dilakukan saat bayi mencapai usia 37 minggu. Namun, karena preeklamsia, banyak bayi harus lahir prematur, terutama di bawah usia 32 minggu, yang berisiko menyebabkan masalah pernapasan dan gangguan perkembangan. Dr. Thadhani berharap terapi ini bisa mencegah pemburukan penyakit sehingga dokter tidak terpaksa melakukan persalinan prematur.

Cara Kerja Terapi Apheresis

Terapi ini menggunakan teknik yang disebut apheresis. Darah pasien diambil, lalu disaring untuk membuang komponen tertentu sebelum dikembalikan lagi ke dalam tubuh. Dalam kasus ini, protein yang disaring adalah soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1).

Pada kehamilan normal, sFlt-1 berfungsi mengatur pembentukan pembuluh darah di sekitar plasenta. Namun pada pasien preeklamsia, kadar protein ini melonjak terlalu tinggi dan terlalu dini, sehingga merusak pembuluh darah.

Dalam uji coba terhadap 16 pasien dengan preeklamsia prematur (di bawah 34 minggu kehamilan), terapi ini berhasil menurunkan kadar sFlt-1 hingga hampir 17% pada setiap sesi. Hasilnya pun cukup signifikan bagi masa kehamilan:

  • Pasien yang mendapat terapi: Mampu mempertahankan kehamilan rata-rata hingga 10 hari setelah masuk rumah sakit.
  • Pasien yang tidak mendapat terapi: Rata-rata hanya mampu bertahan selama 4 hari sebelum harus melahirkan.

Tantangan ke Depan

Meski hasilnya menjanjikan, para ahli masih memperdebatkan peran sFlt-1. Dr. Lana McClements dari University of Technology Sydney mencatat bahwa tidak semua kasus preeklamsia dipicu oleh protein yang sama. Namun, ia setuju bahwa studi ini memberikan harapan bagi pasien preeklamsia onset dini yang memang memiliki kadar sFlt-1 tinggi.

Dr. Thadhani berencana melakukan uji klinis standar emas dengan skala lebih besar di masa depan. Fokus selanjutnya adalah memberikan terapi lebih awal dalam masa kehamilan.

"Langkah berikutnya adalah memulai (terapi) lebih awal agar kita bisa memberikan lebih banyak pengobatan dan menjaga penyakit tetap tenang," pungkasnya. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya